Jalan Emas

Akana.T
Chapter #14

Retakan yang Mulai Terlihat

Bab 14

Retakan yang Mulai Terlihat


Waktu kecil, aku pernah berpikir keluarga hancur karena pertengkaran besar.


Karena suara teriakan.


Karena pintu yang dibanting keras.


Karena seseorang yang akhirnya memilih pergi meninggalkan rumah.


Namun setelah tumbuh dewasa, aku mulai mengerti bahwa tidak semua keluarga retak dengan suara yang keras.


Sebagian retak secara perlahan.


Diam-diam.


Dimulai dari hal-hal kecil yang nyaris tidak terlihat.


Dari piring makan yang mulai disentuh setengah hati.


Dari tubuh yang semakin lelah tetapi tidak pernah benar-benar beristirahat.


Dari senyum yang tetap terlihat manis di depan orang lain, meski di belakangnya ada seseorang yang sedang memikul seluruh rumah seorang diri.


Dan seperti emas yang terus digesek sedikit demi sedikit, kadang sebuah keluarga tidak langsung patah.


Mereka hanya mulai menipis.


---


Pagi itu terasa berbeda dari biasanya.


Bukan hanya karena suara tangisan bayi yang seolah tidak berhenti sejak subuh, tetapi juga karena Kian Seng dan Mei Lan duduk diam di meja makan tanpa menyentuh makanan mereka sedikit pun.


“Kalian tidak makan?” tanya Tan Bun heran.


Selama ini porsi makan kedua anak itu memang tidak pernah banyak. Namun mereka selalu menghabiskan apa pun yang ada di atas piring.


Bukan karena lapar.


Melainkan karena Ah Lian selalu mengomel jika ada makanan tersisa.


“Apa kalian tahu petani susah sekali menanam padi?”


Atau—


“Apa kalian tahu papa sudah bekerja dari subuh sampai malam demi mencari sesuap nasi untuk kalian makan?”


Kalimat-kalimat seperti itu sudah cukup membuat rasa bersalah tumbuh di dada mereka bahkan sebelum benar-benar kenyang.


Namun pagi itu berbeda.


Tatapan Kian Seng dan Mei Lan bahkan terlihat enggan untuk sekadar melihat lauk di atas meja.


“Ma… boleh tidak pagi ini kami cuma minum susu?” tanya Kian Seng pelan.


Tan Bun langsung menoleh cepat.


Tatapannya berubah tegang.


Ia sudah membayangkan suara omelan Ah Lian memenuhi rumah.


Baginya, Ah Lian bukan sekadar ibu rumah tangga.


Ia adalah penjaga dapur keluarga Liem.


“Hei… apa kamu—”


Belum sempat kalimat itu selesai, suara Ah Lian terdengar dari dapur.


“Baiklah. Mama buatkan susu. Tunggu sebentar.”


Tan Bun langsung diam.


Keningnya berkerut.

Karena untuk pertama kalinya…


Ah Lian tidak mengomel.


---


Sesampainya di pelataran sekolah, langkah Mei Lan mendadak berhenti di depan gerbang.


Biasanya mereka akan berpisah di sana.


Mei Lan berjalan ke kiri menuju gedung sekolah dasar.


Sementara Kian Seng berbelok ke kanan menuju bangunan SMP.


Namun pagi itu Mei Lan hanya berdiri diam.


“Lan… kenapa?”


Kian Seng menyentuh dahi adiknya.


“Masih tidak enak badan?”


Mei Lan tidak menjawab.


Bibirnya tertutup rapat.


Tatapannya kosong.


Dan entah kenapa, pemandangan enam tahun lalu kembali muncul dalam ingatan Kian Seng.


Seorang anak laki-laki kecil berdiri diam di depan rumah.


Usianya belum genap empat tahun.

Lihat selengkapnya