Jalan Emas

Akana.T
Chapter #35

Tangan yang Tidak Dikenal

Bab 35

Tangan yang Tidak Dikenal


Ada emas yang akhirnya dipajang di balik kaca bening, diterangi lampu dari segala arah agar orang berhenti dan mengaguminya.

Namun sebelum sampai ke sana—

ia pernah menjadi serpihan kecil yang nyaris tidak diperhatikan.

Berpindah dari tangan ke tangan.

Dipanaskan.

Ditekuk.

Dikikis.

Dikerjakan berulang kali di tempat-tempat yang bahkan tidak memiliki papan nama.

Orang-orang biasanya hanya mengingat kilau akhirnya.

Padahal yang membuat emas menjadi berharga bukan saat ia mulai bersinar—

melainkan saat ia bertahan untuk dibentuk.


Mungkin manusia juga begitu.

Ada orang-orang yang tumbuh di tempat sempit.

Lewat hari-hari yang tidak menarik untuk diceritakan.

Ditempa oleh kehilangan.

Dibentuk oleh waktu.

Dipaksa berubah oleh keadaan.

Dan bertahun-tahun kemudian—

tanpa disadari—

mereka menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Bukan karena hidup akhirnya menjadi lebih mudah.

Melainkan karena mereka tidak hancur saat dibentuk.



---




Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil perlahan melambat.


Deretan bangunan tua mulai menggantikan jalan besar. Ruko-ruko kecil berdiri rapat di sisi jalan, beberapa papan toko terlihat mulai kusam dimakan waktu. Motor terparkir sembarangan di pinggir jalan, sementara kabel-kabel listrik menjuntai rendah di antara atap rumah.


Kian Seng memandang keluar sebentar.


“Lumayan dekat.”


Jia Ning ikut mengangkat kepala.


Mobil berhenti.


Mesin dimatikan.


Kian Seng membuka sabuk pengaman.


“Kita turun?”


Jia Ning mengangguk kecil.


Udara sore menyambut mereka begitu pintu mobil terbuka. Matahari kini lebih rendah, meninggalkan cahaya keemasan yang memanjang di permukaan jalan.


Kian Seng memandang sekeliling beberapa saat sebelum menghampiri seorang pria paruh baya yang sedang menata kardus di depan rumah.


“Permisi, Pak.”


Pria itu menoleh.


“Mau tanya. Apa di sini ada pengrajin perhiasan emas?”


“Sentra Pengrajin Emas?” tambah Jia Ning.


Pria itu langsung mengangguk.


Tangannya menunjuk ke arah dalam gang.


“Masuk lurus saja. Nanti belok kiri. ..Masih ada yang kerja sampai sekarang.”


“Terima kasih, Pak.”


Mereka mengikuti petunjuk itu.


Semakin masuk, gang semakin sempit. Rumah-rumah berdiri rapat tanpa pagar tinggi. Beberapa pintu terbuka, membiarkan suara televisi dan aroma masakan sore keluar sampai ke jalan kecil.

Lalu beberapa langkah kemudian—

Kian Seng memperlambat langkahnya.

Jia Ning ikut mengangkat kepala.

Di salah satu rumah dengan teras terbuka, beberapa wanita tampak duduk berjajar di kursi kecil.

Di tangan mereka ada alat-alat mungil.

Pinset.

Kawat tipis.

Potongan-potongan logam kecil.

Jari-jari mereka bergerak pelan di bawah cahaya lampu, begitu hati-hati hingga nyaris tidak terlihat.

Tidak ada etalase besar.

Tidak ada lampu sorot.

Tidak ada papan nama mewah.

Hanya rumah biasa.

Dan justru karena itulah—

sulit membayangkan bahwa benda-benda yang suatu hari dipajang di balik kaca toko mahal mungkin lahir dari tempat seperti ini.


Salah seorang ibu mengangkat kepala.


“Mencari siapa, Mas?”


Kian Seng tersenyum sopan.


“Permisi, Bu. Kami mau tanya... apa di sini ada yang pegang workshop?”


“Oh.”


Ibu itu menoleh ke dalam rumah.


“Pak Dar! Ada tamu!”


Tak lama kemudian terdengar suara kursi bergeser.


Seorang pria paruh baya keluar sambil mengelap tangan dengan kain kecil. Kacamata tuanya bertengger rendah di hidung, sementara jemarinya dipenuhi serbuk logam halus.

Tatapannya bergantian memandang Kian Seng dan Jia Ning.


“Ya?”


Jia Ning melangkah maju.


“Perkenalkan. Nama saya Jia Ning.”


Ia menyerahkan kartu nama dengan dua tangan.


“Saya dari Aurora.”


Pak Dar menerima kartu itu sambil mengernyit kecil.


Aurora.


Nama itu terdengar terlalu besar untuk gang sekecil ini.


“Kami sedang menyiapkan sebuah peragaan busana,” lanjut Jia Ning tenang.

Lihat selengkapnya