Jalan Emas

Akana.T
Chapter #33

Suara yang Tetap Tinggal

Bab 33

Suara yang Tetap Tinggal


Ada emas yang meski dipoles berkali-kali—

tetap menyimpan bekas goresan yang tidak bisa benar-benar hilang.

Dari jauh ia tetap berkilau.

Tetap terlihat utuh.

Namun jika didekatkan—

akan terlihat garis-garis halus yang tertinggal dari sesuatu yang pernah mengenainya.

Dan anehnya—

semakin lama orang berusaha menghapus bekas itu,

semakin mereka takut lupa bentuk aslinya.


Mungkin ingatan manusia juga begitu.

Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Bukan karena terlalu indah untuk dilepas—

melainkan karena terlalu menyakitkan untuk dilupakan.

Dan setelah bertahun-tahun berlalu—

yang paling menakutkan bukan menyadari seseorang sudah pergi.


Melainkan menyadari—

wajahnya mulai kabur di dalam ingatan kita sendiri.



---


Mei Lan berdiri di antara kerumunan orang dewasa.

Udara dipenuhi aroma dupa yang samar namun pekat, bercampur dengan bau tanah basah dan bunga yang ditaburkan terlalu banyak di satu tempat. Di kejauhan, suara seorang bhiksuni melantunkan doa tanpa putus. Nadanya rendah dan tenang, tetapi entah kenapa justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

Ia tidak tahu sedang berada di mana. Atau mungkin sebenarnya ia tahu.

Hanya saja setiap kali mimpi ini datang, tempat itu selalu terasa sedikit berbeda.

Orang-orang tampak terlalu tinggi.

Wajah mereka kabur.

Dan semuanya bergerak lebih lambat dari biasanya.


Seseorang berdiri di sampingnya lalu menyentuh bahunya.

“Jangan lihat!”


“Anak kecil tidak boleh melihat.”


Suara itu terdengar seperti bisikan dari tempat yang sangat jauh.


Namun Mei Lan tetap mendongak.


Di depannya berdiri sebuah peti yang tutupnya belum tertutup sepenuhnya.

Dan di dalamnya—

papanya.

Tan Hwa terlihat seperti sedang tidur.


Begitulah cara Mei Lan kecil memahami pemandangan saat itu. Karena wajah yang terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang katanya tidak akan pulang lagi.

Ia ingin mendekat.

Ingin memanggil.

Ingin bertanya kapan papanya bangun dan mengapa semua orang menangis.


Tetapi sebelum sempat bergerak, seseorang perlahan mulai menutup peti itu.

Gerakannya lambat.

Terlalu lambat.


Dan justru karena itu Mei Lan semakin panik.

Ia mencoba melangkah maju, tetapi kedua kakinya terasa berat seperti tertanam di tanah.

Yang bisa ia lakukan hanya berdiri diam sambil melihat wajah papanya sedikit demi sedikit tertutup bayangan.


Ia ingin melihat sekali lagi.

Hanya sekali lagi.

Tapi sesuatu seolah menahannya.

Air matanya mengalir perlahan, suara hatinya terucap di tengah nafasnya yang mulai terasa sesak, meronta..

“Bagaimana jika aku melupakan wajahnya?”

“Mengapa aku tak bisa mengingat wajah papa?”


Lalu suara kayu bertemu kayu terdengar pelan.


Dan semuanya menghilang.

Tanpa perpindahan.

Tanpa penjelasan.


Tahu-tahu ia sudah berdiri lebih jauh.

Orang-orang mengelilingi sesuatu di depan mereka.

Peti itu kini telah berada di bawah tanah.

Lihat selengkapnya