Jalan Emas

Akana.T
Chapter #16

Musim yang Singkat

Bab 16

Musim yang Singkat


Juni 1986


Waktu kecil, aku pernah berpikir emas yang berharga selalu hadir dalam bentuk yang besar.


Gelang tebal.


Kalung panjang.


Kotak beludru merah.


Namun setelah tumbuh dewasa, aku mulai mengerti bahwa yang membuat seseorang mampu bertahan sering kali bukanlah emas yang besar.


Kadang hanya serpihan kecil yang cukup untuk melewati satu hari lagi.


Dan dalam sebuah keluarga, kadang satu kabar baik yang datang di saat yang tepat sudah cukup untuk membuat orang lupa sejenak bahwa mereka sudah terlalu lama lelah.


---


Malam itu, rumah keluarga Tan Hwa akhirnya kembali dipenuhi aroma masakan hangat.


Ah Lian memasak lebih banyak dari biasanya. Sup ayam ginseng mengepul di tengah meja, sementara ikan kukus jahe memenuhi ruangan dengan aroma asin hangat yang menenangkan. Sejak sore, Mei Lan sudah bolak-balik mengintip dapur sampai Ah Lian akhirnya menegurnya sambil menahan tawa.


“Belum boleh makan. Tunggu semua lengkap dulu.”


Tak lama kemudian terdengar suara pintu depan dibuka.


Nyonya Chen masuk sambil menjinjing dua kantong plastik merah besar berisi apel dan jeruk.


“Aku dengar cucuku jadi anak paling pintar sekota!”


Belum sempat siapa pun menjawab, wanita tua itu langsung berjalan cepat menghampiri Kian Seng dan Mei Lan. Kedua tangan tuanya meraih mereka sekaligus dalam pelukan yang terlalu erat sampai Mei Lan terkekeh.


“Gi-ma… sesak…”


“Diam kau.”


Nyonya Chen menepuk kepala Mei Lan pelan sebelum menoleh pada Kian Seng.


Tatapannya berubah.


Bangga.


“Sini lihat Gi-ma.”


Kian Seng yang biasanya tenang mendadak terlihat canggung. Telinganya mulai memerah.


“Gi-ma…”


Namun wanita tua itu sudah lebih dulu memegang kedua pipinya.


“Selamat.”


Suaranya tidak keras.


Tetapi hangat.


“Kau bikin nama keluarga kita naik.”


Kian Seng langsung menunduk malu.


“Aku cuma belajar biasa…”


Nyonya Chen mendengus.


“Kalau biasa semua anak bisa juara. Bodoh sekali.”


Ah Lian yang melihat itu hanya tertawa kecil sambil diam-diam mengusap sudut matanya.


Sudah lama rumah itu tidak dipenuhi suasana seperti ini.


Tidak ada pesta besar.


Tidak ada tamu.


Tidak ada kerabat jauh yang datang membawa ucapan selamat.


Hanya makan malam keluarga yang sederhana.


Namun untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu dipenuhi ketegangan, rumah itu terasa sedikit lebih ringan.


Karena kemarin sore, Kian Seng pulang membawa sebuah surat dari sekolah.


Anak laki-laki itu menjuarai olimpiade matematika tingkat kota.


Dan sekolahnya memberikan beasiswa penuh.


Tan Hwa membaca surat itu dua kali sebelum benar-benar percaya.


Sementara Ah Lian langsung menutup mulutnya sendiri sambil tertawa kecil menahan tangis.


“Sekolahnya gratis…”


gumamnya pelan, seperti masih takut salah dengar.


Mei Lan langsung menarik lengan kakaknya.


“Berarti Ko Kian Seng nanti jadi orang kaya?”


Kian Seng menggeleng cepat.


“Belum tentu.”


“Kalau begitu belajar lebih pintar lagi,” sahut Nyonya Chen. “Biar nanti buka toko emas paling besar.”


Mei Lan langsung mengangkat tangan.


“Aku mau ikut!”


Wanita tua itu meliriknya singkat.


“Kau nanti jaga kasir saja.”


Mei Lan langsung berbinar.


Namun kalimat berikutnya segera menyusul.


Lihat selengkapnya