Jalan Emas

Akana.T
Chapter #15

Ukuran yang Sama

Bab 15

Ukuran yang Sama


Setelah tumbuh dewasa, aku mulai mengerti bahwa bahkan emas pun tidak selalu dinilai dari beratnya saja.


Ada emas yang lebih murni.


Ada yang lebih keras karena dicampur logam lain.


Ada yang lebih mahal bukan karena jumlahnya lebih banyak, melainkan karena proses yang membentuknya.


Dan mungkin keluarga juga seperti itu.


Karena manusia tidak memikul beban yang sama.


Tidak menanggung luka yang sama.


Dan tidak mencintai dengan cara yang sama.


Mungkin karena itulah sesuatu yang terlihat adil di permukaan kadang justru menjadi hal paling kejam bagi sebuah keluarga.


---


Mei Lan membuka buku catatannya perlahan.


Kalimat yang ditulis gurunya di papan tulis masih tersalin rapi di sana. Ia membaca ulang pelajaran yang tadi dijelaskan di kelas.


Seorang ibu mempunyai tiga orang anak.

Anak pertama bertubuh gemuk, anak kedua sedang, dan anak ketiga kurus.

Sang ibu membeli tiga kaos berukuran M lalu membagikannya masing-masing satu kepada ketiga anaknya.

Apakah itu adil?


Sejak pulang sekolah, pertanyaan itu terus berputar di kepala Mei Lan.


Bukan karena sulit dijawab.


Melainkan karena entah mengapa, pertanyaan itu terasa terlalu dekat.


Terlalu mirip dengan suara-suara yang belakangan semakin sering terdengar di rumah.


Tentang pembagian.


Tentang hak.


Tentang siapa yang mendapat lebih banyak.


Dan siapa yang merasa mendapat terlalu sedikit.


Malam itu, percakapan orang dewasa kembali terdengar dari ruang keluarga.


Rumah mereka terlalu kecil untuk menyembunyikan suara.


“Aku cuma bicara soal keadilan,” ujar Tan Bun pelan.


Nada suaranya terdengar hati-hati, tetapi cukup jelas untuk sampai ke kamar.


“Sekarang aku juga sudah punya anak.”


Ruangan sempat hening sebelum ia melanjutkan.


“Kian Seng dan Mei Lan sekolah di tempat mahal. Biaya mereka besar.”


Ia menarik napas.


“Kalau dipikir-pikir… Jin Hao juga seharusnya mendapat bagian yang sama.”


Jemari Mei Lan langsung berhenti di atas buku catatan.


Di ruang depan, Tan Hwa tidak menjawab.


Ah Lian juga diam.


Tidak ada suara marah.


Tidak ada bantahan.


Namun justru karena itulah suasana terasa semakin sesak.


Sampai suara sandal terdengar dari arah dapur.


Nyonya Chen keluar sambil membawa sepiring potongan pir.


Begitu mendengar pembicaraan itu, wajah tuanya langsung berubah.


“Hah. Adil?”


Ia meletakkan piring di meja sedikit lebih keras dari biasanya.


“Kalau begitu kenapa tidak sekalian saja masukkan bayi umur satu bulan itu ke sekolahnya Kian Seng?”


Ruangan langsung sunyi.


“Biar benar-benar sama. Pakai seragam juga sekalian.”


Tatapannya mengarah lurus ke Tan Bun.


Tan Bun menghela napas.


“Mama Chen… maksudku bukan begitu.”


“Lalu bagaimana?”


Suara wanita tua itu mulai menajam.


“Kamu bicara seolah semua hal harus dibagi persis sama.”


Ia mengangkat tangan.


“Anak sekolah memang butuh biaya sekolah. Memangnya bayi bisa belajar matematika?”


Lin Yue yang sejak tadi menggendong Jin Hao akhirnya mengangkat wajah.


Senyumnya masih lembut seperti biasa.


Namun malam itu ada sesuatu yang dingin di baliknya.


“Niat Tan Bun tidak salah.”


Suaranya halus.


“Kami hanya memikirkan masa depan anak kami.”


Nyonya Chen mendengus.


“Kalau begitu kerja lebih keras.”


Tatapannya turun sekilas ke arah bayi.


“Bukan sibuk menghitung milik orang.”

Lihat selengkapnya