Jalan Emas

Akana.T
Chapter #28

Kilau yang Tidak Lagi Sama

Bab 28

Kilau yang Tidak Lagi Sama


Ada kilau yang kadang tetap bertahan—


bahkan setelah hidup yang dulu memantulkannya sudah lama hancur.


Dan justru karena itulah, beberapa cahaya menjadi terlalu menyakitkan untuk dipandang terlalu lama.


---


Akhir Desember 1986.


Golden Road dipenuhi suasana Natal.


Lampu warna-warni menggantung di sepanjang pertokoan. Pohon Natal besar berdiri di tengah jalan utama dengan ornamen kaca berkilau yang memantulkan cahaya ke mana-mana. Musik Natal terdengar samar dari toko-toko yang masih ramai menjelang akhir tahun.


Orang-orang tertawa.

Anak-anak berlarian sambil membawa balon.

Pasangan muda berjalan berdampingan di bawah payung.

Kota itu terlihat hidup.


Hangat.


Bahagia.


Dan untuk sesaat, pemandangan itu kembali mengisi pikiran Ah Lian yang sedang duduk di barisan penonton dalam gedung pengadilan.

Kilau ornamen Natal itu mengingatkannya pada pantulan emas di etalase toko mereka dulu.

Pada lampu kaca yang menyala hangat di atas kalung dan gelang mahal.

Pada suara pelanggan yang datang silih berganti.

Pada Tan Hwa yang sibuk melayani pembeli sambil sesekali menoleh padanya dengan senyum kecil.


Dulu…

ia benar-benar merasa dirinya bagian dari dunia itu.


Namun belum sampai sedetik Ah Lian berkedip—


“Tok!”


Suara palu hakim menghantam ruangan.


Sekali.


“Tok!”


Dua kali.


“Tok!”


Tiga kali.


Dan dunia itu runtuh sepenuhnya.


“Pengadilan menyatakan terdakwa Tan Hwa bersalah atas tindak pidana penadahan barang hasil kejahatan…”


Suara hakim menggema datar di ruang sidang yang dingin.


Ah Lian duduk membeku.


Kepalanya berdengung.


Tangannya perlahan mengepal di pangkuannya sendiri.


Sementara di depan sana, Tan Hwa berdiri diam dengan tubuh yang kini jauh lebih kurus dibanding beberapa bulan lalu.


Wajah lelaki itu pucat.


Bibirnya masih menyisakan luka samar yang belum benar-benar sembuh.


Namun anehnya, justru Ah Lian yang tampak lebih kosong dibanding dirinya.


“…dengan hukuman pidana penjara selama empat tahun serta denda sejumlah—”


Jumlah itu disebutkan.


Dan suara bisik-bisik langsung terdengar di beberapa sudut ruang sidang.

Bahkan untuk keluarga Liem di masa jayanya…

itu bukan angka kecil.

Ah Lian perlahan menundukkan wajah.


Empat tahun.


Empat tahun berarti Mei Lan akan tumbuh tanpa ayahnya.

Empat tahun berarti Kian Seng mungkin sudah menjadi lelaki dewasa saat Tan Hwa keluar nanti.

Dan empat tahun mungkin cukup untuk menghancurkan sisa keluarga mereka yang masih bertahan.


Di luar gedung pengadilan, gerimis tipis turun membasahi jalanan kota yang masih dipenuhi lampu Natal.

Orang-orang tetap berjalan melangkah di atas genangan air hujan.

Payung-payung terbuka beraneka warna,

Dunia yang masih sama...

Tapi hanya keluarganya yang berubah... 


“Aku sudah bantu urus dendanya.”


Suara Chen Guo Liang terdengar pelan di samping Ah Lian.


Lelaki itu berdiri dengan mantel gelap yang mulai terkena rintik hujan.

Nada suaranya tetap tenang.

Terlalu tenang.


“Usahaku sendiri akhir-akhir ini juga tidak berjalan lancar.. hanya ini yang bisa kubantu. Aku akan cari jalan untuk melunasi sisanya.”


Ah Lian tetap menatap jalanan di depannya,

“Tak apa... koko sudah banyak membantu.” ujarnya dengan nada dingin.


Guo Liang menatapnya sejenak sebelum kembali bicara.


“Ah Lian... ”


Ah Lian perlahan mengangkat wajah.


“Kian Seng mulai bekerja di tempatku bulan depan.”


Dadanya langsung terasa berat.


Lihat selengkapnya