Bab 34
Jalan Memutar
Ada emas yang dipajang di balik kaca tebal, diterangi lampu-lampu terang agar semua orang berhenti dan melihatnya.
Ada pula emas yang tidak pernah sampai ke etalase.
Ia lahir di ruangan sempit yang panas, di atas meja kerja yang dipenuhi serbuk halus, dibentuk oleh tangan-tangan yang namanya tidak pernah tertulis di papan besar mana pun.
Anehnya—
orang sering mengingat tempat mereka membeli kilau,
tetapi melupakan tempat kilau itu diciptakan.
Padahal api yang membentuknya sama.
Dan mungkin manusia juga begitu.
Ada orang yang hidup di depan panggung.
Ada yang bekerja jauh di belakangnya.
Namun kadang—
jalan yang terlihat memutar hanyalah cara hidup mempertemukan dua dunia yang seharusnya tidak pernah saling melihat.
---
Workshop vendor di kawasan industri Gresik ternyata jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Jia Ning. Gudang baja memanjang berdiri di sisi jalan dengan truk-truk yang keluar masuk membawa material. Di halaman depan, beberapa pekerja sedang menurunkan hollow galvanis dari bak truk, sementara sebuah forklift bergerak pelan melewati tumpukan rangka besi menuju area belakang. Dari dalam bangunan terdengar suara gerinda, denting logam, dan sesekali percikan las yang memantul seperti kilatan kecil di balik dinding seng.
Begitu turun dari mobil, hawa panas langsung menyergap.
Bukan panas matahari biasa.
Melainkan panas logam, panas atap seng, dan udara siang yang seolah memantul kembali dari lantai beton.
Seorang pria paruh baya yang tampaknya sudah menunggu sejak tadi segera menghampiri mereka sambil mengusap tangannya ke celana kerja.
“Pak Kristian?”
Kian Seng mengangguk singkat.
“Dari Chen Metal Works.”
Wajah lelaki itu langsung berubah lebih ramah.
“Oh, Pak Chen tadi pagi sudah telepon. Saya Hadi. Kepala workshop di sini. Mari, Pak.”
Jia Ning membuka map proyek yang sedari tadi dibawanya. Begitu langkah mereka memasuki area produksi, ekspresinya berubah. Tak ada lagi sisa kecanggungan semalam. Tak ada lagi pertanyaan yang menggantung di antara mereka.
Yang tersisa hanya pekerjaan.
Area workshop jauh lebih sibuk di bagian dalam. Rangka-rangka besi besar berdiri berjajar menunggu proses finishing. Di sisi lain, beberapa pekerja sedang mengelas sambungan sambil sesekali meneriakkan ukuran satu sama lain.
Pak Hadi membawa mereka ke area frame utama.
“Yang ini backdrop Aurora.”
Jia Ning menunduk melihat gambar kerja.
“Tinggi final tiga meter?”
“Betul, Bu.”
Jia Ning mengangkat pandangan ke struktur di depannya, lalu kembali menatap gambar. Keningnya perlahan berkerut.
“Tiga meter total atau tinggi bersih?”
Pak Hadi berkedip.
“...maaf?”
Di sampingnya, Kian Seng ikut menunduk melihat gambar yang sama. Tangannya mengambil pensil dari meja kerja terdekat, lalu menarik satu garis cepat.
“Kalau total, bracket bawahnya ikut masuk.”
Ujung pensilnya mengetuk bagian kaki struktur.
“Panel logonya naik.”
Pak Hadi mendekat.
Jia Ning ikut menunduk.
Beberapa detik.
Lalu ekspresi Pak Hadi berubah.
“...sebentar.”
Ia memanggil staf lain.
Membuka gambar cadangan.
Memeriksa ulang.
Dan beberapa saat kemudian, kesalahannya ditemukan.
Kian Seng sudah lebih dulu berjalan menuju area berikutnya bahkan sebelum siapa pun sempat mengatakan apa-apa.
Sejak saat itu waktu berjalan lebih cepat daripada yang mereka sadari.
Mereka berpindah dari satu area ke area lain tanpa benar-benar berhenti. Dari memeriksa sambungan las, mengecek ukuran frame, menghitung kebutuhan material tambahan, sampai membahas urutan pemasangan proyek dua bulan mendatang.
Kian Seng hampir tidak diam sedetik pun.
Sesekali ia jongkok memeriksa sambungan logam. Sesekali menghentikan langkah untuk mengukur ulang. Sesekali meminta gambar kerja lalu mencoret sesuatu dengan cepat sebelum mengembalikannya lagi.
Udara workshop semakin panas seiring matahari naik.
Kemeja abu-abunya mulai gelap di bagian punggung. Beberapa kali tangannya mengusap cepat keringat yang turun ke pelipis sebelum kembali berjalan seperti tak terjadi apa-apa.
Dan Jia Ning sendiri tak jauh berbeda.
Ia terus membuka gambar kerja, mencatat revisi, mengoreksi timeline, dan beberapa kali berdebat dengan Pak Hadi mengenai urutan pemasangan.
“Kalau modul ini mundur dua hari, loading area utama ikut mundur.”
“Belum tentu.”
Jia Ning menoleh.