Bab 36
Malam selalu datang lebih jujur daripada sore.
Dulu aku sering bertanya, mengapa emas disebut sebagai logam yang istimewa?
Bukan karena kilaunya.
Bukan juga karena harganya.
Melainkan karena meski ditempa, dibakar, dan dipukul berkali-kali, logam itu tidak hancur.
Ia berubah.
Menjadi lebih kuat.
Menjadi lebih murni.
Namun manusia tidak selalu sekuat emas.
Ada luka yang tidak menjadi lebih ringan karena waktu.
Ada jarak yang semakin lama justru semakin sulit diseberangi.
Dan ada rumah...
yang tetap terasa asing, bahkan bagi orang yang pernah menyebutnya sebagai tempat pulang.
---
Mungkin karena saat langit mulai gelap, tidak banyak hal yang tersisa untuk mengalihkan pikiran seseorang. Pekerjaan telah selesai, keramaian perlahan pulang ke rumah masing-masing, dan alasan untuk terus menyibukkan diri pun ikut berkurang sedikit demi sedikit.
Pada waktu seperti itu, hal-hal yang selama ini sengaja dihindari sering datang kembali.
Dan rumah—sering kali menjadi salah satunya.
Sebuah taksi berhenti pelan di ujung gang yang mulai sepi. Mesin mobilnya masih menyala, sementara lampu depannya jatuh redup di jalan sempit yang hanya diterangi beberapa lampu rumah dari kejauhan.
Seorang gadis muda berdiri beberapa langkah di depan sebuah pagar rumah.
Ia tidak bergerak.
Sepasang matanya menatap rumah itu begitu lama seolah sedang memastikan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak sanggup ia jawab.
Semua lampu di dalam rumah padam. Tidak terdengar suara televisi, tidak ada suara orang berbicara, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalamnya.
Rumah itu berdiri diam dalam gelap.
Namun anehnya, justru karena itulah tempat itu terasa begitu asing.
Tatapannya perlahan turun menuju pagar besi di depannya. Cat hijau yang dulu tampak cerah kini mulai memudar. Beberapa sudut terlihat kusam dimakan usia, bahkan sebagian kecilnya mulai berkarat.
Dulu tidak seperti ini.
Ia ingat.
Ia mengingatnya dengan sangat jelas.
Pot bunga kecil yang dulu berada di dekat teras juga sudah tidak ada. Benda-benda kecil yang dahulu terasa biasa ternyata diam-diam ikut menghilang bersama waktu.
Pelan, tangannya terangkat menuju bel di samping pintu pagar.
Hanya mendekat.
Tanpa benar-benar menyentuhnya.
Karena terkadang seseorang tidak takut pada rumah yang kosong.
Yang mereka takuti adalah kemungkinan jika pintu itu benar-benar terbuka.
Angin malam berembus pelan, membuat beberapa helai rambut di sisi wajahnya bergerak tertiup angin.
Dan tanpa diminta, beberapa wajah mulai berkelebat dalam pikirannya.
Seperti apa Kian Seng sekarang?
Remaja yang dulu selalu mengikuti dirinya ke mana-mana itu seharusnya sudah tumbuh dewasa. Mungkin sekarang tubuhnya jauh lebih tinggi. Mungkin wajahnya sudah berubah begitu banyak hingga ia tak akan mengenalinya jika berpapasan di jalan.
Lalu mamanya...
Apa uban mulai memenuhi rambutnya?
Dan Gi-ma...
Pikirannya berhenti di sana.
Karena semakin lama seseorang pergi, semakin sulit pula membayangkan wajah orang-orang yang dulu paling dekat dengannya.
Mei Lan menundukkan pandangannya perlahan.
Beberapa detik berlalu sebelum tangannya kembali turun ke sisi tubuhnya.
Bel itu tidak pernah disentuh.
Setelah berdiri cukup lama, akhirnya ia berbalik dan melangkah pergi.
Langkahnya pelan.
Sangat pelan.
Seolah setiap langkah yang menjauhi rumah itu membutuhkan keberanian yang sama besar dengan langkah saat ia datang.
Beberapa menit kemudian pintu taksi tertutup kembali, lalu mobil itu bergerak meninggalkan ujung gang dengan kecepatan pelan.
Hampir pada saat yang bersamaan, lampu mobil lain muncul dari arah jalan besar. Mobil itu masuk ke dalam gang lalu berhenti tepat di depan rumah yang sama.
Pintu terbuka.
Ah Lian turun sambil menyelempangkan tas di bahunya, sementara Guo Liang ikut keluar dari sisi lain.
“Kenapa tidak tinggal lebih lama di rumahku?” tanyanya setengah protes. “Apa kau tidak kerasan di sana?”
Ah Lian menutup pintu mobil lalu berjalan ke sisi lain, mengambil barang-barangnya satu per satu. Bibirnya terus bergerak seolah percakapan itu belum selesai.
“Sedari awal aku memang merasa ada yang aneh.”
Guo Liang langsung menoleh.
“Aneh?”
Ah Lian mulai mengambil barang-barangnya.
“Mengapa kau tiba-tiba memaksaku menginap? Tadi pagi Kau hanya bilang Wenny sakit dan butuh dijaga.”
Ia berhenti sejenak lalu menatap Guo Liang.
“Tapi waktu aku sampai, anak itu terlihat sangat sehat. Bahkan tiduran sambil menonton televisi dan makan keripik.”
Guo Liang menelan ludah.
“Aku tidak bohong. Tadi pagi ia memang demam 37 derajat Celcius.”
Ah Lian mendecak.
“Itu suhu normal.”
“Entahlah.”
Guo Liang mengangkat bahu.