Jalan Emas

Akana.T
Chapter #21

Cahaya dari Lemari Besi

Bab 21

Cahaya dari Lemari Besi


Dalam toko emas, barang yang paling dijaga belum tentu yang paling mahal.

Kadang yang paling dijaga justru barang yang keberadaannya tidak boleh diketahui terlalu banyak orang.

Dan selama bertahun-tahun, orang-orang yang menyimpannya mulai percaya bahwa selama lemari besi masih tertutup—

semuanya akan tetap aman.

Padahal yang mereka lupakan adalah:

rahasia tidak selalu keluar melalui pintu.

Kadang ia keluar melalui orang-orang yang tinggal di rumah yang sama.

Waktu kecil, aku berpikir rahasia selalu disembunyikan dari orang luar.

Aku baru mengerti kemudian…

rahasia paling berbahaya justru lahir ketika sebuah keluarga mulai saling menyembunyikan sesuatu di dalam rumah yang sama.



---


Malam itu rumah akhirnya sunyi.


Lampu ruang tengah sudah dimatikan sejak satu jam lalu. Suara televisi tetangga yang biasanya samar terdengar dari gang depan pun perlahan menghilang satu per satu.


Hanya suara kipas angin tua yang masih berputar pelan dari lorong rumah.


Tan Hwa menarik selimutnya menutupi bahunya. Hawa dingin perlahan merayap melalui pori-pori kain yang tak terlalu tebal itu dan menyusup melalui celahnya.

Meski ia berusaha keras untuk tidur... pikirannya terus melayang pada kejadian pagi tadi..


Tatapannya menempel kosong pada langit-langit kamar, sementara berbagai prasangka datang silih berganti memenuhi kepalanya.

Bayangan etalase toko yang mendadak terlalu penuh pagi tadi, bayangan tangan Mei Lan saat beberapa hari lalu memisahkan emas curian dari nampan bludru merah.


Ia sudah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin ia memang terlalu curiga.


Mungkin selama ini ia terlalu terbiasa memikul semuanya sendiri sampai tanpa sadar mulai melihat bahaya di mana-mana.


Namun semakin ia mencoba tidur…


semakin kuat perasaan tidak tenang itu tinggal di dadanya.


Akhirnya ia mengangkat kepala pelan.


“Ah Lian.”


Suara itu sangat lirih.


Namun Ah Lian yang ternyata juga belum benar-benar tidur langsung membuka mata.


“Ada apa?”


Tan Hwa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,


“Bangunkan Mei Lan.”


Ah Lian langsung membeku.


Tatapannya berubah.


“Sekarang?”


Tan Hwa mengangguk kecil.


“Aku cuma mau memastikan.”


Dan dari cara suaminya menghindari matanya… Ah Lian tahu lelaki itu belum berhasil menenangkan pikirannya sejak pagi tadi.


---


Beberapa menit kemudian, lampu kecil dekat lemari besi kembali menyala redup.


Mei Lan berdiri di depan meja kasir sambil memeluk boneka beruang lusuhnya dengan mata setengah mengantuk.


Rambutnya masih sedikit berantakan.


Tan Hwa berjongkok di depan anaknya.


“Maaf Papa bangunin kamu malam-malam.”


Mei Lan menggeleng kecil.


Tan Hwa menarik napas pelan sebelum mengeluarkan beberapa nampan emas dari dalam etalase baru.


Gelang.


Kalung.


Cincin.


Barang-barang yang dibawa Tan Bun.


“Papa cuma mau Mei Lan bantu lihat sekali lagi.”


Ah Lian berdiri tak jauh dari sana sambil memeluk kedua lengannya sendiri.

Lihat selengkapnya