Jalan Emas

Akana.T
Chapter #23

Tangan yang Masih Menarik Pulang

Bab 23

Tangan yang Masih Menarik Pulang


Ada emas yang nilainya tidak pernah benar-benar dihitung dari beratnya.

Melainkan dari siapa yang pernah ikut bertahan bersamanya saat hidup sedang paling sulit dijalani.


Waktu kecil, aku berpikir keluarga bertahan karena darah.

Karena nama yang sama.

Karena wajah yang mirip.


Namun setelah dewasa…

aku mulai mengerti bahwa beberapa orang akhirnya menjadi rumah—

bukan karena lahir dari ibu yang sama,

melainkan karena mereka tinggal cukup lama di sisimu saat dunia sedang terasa paling sempit.


Dan terkadang…

orang yang paling sering dianggap tidak berguna justru adalah orang yang diam-diam menjaga sebuah rumah tetap hangat tanpa pernah meminta dihargai.


---


Malam itu udara Golden Road terasa lebih hidup dibanding beberapa minggu terakhir.


Lampu toko-toko emas masih menyala terang di sepanjang jalan.


Sesekali suara televisi dari ruko tetangga terdengar samar keluar ke gang sempit.


Angin malam musim kemarau membawa aroma mie goreng, minyak panas, dan debu jalanan yang belum benar-benar turun sejak sore.


Di lantai bawah toko keluarga Liem, rolling door sudah ditutup setengah.


Namun lampu toko masih menyala.


Tan Hwa sedang menghitung buku nota di meja kasir.


Sementara Tan Bun duduk di atas bangku kayu sambil bersandar malas dengan segelas teh di tangan.


“Jadi sekarang anakmu sudah lebih pintar dari kita semua,” katanya tiba-tiba.


Tan Hwa mendengus kecil tanpa mengangkat kepala.


“Memangnya sejak kapan kau merasa pintar?”


“Minimal aku masih bisa hitung hutang pelanggan.”


“Itu karena hutangnya ke kau.”


Tan Bun tertawa. Tawa biasa.. namun sanggup mencairkan kebekuan yang selama ini ada di antara mereka.


“Kalau begitu aku memang berbakat bisnis.” lanjutnya lagi.


Tan Hwa memandang buku nota cukup lama.

Ada banyak hal yang selama ini ia pikir tidak perlu diucapkan.

Namun belakangan ia mulai sadar—

diam juga bisa terdengar seperti penolakan.


“Kau memang berbakat.” ujar Tan Hwa pada akhirnya dengan suara nyaris tak terdengar.


Bagaimanapun ia masih kesulitan untuk menggerakkan bibirnya... bahkan saat putranya sendiri mendapat beasiswa, ia hanya tersenyum. Tidak ada kata pujian yang keluar dari mulutnya, namun Ah Lian bisa melihat sorot matanya... tatapan seorang ayah yang sangat bangga terhadap anaknya.


Tan Bun langsung menoleh.


Ruangan mendadak hening seketika. Seolah mendengar sesuatu yang mustahil.


“Barang yang Kau bawa itu berkualitas tinggi namun harganya sangat bagus, jika dibandingkan dengan yang selama ini aku dapat…” lanjut Tan Hwa pelan.


Tan Bun mengerjap kecil.


“Berkat Kau... stok toko kita kembali seperti semula... Tidak... bahkan lebih lengkap dari sebelumnya.”


Tan Hwa bersandar pelan di kursinya. Tan Bun menatapnya lekat tak percaya pendengarannya.

“Aku sedang memujimu. Tidak bisakah Kau melihatnya?” tanya Tan Hwa yang mulai merasa risih dipandang sedemikian rupa.


Kalimat Tan Hwa membuat Tan Bun terdiam sesaat.


Bahkan Ah Lian yang sedang keluar membawa teh ikut berhenti sebentar.


Tan Hwa bukan tipe orang yang mudah memuji.


Apalagi mengaku kalah.


Namun malam itu—


lelaki itu melakukannya begitu saja.


“Maafkan aku yang selama ini terlalu kaku dan keras...” lanjut Tan Hwa dengan suara yang lebih tipis dan lebih nyaris tak terdengar.

Ia mengangkat wajahnya kini dan menatap adiknya. Setelah beberapa saat... sepertinya ia tak lagi malu seperti saat memulainya. Bahkan bebannya terasa berkurang.. dan udara di sekitarnya menjadi lebih ringan.


“Aku tidak pandai bicara. Tapi kalau selama ini kau merasa aku meremehkanmu…

itu salah.”


Tan Bun menunduk kecil sambil menggaruk tengkuknya.

Untuk pertama kalinya malam itu, senyum di wajahnya terlihat goyah.

Ia bergegas memalingkan wajah, tapi matanya sudah lebih dulu basah.


“Aku selalu bangga kepadamu... Tan Bun.” lanjut Tan Hwa.


Lihat selengkapnya