Jalan Emas

Akana.T
Chapter #31

Jalan yang Sedikit Lebih Panjang

Bab 31

Jalan yang Sedikit Lebih Panjang



Ada emas yang semakin berharga justru karena ditarik semakin panjang.

Dilewatkan berkali-kali melalui lubang yang semakin kecil—

dipaksa memanjang,

menipis,

berubah bentuk dari bongkahan yang dulu utuh.

Namun anehnya—

ia tidak putus.


Karena memang ada logam yang diciptakan untuk tetap menyambung meski terus ditarik menjauh.


Mungkin beberapa hubungan manusia juga begitu.

Mereka tidak selalu dekat.

Tidak selalu berjalan berdampingan.

Kadang bertahun-tahun hanya saling lewat di pinggir kehidupan masing-masing.


Tetapi entah bagaimana—

selalu ada sesuatu yang membuat mereka kembali berada di titik yang sama.


Dan sering kali— yang mengubah arah hidup seseorang bukan pertemuan besar.


Melainkan keputusan sederhana—

untuk menginap satu malam sebelum pulang.



---


Kian Seng mematikan mesin mobil di halaman belakang bengkel milik Chen Guo Liang dan menyandarkan punggungnya beberapa detik ke kursi. Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Ia melirik jam di dashboard.

Pukul 17.50.

Beberapa detik kemudian, tangannya meraih ponsel kecil di konsol tengah. Layar monokrom kehijauan menyala redup.


Ia menekan beberapa tombol yang sudah dihafal di luar kepala.

Nada sambung terdengar beberapa kali.

Lalu seseorang mengangkat.


“Halo?”


Suara Ah Lian terdengar pelan dari seberang.


Kian Seng menatap lurus ke depan.


“Ma.”


Sunyi beberapa detik.


Seperti biasa.


Tak ada sapaan panjang.


Tak ada pertanyaan berlebihan.


Hanya kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun.


“Hari ini aku ke Gresik.”


“Hm.” jawab Ah Lian singkat dari seberang.

Suaranya kecil .. nyaris tak terdengar.


“Vendor baru bisa ditemui besok pagi. Jadi aku menginap.” sambung Kian Seng.


Tak ada jawaban beberapa detik.


“Jangan tunggu makan.”


Ia diam sebentar sebelum menambahkan,


“Dan jangan tunggu aku.”


Sunyi.


Untuk beberapa saat hanya ada keheningan di antara mereka.


Lima belas tahun telah berlalu sejak Mei Lan menghilang, tetapi kebekuan antara Kian Seng dan Ah Lian tidak pernah benar-benar mencair. Mereka tidak lagi saling melukai. Tidak lagi bertengkar. Tidak lagi mengungkit masa lalu.


Namun mereka juga tidak pernah kembali seperti dulu.


Terkadang kerongkongan Kian Seng terasa tersekat setiap kali berbicara dengan mamanya.


Ingatan tentang kalimat yang pernah ia ucapkan dahulu terlalu sering kembali tanpa diminta.


“Aku membenci Mama.”


Kalimat itu kembali terngiang.

Sering.

Terlalu sering.

Dan semakin dewasa, semakin ia tidak mengerti apakah yang ia rasakan sebenarnya marah—

atau penyesalan.


Bayangan wajah Ah Lian saat itu kembali berkelebat di benaknya.

Tatapan yang tercengang.

Mata yang memerah.

Bibir yang bergetar.


Apakah mamanya marah?

Atau kecewa?


Apa pun jawabannya, Kian Seng merasa ia tidak cukup berani untuk mengetahuinya.

Tangannya masih menggenggam ponsel Nokia di telinga. Ia sempat berpikir untuk menutup telepon.


Atau mungkin menunggu sedikit lebih lama—

barangkali Ah Lian masih ingin mengatakan sesuatu.


Beberapa detik berlalu.


Lihat selengkapnya