Jalan Emas

Akana.T
Chapter #37

Nasi yang Sudah Menjadi Bubur

Bab 37

Nasi yang Sudah Menjadi Bubur


Seorang pengrajin emas pernah berkata bahwa pekerjaan paling sulit bukanlah membuat sesuatu menjadi indah. Bukan mengukirnya, bukan membentuknya, dan bukan pula memolesnya hingga tampak sempurna.

Yang paling sulit justru memutuskan kapan seseorang harus berhenti memperbaikinya.


Karena ada saat ketika tangan yang terus berusaha membetulkan sesuatu justru perlahan menghilangkan bentuk aslinya.


Hidup manusia juga seperti itu.


Seseorang harus tahu kapan harus berhenti. Berhenti memaksa. Berhenti menunggu. Berhenti menggenggam sesuatu yang terus menjauh.


Sebab tidak semua hal menjadi lebih baik hanya karena seseorang terus mempertahankannya.


Dan mungkin yang paling menyakitkan bukanlah saat seseorang kehilangan sesuatu, melainkan ketika menyadari bahwa impian itu seharusnya sudah dilepaskan sejak lama. Sebab ada keputusan yang, sekali diambil, tak lagi bisa dikembalikan seperti semula.


Seperti nasi yang telah menjadi bubur.


---


Keesokan paginya, ketika matahari baru meninggi, Kian Seng dan Jia Ning sama-sama membuka pintu rumah mereka.


Di dua tempat yang berbeda, orang tua mereka melontarkan pertanyaan yang sama.


"Bagaimana? Apa nasi sudah menjadi bubur?"



---



Sore harinya, sepulang kerja, Kian Seng menghubungi Jia Ning dan mengajaknya bertemu.

Mendengar ajakan itu, hati Jia Ning langsung dipenuhi harapan.

Untuk pertama kalinya, ia membayangkan pertemuan mereka bukan lagi sebagai dua sahabat atau rekan kerja. Mungkin, pikirnya, inilah awal dari hubungan yang selama ini hanya mereka simpan dalam diam.

Bahkan sebelum berangkat, ia sempat merapikan kembali rambutnya dan menambahkan sedikit warna pada lipstik yang mulai memudar.


Namun kenyataan jarang berjalan seindah bayangan.


Kian Seng sudah menunggunya lebih dulu. Wajahnya tampak tenang, tetapi ada sesuatu yang terasa begitu jauh.


"Ada apa?" tanya Jia Ning sambil tersenyum.


Kian Seng terdiam cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.


"Aku rasa... sebaiknya hubungan kita berakhir sampai di sini."


Senyum di wajah Jia Ning langsung lenyap seketika.


"Kenapa?"


Kian Seng tidak langsung menjawab.

Hanya kepala yang tertunduk semakin dalam.


"Apa karena keluargaku?"


Lagi-lagi ia hanya diam.

Keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.


Setelah beberapa saat, Kian Seng mengembuskan napas pelan.


"Aku tidak ingin memperpanjang sesuatu yang pada akhirnya hanya akan menyakiti lebih banyak orang."


Hanya itu.

Tak ada pertengkaran.

Tak ada tangisan.

Tak ada penjelasan panjang.

Kurang dari lima menit kemudian, mereka berjalan ke arah yang berbeda.


---


Dua hari kemudian...


Jia Ning menutup map di tangannya lalu memijat pelipisnya perlahan.


Sejak hari itu, rasanya tidak ada lagi yang berjalan sebagaimana mestinya.

Untuk kesekian kalinya, ia menekan nomor telepon Kian Seng.

Tetap tidak ada jawaban.

Pemuda itu seolah menghilang begitu saja.

Bahkan ketika diam-diam ia mendatangi Chen Metal Works, jawaban yang diterimanya tetap sama.


"Kian Seng tidak ada."


Semua orang seolah bersepakat menjauhkan Kian Seng darinya.

Bahkan Wenny, yang biasanya selalu mendukung hubungan mereka, ikut menutup mulut. Baru setelah Jia Ning terus mendesaknya, gadis itu akhirnya berbicara pelan.


"Hari itu... keluargamu membuat keributan besar di rumah Ko Kian Seng."

Lihat selengkapnya