Jalan Emas

Akana.T
Chapter #20

Etalase yang Terlalu Penuh

Bab 20

Etalase yang Terlalu Penuh


Di dunia toko emas, ada kalanya sebuah etalase sengaja diisi terlalu penuh. Bukan karena pemiliknya serakah, melainkan karena toko yang terlihat penuh membuat orang percaya bahwa semuanya baik-baik saja—usaha masih sehat, uang masih berputar, dan pemiliknya masih cukup kuat untuk berdiri menghadapi hari esok.


Padahal kadang-kadang, kilau yang paling meyakinkan justru dipakai untuk menutupi sesuatu yang mulai retak diam-diam.


Waktu kecil, aku pernah berpikir keluarga juga seperti itu. Selama meja makan masih ramai, selama lampu rumah masih menyala, dan selama semua orang masih duduk bersama, berarti semuanya baik-baik saja.


Namun setelah dewasa, aku mulai mengerti bahwa sebagian rumah terlihat utuh hanya karena setiap orang di dalamnya sibuk menutupi retaknya masing-masing.



---


Pagi itu suara pagar depan terdengar pelan sebelum matahari benar-benar naik.


Krek.


Tan Hwa yang sedang membuka kunci rolling door toko langsung menoleh. Seseorang berjalan masuk melewati halaman rumah dengan langkah berat.


Tan Bun.


Kemejanya kusut, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah seperti seseorang yang tidak tidur semalaman. Bau rokok bercampur alkohol bahkan sudah memenuhi udara sebelum ia benar-benar mendekat.


Tan Hwa mengernyit kecil.


“Semalam kau tidak pulang?”


Nada suaranya rendah. Tidak terdengar seperti omelan, melainkan seperti seorang kakak yang sejak tadi malam belum bisa tidur tenang.


Tan Bun berhenti melepas sandalnya, lalu tertawa pendek dengan nada sinis.


“Kenapa?” tanyanya sambil mengangkat tatapan. “Sekarang aku harus izin kalau keluar rumah?”


“Bukan begitu.”


“Lalu bagaimana?”


Suara Tan Bun mulai meninggi.


“Koko pikir cuma Koko yang bisa kerja buat toko ini?”


Tan Hwa terdiam.


Di usianya yang sudah tidak muda lagi itu, seharusnya Tan Bun sudah cukup dewasa untuk mengenal siapa kakaknya sendiri. Ia seharusnya tahu bahwa Tan Hwa bukan tipe orang yang suka merendahkan siapa pun. Namun pagi itu, semua kata-katanya terdengar seperti anak kecil yang terlalu lama merasa kalah hingga mulai melihat perhatian sebagai bentuk penghinaan.


Dan justru karena itulah Tan Hwa tak bisa berkata-kata menghadapinya.


Namun diam itu malah membuat emosi Tan Bun semakin naik.


“Sejak dulu juga begitu,” katanya sambil melangkah mendekat. “Apa karena Koko yang paling pintar? Apa karena semua orang selalu dengar kata-kata Koko?”


Napasnya masih berbau alkohol. Matanya merah. Namun di balik semua itu, Tan Hwa melihat sesuatu yang lebih berbahaya daripada mabuk.


Luka.


Luka seseorang yang terlalu lama merasa dipandang kecil.


“Atau sekarang Koko mulai takut,” lanjut Tan Bun sambil tersenyum miring, “kalau suatu hari nanti aku lebih berhasil daripada Koko?”


“Tan Bun,” suara Tan Hwa tetap rendah. Ia tidak ingin adiknya semakin tersesat dalam pikirannya sendiri.


Namun Tan Bun sudah tidak benar-benar mendengarkan.


Ia menunjuk ke arah toko depan.


“Lihat saja nanti. Aku akan bikin toko emas kecil ini jadi toko terbesar di kota ini.”


Di dapur belakang, Ah Lian menghentikan gerakan tangannya. Lin Yue yang sedang menggendong Jin Hao juga ikut diam. Namun tidak ada yang menyela, karena semua orang tahu bahwa saat Tan Bun mulai bicara seperti itu, apa pun yang dikatakan hanya akan terdengar seperti penghinaan baginya.


Tan Bun mendecak kecil lalu berjalan menuju kamarnya sambil menarik sebuah koper logam beroda di belakang tubuhnya. Koper yang biasanya Tan Hwa pakai untuk membawa emas dari supllier. Ia mengenalinya karena sudut kanan bawahnya yang penyok.


Tan Hwa sempat membuka mulut sesaat, namun ia mengurungkannya meski hatinya tidak tenang. Ia ingin bertanya apa isi koper itu dan dari mana asalnya. Namun sebelum satu kata pun keluar, ia teringat kembali tatapan penuh curiga adiknya beberapa detik lalu.


Akhirnya ia memilih diam.


Saat melewati ruang tengah, Tan Bun berpapasan dengan Mei Lan yang sudah berseragam rapi dan bersiap berangkat sekolah. Gadis kecil itu biasanya selalu menyapa pamannya dengan ceria, tetapi pagi itu suasana rumah terlalu mencekam meski hanya untuk mengucapkan salam.


Tak lama kemudian Kian Seng muncul dari belakang dan mengalungkan tas sekolah ke pundak adiknya tanpa banyak bicara.


Tan Bun berhenti sejenak melihat mereka. Senyum tipis muncul di wajahnya, tetapi tidak ada kehangatan di sana.

Lihat selengkapnya