Jalan Emas

Akana.T
Chapter #19

Wajah yang Tidak Bergerak Lagi

Bab 19

Wajah yang Tidak Bergerak Lagi


Dan malam itu, mama akhirnya mengerti—

ada emas yang dijual karena terpaksa, lalu dibeli kembali ketika keadaan membaik.

Tetapi ada hal-hal yang sekali dilepas dari tangan sendiri…

tidak pernah kembali meski seluruh hidup dipakai untuk menebusnya.


---


Setelah Nyonya Chen pulang, rumah kembali tenggelam dalam kesunyian.

Tan Hwa sudah tertidur lebih dulu di ruang depan. Televisi yang belum dimatikan memantulkan cahaya kebiruan redup ke dinding rumah, sementara dari kamar Lin Yue sesekali terdengar suara Jin Hao yang menangis kecil sebelum kembali tenang.

Ah Lian duduk cukup lama di tepi ranjang.

Ia tidak melakukan apa-apa.

Kedua tangannya saling menggenggam di atas lutut seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin keluar.

Namun semakin lama ia diam, semakin terasa bahwa malam itu tidak akan membiarkannya beristirahat.

Akhirnya ia berdiri.

Langkahnya pelan menuju lemari kayu tua di sudut kamar.

Pintu lemari berderit kecil saat dibuka. Tangannya masuk ke balik tumpukan baju lama sebelum berhenti pada sebuah album foto bersampul cokelat kusam.

Sudut-sudutnya mulai mengelupas.

Kain pelapisnya bahkan hampir lepas di beberapa bagian.

Ah Lian memegang album itu cukup lama sebelum kembali duduk di tepi ranjang.

Ia membuka halaman pertamanya dengan hati-hati.

Dan seketika.. waktu seperti bergerak mundur bertahun-tahun.

Foto hitam putih menempel miring di halaman kusam itu. Kian Seng dan Kian Tiong berdiri berdampingan di depan rumah lama mereka. Dinding papan di belakang tampak retak di beberapa bagian. Lantai semen terlihat basah seperti baru disiram air.

Kian Seng masih sangat kecil waktu itu. Tubuhnya kurus. Kaos oblong putih yang dikenakannya sudah terlalu longgar di bagian leher. Celana pendek lusuhnya bahkan tampak sedikit kebesaran.

Namun wajahnya tersenyum begitu lebar.

Satu tangannya merangkul pundak adik laki-lakinya dengan bangga.

Seolah sedang menjaga harta paling penting yang ia miliki.


Di sampingnya, Kian Tiong berdiri rapat.

Anak kecil dengan wajah bulat bersih dan mata besar yang terlalu tenang untuk usianya.

Rambutnya lurus halus. Sedikit panjang hingga menutupi ujung telinga. Poni depannya jatuh miring tidak rata seperti dipotong seadanya di rumah.

Tangannya kecil mencengkeram ujung kaos Kian Seng.


Dan meski foto itu sudah pudar,

Ah Lian masih bisa melihat jelas bagaimana anak itu tersenyum ke arah kamera.

Kecil.

Polos.

Percaya penuh pada dunia.


Jari Ah Lian perlahan terangkat menyentuh permukaan foto itu pelan.

Dingin.

Ujung jarinya membelai wajah kecil dalam gambar hitam putih itu perlahan.

Seolah sentuhan lembut itu bisa menembus waktu.

Namun yang tersisa kini hanyalah permukaan kertas dingin tanpa kehangatan.


Ah Lian tidak menangis.

Wajahnya datar.

Terlalu datar.

Dan justru karena itu terasa jauh lebih menyakitkan.


Ia membalik halaman berikutnya.


Foto lain muncul.


Kian Seng dan Kian Tiong duduk di lantai depan rumah sambil memegang es lilin.

Bibir Kian Tiong belepotan sirup.

Sementara Kian Seng tertawa terlalu keras sampai matanya hampir hilang.


Di belakang mereka terlihat ember cucian dan sandal-sandal berbeda pasangan berserakan dekat pintu.


Halaman berikutnya.


Foto keluarga.

Tan Hwa masih muda dan kurus, berdiri kaku di belakang kursi bambu.

Ah Lian duduk sambil menggendong Mei Lan bayi.

Kian Seng berdiri tegak mencoba terlihat dewasa.

Sementara Kian Tiong justru menoleh ke arah lain.

Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin.

Dan entah kenapa..

itu membuatnya terlihat hidup sekali.


Ah Lian berhenti cukup lama di halaman itu.


Karena ia sadar,

mungkin itulah foto terakhir mereka sebelum semuanya berubah.


Halaman berikutnya terbuka perlahan.


Dan di sana—

hanya tersisa bekas sudut hitam tempat sebuah foto pernah ditempel.


Kosong.


Ah Lian menatap halaman itu cukup lama.


Ia masih ingat foto apa yang dulu berada di sana.


Foto Kian Tiong setelah tinggal di rumah barunya.

Baju rapi. Rambut disisir licin.

Sepatu mengkilap.

Namun senyumnya kecil sekali.


Foto itu hilang bertahun-tahun lalu.

Entah dibuang.

Entah diambil seseorang.

Ah Lian tidak pernah bertanya. Tangannya perlahan menutup album itu kembali.

Namun pikirannya sudah terlalu jauh mengembara ke dalamnya...



---


Dua bulan berlalu setelah Ah Lian meninggalkan Kian Tiong.

Dan tidak ada satu pun yang benar-benar berubah. Semua terasa bergulir begitu saja.. dan seperti biasa, tanpa arah tujuan.

Kabar itu datang pada suatu siang yang terang.

Terlalu terang.

Seolah matahari sengaja menyingkirkan semua bayangan agar tidak ada tempat bagi seseorang untuk bersembunyi dari kenyataan.


Seseorang datang menyebut sebuah nama.


Lalu mengatakan sesuatu tentang sakit.

Tentang pergi.

Tentang dunia lain.


Dan perlahan—

sesuatu yang sebelumnya masih berdiri diam di dalam diri Ah Lian mulai runtuh tanpa suara.

Ia tidak langsung mengerti.

Bukan karena kata-kata itu sulit.

Melainkan karena ada hal-hal yang, ketika akhirnya diucapkan, tidak lagi terasa berasal dari dunia yang sama.


---


Ketika Ah Lian tiba, rumah kakaknya tetap seperti yang ia ingat.


Lantainya yang bersih, udara di dalam rumah terasa dingin dan rapi serta cahaya siang jatuh lurus di ubin mengilap tanpa debu.

Seolah rumah itu tetap menjadi tempat yang sempurna bagi seorang anak untuk tumbuh.


Namun di dalam rumah itu,...

terdapat satu hal yang tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan.


Lihat selengkapnya