Bab 27
Rumah yang Tidak Lagi Sama
Ada emas yang tidak hilang ketika dicuri.
Tidak pecah ketika dijatuhkan.
Tidak pula lenyap ketika dilebur.
Ia hanya berubah bentuk sampai orang yang melihatnya tidak lagi mengenalinya.
Keluarga mungkin seperti itu.
Bukan selalu hancur karena satu peristiwa besar.
Kadang ia hanya berubah sedikit demi sedikit—
sampai suatu hari semua orang masih tinggal di tempat yang sama…
tetapi tak ada lagi yang terasa seperti rumah.
---
Pertengahan November 1986.
Hujan turun deras sejak sore, membasahi halaman kantor polisi hingga air mulai menggenang di sela-sela pelataran semen yang retak. Langit tampak gelap dan rendah, seolah seluruh kota sedang ditekan sesuatu yang berat. Udara dingin menempel sampai ke tulang, bercampur bau aspal basah dan sisa asap kendaraan yang lewat di jalan raya.
Namun Ah Lian tidak merasakan dingin apa pun.
Ia berdiri diam di bawah atap bangunan tua itu seperti seseorang yang jiwanya tertinggal jauh di tempat lain.
Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding beberapa bulan lalu. Tulang pipinya semakin menonjol. Kulit wajahnya pucat keabu-abuan, sementara kedua matanya tampak kosong tanpa cahaya, seperti seseorang yang terlalu lama menangis sampai akhirnya bahkan kesedihan pun ikut mati di dalam dirinya.
Air hujan memercik mengenai ujung rok dan sandalnya, tetapi ia tetap tidak bergerak.
Sampai seorang wanita tua datang mendekat membawa payung hitam besar.
Nyonya Chen.
Wanita itu membuka payungnya perlahan lalu merengkuh bahu putrinya yang dingin.
“Tunggu sebentar,” katanya pelan. “Kita cari angkot dulu.”
Ah Lian terdiam.
Angkot?
Kata itu terdengar asing di kepalanya.
Bukankah dulu mamanya memiliki mobil mewah dan sopir pribadi yang selalu siap mengantar ke mana saja?
Bukankah Nyonya Chen selalu duduk di kursi belakang dengan pakaian mahal dan tas-tas yang bahkan tak pernah tersentuh hujan?
Namun kini wanita tua itu berdiri di sampingnya di bawah hujan deras, memegangi payung tua yang bagian ujung kainnya sudah mulai robek.
Bibir Ah Lian bergerak sedikit, tetapi tak ada suara keluar.
Ia bahkan tak tahu apakah dirinya masih ingin bicara.
Tak lama kemudian, mereka naik angkot tua yang penuh bau lembap dan suara mesin kasar. Sepanjang perjalanan, Ah Lian hanya duduk diam sambil memandangi tetesan hujan yang berlomba turun di kaca jendela.
Kota itu masih sama.
Golden Road masih ramai.
Lampu toko emas masih menyala terang di tengah cuaca buruk.
Orang-orang tetap berjalan cepat sambil menundukkan kepala di bawah payung mereka masing-masing.
Dunia terus bergerak seperti biasa.
Seolah kehancuran keluarganya tidak cukup penting untuk membuat apa pun berhenti.
Setelah turun dari angkot, Nyonya Chen kembali membuka payung.
Mereka berjalan menyusuri jalan besar yang basah oleh hujan sebelum masuk ke dalam gang sempit yang asing bagi Ah Lian. Semakin jauh mereka melangkah, jalan semakin kecil. Rumah-rumah berhimpitan rapat. Selokan kecil di pinggir gang meluap oleh air hujan dan membawa bau lembap yang menusuk.
Langkah Ah Lian perlahan melambat.
Dalam sisa kesadarannya, ia tahu ini bukan jalan menuju rumah ibunya.
Bukan kawasan rumah besar dengan pagar tinggi dan lampu taman yang dulu begitu dikenalnya.
Nyonya Chen akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kecil bercat kusam. Dindingnya mulai mengelupas di beberapa bagian. Lampu terasnya redup kekuningan, berkedip pelan diterpa hujan.
Wanita tua itu menekan bel pintu.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Seorang remaja laki-laki muncul dari dalam rumah.
“Gi-ma…” panggilnya pelan.
Ah Lian perlahan mengangkat wajahnya.
Dadanya langsung terasa sesak.
Suara itu.
Suara yang begitu dikenalnya.
Kian Seng.