Jalan Emas

Akana.T
Chapter #25

Orang-Orang yang Tidak Mau Hidup di Bawah Bayangan

Bab 25

Orang-Orang yang Tidak Mau Hidup di Bawah Bayangan


Ada emas yang tidak dipalsukan dengan mencampur logam lain.

Melainkan dengan menukar tempatnya.

Dari luar—

beratnya sama.

Kilau dan kadarnya juga terlihat tidak berubah.

Namun sejak dipindahkan ke tangan yang berbeda,

nilainya mulai berubah menjadi sesuatu yang lain.


Di dunia toko emas,

orang-orang tahu bahwa barang yang paling sulit dibuktikan bukan barang palsu.

Melainkan barang asli yang sengaja diletakkan di tempat yang salah.


Waktu kecil, aku berpikir rumah hancur karena orang jahat masuk dari luar.

Aku baru mengerti kemudian…

kadang yang menghancurkan sebuah keluarga bukan orang yang membawa senjata.

Melainkan orang yang diam-diam memindahkan beban dari pundaknya sendiri—

lalu membiarkan orang lain mengira beban itu memang milik mereka sejak awal.


Dan saat semuanya akhirnya ditemukan—

sudah terlambat untuk menjelaskan siapa yang pertama kali meletakkannya di sana.


---


Beberapa minggu sebelumnya.


Pagi di Golden Road belum sepenuhnya ramai ketika Lin Yue berhenti di depan rumah besar milik Kok Wei.

Rumah itu berdiri di ujung jalan utama.

Lebih besar dibanding rumah-rumah pedagang emas lain di kawasan itu.

Pagar besinya tinggi.

Lantai terasnya mengkilap.

Dua pot tanaman mahal berjajar rapi di dekat pintu masuk.

Bahkan sebelum masuk—

rumah itu sudah terasa seperti tempat seseorang memamerkan keberhasilannya kepada dunia.


Seorang pelayan membukakan pintu tanpa banyak bicara.

Lin Yue melangkah masuk dengan tenang.

Di dalam rumah,

aroma teh hangat bercampur samar bau asap rokok memenuhi ruangan.

Jam dinding besar berdetak pelan.

Sinar matahari pagi masuk melalui jendela lebar dan jatuh tepat di atas meja kayu ukir di ruang tamu.


Kok Wei duduk di sana.

Masih mengenakan pakaian rumah.

Namun cincin emas besar di jarinya tetap menyala terkena cahaya matahari.

Tatapannya perlahan terangkat saat melihat Lin Yue datang.


“Duduk.”


Lin Yue duduk tanpa ragu.

Matanya sempat menyapu isi rumah itu sebentar.

Lemari kayu jati.

Lukisan mahal.

Patung giok kecil di sudut ruangan.

Semuanya seperti sengaja dipajang untuk menunjukkan satu hal—


Uang.


Kok Wei tersenyum kecil seolah memahami isi pikirannya.


“Orang miskin biasanya terlalu sibuk terlihat sederhana.”


“Orang kaya tidak punya alasan menyembunyikan apa yang mereka miliki.”


Lin Yue membalas tenang,


“Kalau memang benar-benar kaya.”


Tawa kecil keluar dari mulut Kok Wei.


“Tak heran aku suka bicara denganmu.”


“Mengapa kau memanggilku ke sini?” tanya Lin Yue langsung.


Kok Wei mengernyit kecil.


“Apa maksudmu?”


Tanpa menjawab, Lin Yue mengeluarkan secarik kartu nama dari tasnya lalu meletakkannya di atas meja.


Kartu nama milik Kok Wei.


“Bukankah ini tujuanmu yang sebenarnya?”


Tatapannya lurus menatap lelaki itu.


“Kau terus mengirim parcel ke rumah kami atas nama Tan Bun.”


Senyum tipis muncul di bibirnya.


“Kau ingin aku datang menemuimu.”


Beberapa detik ruangan itu sunyi.


Lalu Kok Wei tertawa tergelak.


“Kau memang cerdas.”


Tatapannya menyipit kecil.


“Dan aku tidak pernah salah menilai orang.”


Lalu lelaki itu mengambil sebuah kotak kayu kecil dari samping kursinya.

Dan meletakkannya di atas meja.

Bunyi tok pelan terdengar di ruangan itu.

Tatapan Lin Yue turun ke kotak tersebut.


“Setelah Tan Bun membawa pulang stok perhiasan yang ketiga kalinya…” ujar Kok Wei santai.


“Tukar semuanya diam-diam dengan isi kotak ini.”


Lin Yue membuka kotak itu perlahan.

Pantulan emas langsung terlihat di matanya.

Kalung.

Gelang.

Cincin.

Lihat selengkapnya