Jalan Emas

Akana.T
Chapter #30

Benang yang Tidak Pernah Putus

Book 2: Mama... Aku mencintaimu


Bab 30

Benang yang Tidak Pernah Putus



Ada emas yang setelah dilebur tidak pernah kembali ke bentuk semula.

Namun itu tidak membuat nilainya berkurang.

Ia hanya berubah menjadi sesuatu yang lain—

membawa bekas dari panas yang pernah dilaluinya.

Manusia mungkin juga begitu.

Ada perpisahan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Bukan karena seseorang terus menangis—

melainkan karena hidup tetap berjalan, sementara sebagian hati mereka tetap tertinggal di tempat yang sama.


Dan setelah bertahun-tahun berlalu—

yang paling sulit bukan menerima bahwa seseorang mungkin tidak akan kembali.


Melainkan menyadari…

kita sendiri tidak pernah benar-benar berhenti menunggu.



---


Maret 2004


Gedung Aurora Fashion International berdiri menjulang di pusat kota.

Delapan lantai.

Dinding kacanya memantulkan cahaya matahari siang.

Di lantai dasar, deretan mobil Kijang Krista, sedan Timor, Corolla tua, dan beberapa mobil kantor berjajar memenuhi parkiran.


Di dalam lobi—

Musik pop awal 2000-an terdengar pelan dari speaker. Televisi gantung di sudut ruangan menayangkan MTV Asia dengan video musik yang dipenuhi transisi warna dan celana low-rise. Sementara para karyawan berlalu-lalang membawa map, sampel kain, dan gulungan desain.


Lantai enam—

Divisi Creative & Fashion Development sedang kacau.

Tumpukan swatch kain memenuhi meja.

Majalah mode luar negeri berserakan.

Sketsa-sketsa desain ditempel di papan besar.

Printer berdengung.

Telepon berdering.


Dan di balik dinding kaca ruang kerja—

seorang perempuan muda mengangkat telepon.

Wajahnya perlahan memucat.

Kemeja krem yang dikenakannya tampak sedikit kusut setelah seharian mondar-mandir antar divisi. Di dada kirinya tergantung kartu identitas perusahaan.


Wenny — Creative Development Assistant.


Beberapa detik ia hanya diam mendengarkan.

Lalu matanya membesar.

Tak lama setelah itu, ia meletakkan teleponnya dan langsung berlari keluar menuju lift.


Di depan pintu lift beberapa orang sudah menumpuk mengantre. Pandangan matanya terlihat gelisah memantau nomor lampu yang menyala di atas pintu lift seraya sesekali melirik arloji di tangannya.

Hingga akhirnya, ia meninggalkan antreannya dan berlari menuju pintu darurat, menyusuri anak tangga—

dan dengan napas tersengal-sengal ia berhenti sejenak.

Menatap ke arah jumlah anak tangga yang masih harus dilaluinya.


---

Di lantai tujuh Aurora Fashion International, musik berdentum dari speaker besar.

Lampu sorot menyapu panggung latihan.

Beberapa model berjalan bergantian di atas runway sementara staf berlarian membawa clipboard, jarum pentul, dan pakaian yang masih belum selesai diperbaiki.

Tiga bulan lagi Aurora Spring Fashion Gala 2004 akan digelar.

Bagi orang luar, tiga bulan terdengar masih lama.

Namun bagi orang-orang di lantai tujuh—

waktu itu terasa seperti hitungan mundur yang sudah dimulai terlalu cepat.

Karena tiga bulan berarti finalisasi konsep.

Revisi koleksi.

Pemilihan aksesori.

Fitting berulang.

Produksi.

Pemotretan.

Sponsor.


Puluhan keputusan kecil yang cukup salah satu terlambat—

untuk membuat seluruh pertunjukan runtuh sebelum sempat dimulai.


Dan seperti biasa—

tiga bulan menjelang gala selalu terasa seperti dunia sedang kehilangan bentuknya sedikit demi sedikit.


“Nomor tiga lebih cepat!”


“Gaunnya ketarik!”


“Mana sepatu koleksi B?!”


“Sound ulang dari awal!”


Suara-suara saling bertumpuk memenuhi ruangan. Di ujung runway, seorang perempuan berdiri diam sambil menyilangkan tangan.

Blazer abu-abu gelap membingkai tubuh rampingnya dengan potongan yang tegas.

Di baliknya, hem putih gading dengan kerah rapi terlihat sederhana tanpa detail berlebihan.

Celana kain hitam berpotongan lurus jatuh bersih hingga menutupi sebagian tumit sepatunya.

Tidak ada aksesori mencolok.

Tidak ada warna yang berusaha menarik perhatian.

Hanya jam tangan kulit cokelat tua di pergelangan tangan kirinya dan cincin tipis yang nyaris tak terlihat.

Rambut panjangnya disanggul sederhana.

Pensil masih berada di sela jemarinya.

Lihat selengkapnya