Bab 32
Sambungan yang Tidak Terlihat
Ada emas yang tidak dibentuk sekaligus.
Ia dipotong.
Dibengkokkan.
Disusun sedikit demi sedikit.
Lalu di titik tertentu—
bagian-bagian yang terpisah itu dipanaskan sampai cukup dekat untuk saling menyatu.
Dari luar, sambungannya sering tidak terlihat.
Seolah sejak awal memang tidak pernah terpisah.
Padahal ada panas yang panjang di antaranya.
Ada waktu.
Ada jarak.
Ada bagian yang harus berubah bentuk agar bisa bertemu lagi.
Mungkin beberapa hubungan manusia juga begitu.
Bukan tidak saling memilih.
Hanya terlalu lama berdiri di tempat masing-masing sambil menunggu yang lain bergerak lebih dulu.
---
Beberapa saat kemudian—
Kian Seng dan Jia Ning kembali ke Losmen Tanjung setelah makan malam.
Malam sudah turun sepenuhnya.
Dari luar, bangunan losmen kecil itu tampak semakin tua dibanding saat pertama mereka datang. Lampu papan namanya berkedip pelan dengan beberapa huruf yang mulai redup. Cat krem di dinding luar mengelupas di beberapa bagian, sementara pot-pot tanaman di depan pintu tampak dirawat seadanya namun tetap hidup.
Dari lobi yang terbuka, cahaya lampu kuning hangat mengalir sampai ke halaman parkir.
Suara televisi tabung terdengar pelan dari meja resepsionis.
Seseorang sedang menonton sinetron malam.
Sesekali terdengar bunyi sendok beradu dengan gelas dari dapur kecil di belakang.
Udara membawa sisa aroma teh melati, kayu tua, dan hujan yang sempat turun sore tadi.
Tempat itu tidak mewah.
Bahkan jauh dari nyaman jika dibandingkan hotel-hotel tempat Jia Ning biasa menginap saat perjalanan kerja.
Namun entah kenapa—
malam itu semuanya terasa cukup.
Mungkinkah karena mereka tidak pernah benar-benar melepaskan tangan itu.
Saat berjalan keluar tadi.
Saat duduk makan.
Saat menunggu pesanan datang.
Dan sekarang—
saat kembali pulang.
Jia Ning masih menggenggam telapak tangannya seolah itu hal yang wajar.
Sementara Kian Seng sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
Jantungnya berdegup terlalu cepat untuk sesuatu yang seharusnya sederhana.
Ia tidak tahu apakah yang membuatnya gelisah adalah karena seharusnya ia melepaskan tangan itu—
atau karena sebagian kecil dirinya ternyata tidak ingin melakukannya.
Dan di tengah semua kebimbangan itu—
yang tersisa hanya kepasrahan.
Begitu mereka masuk ke lobi, suasana yang tadi lengang sudah berubah.
Beberapa orang berdiri berkelompok sambil membawa map plastik bening dan kotak alat kecil. Sebagian mengenakan kemeja kerja sederhana dengan kartu identitas menggantung di dada. Ada yang membuka catatan, ada yang membandingkan potongan logam kecil di tangan mereka, sementara beberapa lainnya tampak mendiskusikan teknik sambungan dan kadar campuran.
Di atas meja resepsionis tampak setumpuk brosur tipis yang dicetak di atas kertas krem.
Desainnya sederhana.
Tidak mencolok.
Namun cukup rapi untuk menarik perhatian.
Jia Ning yang berjalan di depan mengambil satu lembar secara refleks.
Di bagian atas tertulis:
SENTRA PENGRAJIN GRESIK
Di bawahnya terdapat ilustrasi beberapa perhiasan emas.
Bukan kalung besar dengan batu yang berkilau berlebihan.
Bukan gelang tebal yang memaksa dilihat.
Melainkan desain-desain kecil.
Kalung tipis dengan liontin menyerupai bunga liar.
Gelang emas dengan anyaman kawat halus.
Anting kecil berbentuk daun dan kelopak yang dibuat begitu ringan sampai hampir tampak seperti gambar pensil.
Tidak ramai.
Tidak mewah secara terang-terangan.
Namun justru karena itulah—
mata Jia Ning berhenti sedikit lebih lama.
Ia membalik halaman.
Pelatihan Teknik Emas Tradisional
18–20 Maret 2004
Workshop Sentra Pengrajin Gresik
Materi:
— Teknik Kawat Emas
— Filigree Tradisional
— Finishing & Restorasi Perhiasan
Instruktur:
M. Lan
Namun perhatian Jia Ning tidak lagi berada di tulisan.
Matanya kembali turun ke gambar-gambar perhiasan itu.
Tatapannya berubah.
Koleksi Silent Spring.
Entah kenapa—
desain ini terasa sangat dekat dengan apa yang selama berbulan-bulan berusaha ia cari.
Detail kecil.