Bab 17
Etalase yang Tetap Menyala
Ada toko emas yang hancur bukan karena dirampok, melainkan karena orang-orang mulai melihat raknya kosong.
Di dunia pedagang emas, kepercayaan kadang lebih mahal daripada emas itu sendiri. Karena sekali orang percaya sebuah toko sedang goyah, mereka akan berhenti datang bahkan sebelum pintunya benar-benar tutup.
Waktu kecil, aku pernah berpikir keluarga bertahan karena cinta.
Namun setelah tumbuh dewasa, aku mulai mengerti bahwa sebagian keluarga tetap berdiri karena ada seseorang yang diam-diam memilih berkorban tanpa pernah membiarkan orang lain menyadarinya.
Dan sering kali, orang itu adalah ibu.
---
Malam semakin larut setelah makan malam selesai.
Suara piring yang dicuci terdengar pelan dari dapur belakang. Mei Lan sudah tertidur di kamar sambil memeluk boneka beruang lusuhnya, sementara Kian Seng masih duduk belajar di meja kecil dekat jendela.
Di ruang tengah, Tan Hwa duduk diam sambil memandangi parcel merah dari Lim Kok Wei yang belum disentuh siapa pun sejak tadi.
Satu per satu lampu rumah mulai dimatikan hingga hanya tersisa cahaya redup kekuningan di lorong belakang.
Ah Lian baru saja selesai mengelap meja makan ketika suara ibunya terdengar.
“Masuk sebentar.”
Nyonya Chen berdiri di depan pintu kamar Ah Lian sambil membawa segelas air hangat.
Nada suaranya terdengar biasa.
Namun Ah Lian langsung tahu ibunya ingin membicarakan sesuatu yang serius.
Begitu pintu kamar tertutup, wanita tua itu duduk di tepi ranjang tanpa banyak basa-basi.
“Barang itu bagaimana?”
Ah Lian terdiam sesaat.
Ia tahu barang apa yang dimaksud.
Emas curian.
Barang-barang yang dipisahkan Mei Lan malam itu.
Barang-barang yang sekarang disimpan di ruang rahasia dalam lemari besi toko mereka.
“Masih disimpan.”
“Belum dilebur?”
Ah Lian menggeleng.
“Tan Hwa bilang belum aman.”
Nyonya Chen menghela napas pendek.
Tatapannya turun ke lantai.
“Kalau terlalu lama disimpan juga bahaya.”
Suasana kamar kembali sunyi.
Di luar terdengar suara motor melintas di gang depan rumah sebelum kembali menghilang.
Ah Lian duduk perlahan di samping ibunya.
“Ma…”
Suaranya mengecil.
“Terima kasih.”
Nyonya Chen menoleh sedikit.
“Untuk apa?”
Ah Lian menunduk.
“Mama sudah bantu kami terlalu banyak.”
Ia menarik napas pelan.
“Kalau Mama tidak isi etalase waktu itu…”
Kalimatnya berhenti.
Dadanya terasa sesak.
Karena sampai sekarang ia masih ingat wajah Tan Hwa malam itu.
Wajah seseorang yang baru sadar bahwa sebagian besar barang di tokonya sudah tidak lagi aman untuk dijual.
Jumlahnya terlalu banyak.
Jauh lebih banyak daripada yang mereka perkirakan.
Bukan hanya satu atau dua baki.
Hampir seluruh sisi etalase bagian depan.