Jalan Emas

Akana.T
Chapter #24

Rumah yang Mulai Retak

Bab 24

Rumah yang Mulai Retak


Ada emas yang kilaunya terlalu gelap untuk disebut perhiasan.

Orang-orang di Golden Road menyebutnya emas hitam—

barang yang tetap bernilai tinggi di tangan pembeli,

namun diam-diam meninggalkan noda dalam hidup siapa pun yang menyentuhnya terlalu lama.


Di dunia toko emas, tidak semua kilau membawa keberuntungan.

Ada barang-barang yang justru semakin mahal nilainya, semakin gelap bayangan yang mengikutinya.


Karena beberapa emas tidak menghancurkan rumah lewat api atau darah.

Melainkan lewat seseorang yang tetap tersenyum hangat di meja makan…

sambil perlahan membawa kegelapan masuk ke dalam rumah itu sedikit demi sedikit.


Dan tanpa disadari siapa pun—

malam ketika keluarga Liem kembali tertawa bersama di bawah cahaya kembang api,

sepotong emas hitam telah lebih dulu diletakkan di tengah rumah mereka…

oleh tangan seseorang yang masih mereka anggap keluarga.



---


Pagi di Golden Road dimulai seperti biasanya. Udara masih membawa sisa panas musim kemarau sejak malam sebelumnya. Beberapa toko emas mulai membuka rolling door satu per satu. Suara besi bergesekan memantul di sepanjang gang sempit. Dari kejauhan, suara penjual cakwe dan sepeda motor bercampur dengan aroma kopi hitam yang keluar dari warung pojok jalan.


Di dapur, Ah Lian sedang menyiapkan bekal sekolah sambil sesekali memanggil Kian Seng agar tidak terlambat.


Mei Lan duduk di kursi kayu dekat meja makan dengan seragam sekolahnya yang masih sedikit kebesaran.

Tas kecilnya sudah tergantung di bahu.

Rambutnya dikepang rapi pagi itu.

Namun matanya masih terlihat sedikit lelah.


Semalam ia tidur terlalu larut.


Kian Seng sedang berdiri di depan cermin kecil dekat pintu sambil merapikan kerah seragamnya.


Sementara Tan Bun duduk santai sambil memegangi tengkuknya sendiri.


“Kepalaku sakit.”


“Itu akibat kau teriak paling keras semalam,” sahut Ah Lian tanpa menoleh.


Tan Bun mendecih kecil.


“Aku sedang merayakan masa depan anak jenius keluarga ini.”


“Kau bahkan lebih ribut dari anak kecil.”


“Itu namanya semangat.”


Kian Seng hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.


Sudah lama rumah itu tidak terasa seringan pagi ini.


Bahkan Tan Hwa terlihat lebih tenang dibanding biasanya.


Ia sedang memeriksa buku pesanan sambil sesekali menyeruput teh hangat.


Sesekali matanya melihat sisa batang kembang api di halaman depan.


Dan entah kenapa—


sudut bibirnya sempat bergerak kecil.


BRAK!


Suara rolling door dihantam keras dari luar membuat seluruh isi toko terkejut.


Ah Lian refleks menoleh.


Tan Bun langsung berdiri.


Mei Lan ikut mengangkat kepala.


Belum sempat siapa pun berbicara—


suara keras kembali terdengar.


“Buka pintunya!”


Suasana rumah mendadak berubah sunyi.

Tan Hwa perlahan berdiri dari kursinya.

Tatapannya langsung berubah tajam.

Ia melangkah menuju depan toko lalu mengangkat rolling door perlahan.


Beberapa polisi berdiri di depan ruko.

Wajah mereka serius.

Orang-orang dari toko sebelah mulai melirik dari kejauhan.


“Pak Tan Hwa?” tanya salah satu polisi.


“Saya.”


“Kami menerima laporan terkait peredaran emas hasil pencurian.”


Ruangan mendadak terasa dingin.


Ah Lian membelalakkan mata.


“Apa?”


Lihat selengkapnya