Bab 29
Rumah yang Saling Kehilangan
Ada emas yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dibakar sekeras apa pun, dilebur sampai bentuknya hancur, atau terkubur puluhan tahun di bawah tanah—
kilau itu tetap tinggal.
Karena emas selalu bisa kembali menjadi sesuatu.
Namun manusia tidak seperti itu.
Ada kehilangan-kehilangan tertentu yang sekali merenggut sesuatu dari hidup seseorang…
tidak pernah benar-benar mengembalikannya lagi.
Dan yang paling menyakitkan bukan saat kita kehilangannya.
Melainkan saat rumah yang dulu dibangun untuk melindungi satu sama lain…
perlahan mulai saling meninggalkan.
---
Awal November 1988.
Ah Lian menatap hampa foto Tan Hwa.
Senyum lelaki itu masih sama seperti dulu.
Tenang.
Lembut.
Dan entah kenapa… justru karena itulah dadanya terasa semakin sesak.
Bagaimana seorang pria seperti dirinya bisa berubah sedingin itu?
Bahkan saat melihat Ah Lian menangis tanpa henti di hadapannya…
Tan Hwa hanya memandangnya sambil tersenyum kecil.
Tidak mendekapnya.
Tidak mengusap air matanya.
Tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja seperti biasanya.
“Ma…”
Suara Kian Seng terdengar pelan di sampingnya.
Anak lelaki itu menyerahkan dua batang dupa ke tangan Ah Lian.
Ah Lian termenung. Tangannya tak bergerak di atas pangkuannya.
Dan saat itulah asap tipis mulai membumbung di udara pagi yang dingin.
Dari belakang mereka, suara Nyonya Chen akhirnya terdengar lirih.
“Ah Lian…”
Perempuan tua itu menatap batu nisan di depan mereka cukup lama sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Ucapkan selamat tinggal pada suamimu.”
---
Rumah kecil itu kembali sunyi setelah mereka pulang dari pemakaman.
Nyonya Chen duduk diam di ruang tengah sambil memilah sayur yang dibeli kemarin. Kian Seng belum pulang kerja. Sementara Mei Lan duduk di dekat jendela dengan kepala menunduk, menjahit kembali tangan boneka kainnya yang mulai robek.
Ah Lian berdiri cukup lama di dapur tanpa benar-benar melakukan apa pun.
Tatapannya kosong.
Sesekali tangannya bergerak seperti hendak mengambil sesuatu, namun berhenti di tengah jalan.
Sudah beberapa hari ini ia seperti hidup setengah sadar.
Kadang lupa menaruh barang.
Kadang lupa mematikan kompor.
Kadang hanya duduk memandangi tembok sampai malam.
Nyonya Chen memperhatikannya diam-diam sebelum akhirnya membuka suara.
“Kau harus makan.”
Ah Lian tidak menjawab.
“Kalau kau terus seperti ini, tubuhmu yang akan sakit.”
Tetap tidak ada jawaban.
Perempuan tua itu menghela napas pelan.
“Juga... jangan perlakukan Mei Lan seperti itu. Bagaimanapun Kau tetap adalah ibunya.”
“Tan Hwa juga tidak akan tenang kalau melihatmu begini.”