Bab 18
Anak yang Tidak Kembali
Waktu kecil, aku pernah berpikir bahwa emas yang paling berharga adalah emas yang paling sulit dibeli.
Namun setelah tumbuh dewasa, aku mulai mengerti bahwa yang paling sulit ternyata bukan membeli, melainkan melepaskan.
Karena ada orang yang menjual emas untuk bertahan hidup.
Dan ada orang yang melepaskan sesuatu yang jauh lebih berharga, lalu menghabiskan sisa hidupnya bertanya-tanya apakah keputusan itu benar.
Mungkin karena itulah kehilangan tidak selalu datang bersama kematian.
Kadang kehilangan datang pada hari ketika seseorang masih hidup, tetapi tidak lagi pulang.
---
Nama itu kembali memenuhi kepala Ah Lian malam itu.
Kian Tiong.
Dan seperti pintu tua yang selama bertahun-tahun dipaksa tertutup hingga akhirnya menyerah pada waktu, ingatan tentang hari itu perlahan terbuka kembali.
Kian Tiong baru berusia empat tahun.
Seorang anak laki-laki.
Di dalam keluarga mereka, itu bukan hal kecil.
Anak laki-laki dianggap sebagai penerus nama keluarga, garis yang tidak boleh terputus, alasan sebuah rumah tetap dianggap memiliki masa depan meskipun dapurnya hampir tidak berasap.
Dan tidak ada yang mempercayai hal itu lebih dalam daripada Nyonya Chen.
Pada masa itu, hidup mereka terlalu sempit untuk dibagi rata.
Beras dicampur agar cukup lebih lama.
Minyak dipakai setetes demi setetes.
Sementara uang yang dihitung Tan Hwa setiap malam selalu terasa kalah cepat dibanding kebutuhan yang terus bertambah.
Kian Seng masih kecil.
Ah Lian baru saja melahirkan Mei Lan.
Dan di antara semuanya, Kian Tiong adalah anak yang paling mudah digendong, paling jarang menangis, dan paling sering mencari tangan ibunya tanpa suara.
Hari ketika Nyonya Chen datang membicarakan soal adopsi, langit bahkan terlihat biasa saja.
Tidak ada hujan.
Tidak ada pertengkaran.
Hanya suara kipas tua yang berputar lambat dan bunyi uang receh di atas meja kayu.
“Kau punya dua anak laki-laki.”
Suara mamanya masih terdengar jelas dalam ingatan Ah Lian.
“Satu sudah cukup.”
Ah Lian tidak menjawab.
Bahkan untuk membantah pun, ia sudah terlalu lelah.
“Kakakmu tidak punya anak. Lebih baik mengadopsi anak keluarga sendiri daripada anak keluarga lain.”
Nyonya Chen berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada yang terlalu ringan untuk sesuatu sebesar itu.
“Anggap saja seperti umpan supaya rumah itu tetap punya penerus.”
Kalimat itu terdengar begitu mudah.
Seolah seorang anak kecil memang bisa dipindahkan seperti barang yang ditukar demi masa depan keluarga.
Di sudut ruangan, Tan Hwa duduk diam sambil menghitung uang receh.
Sejak tadi ia hampir tidak pernah mengangkat kepala.