Jalan Emas

Akana.T
Chapter #38

Yang Dicari Lima Belas Tahun

Bab 38

Yang Dicari Lima Belas Tahun



Orang-orang berkata bahwa emas tetaplah emas, di mana pun ia berada.

Emas yang jatuh ke lumpur tidak berubah menjadi tanah.

Emas yang terkubur di tempat gelap tidak kehilangan kilaunya.

Sesuatu yang benar-benar berharga tidak akan berubah hanya karena tersesat terlalu lama.

Dan mungkin manusia juga seperti itu.

Hati terkadang mengingat sesuatu yang dilupakan oleh pikiran...

Karena ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar hilang—hanya menunggu ditemukan kembali.


---


Jia Ning kembali menekan tombol panggil.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.


Dan seperti sebelumnya, tidak ada jawaban.


Jemarinya perlahan turun dari layar ponselnya, lalu menggenggam benda itu sedikit lebih erat. Tatapannya bergerak bolak-balik antara layar di tangannya dan sosok gadis yang duduk di luar ruang kerja.


Dari balik dinding kaca, Jia Ning terus memperhatikannya.


Gadis itu sedang menunduk sambil membuka mapnya lagi. Sesekali tangannya merapikan sketsa desain di atas meja, lalu membetulkan letak kotak perhiasan kecil yang tadi dibawanya.


Semuanya tampak biasa.


Terlalu biasa.


Dan mungkin justru itulah yang membuat semuanya terasa tidak nyata.

Karena jika dugaannya benar, gadis yang saat ini duduk hanya beberapa meter darinya adalah adik perempuan Kian Seng yang hilang.


Lima belas tahun.


Jia Ning menatap ponselnya cukup lama sebelum akhirnya jarinya berpindah menekan nomor lain.


Bukan Kian Seng.


Melainkan Chen Metal Works.


Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara yang sangat dikenalnya muncul dari seberang.


“Halo. Dengan Chen Metal Works. Ada yang bisa saya bantu?”


Nada suaranya formal.

Profesional.


Jia Ning memejamkan mata sesaat.


“Paman Chen... ini Jia Ning.”


Hening.


Lalu terdengar helaan napas panjang.

Jelas.


Dan disengaja.


“Jangan menyuruhku membantu lagi,” gerutu Guo Liang. “Kau tahu apa yang Ah Lian katakan padaku? Dia menuduhku menjual keponakan demi membeli kenaikan jabatan anakku.”


Jia Ning menunduk pelan.


Rasa bersalah kembali muncul tanpa diminta.


“Maafkan aku, Paman…”


Guo Liang mendengus kesal, tetapi seperti biasanya, kekesalannya tak pernah bertahan terlalu lama.


“Lalu kenapa kau meneleponku?”


“Paman tahu Kian Seng ada di mana? Aku tak bisa menghubunginya.”


Mata Guo Liang langsung membelalak.


“Tak sampai lima detik lalu kau berkata maaf, lalu sekarang kau mencarinya lagi? Kau ini....”


“Tidak, tunggu dulu, Paman. Dengarkan aku. Aku mencarinya karena hendak memberitahunya bahwa aku menemukan—”


“Aku tak mau mendengar dan termakan bujukanmu lagi. Aku tutup teleponnya.”


Dan saat Guo Liang mulai menjauhkan gagang telepon dari telinganya—


“Liem Mei Lan! Aku menemukan Mei Lan!”


Sunyi.


Beberapa detik berlalu.

Guo Liang kembali mendekatkan gagang telepon ke telinganya.


Lalu—


“…siapa?”


Suara Guo Liang terdengar sangat pelan.


Terlalu pelan.


Seolah otaknya menolak memproses apa yang baru saja didengarnya.


Jia Ning menoleh ke balik dinding kaca.

Gadis itu masih duduk di sana. Masih membuka map, masih merapikan desain-desain kecilnya, dan masih sama sekali tidak menyadari bahwa namanya baru saja menghentikan dunia seseorang.

Jia Ning menelan ludah.

Tatapannya tak lepas dari gadis itu.


“Liem Mei Lan.”


Kali ini suaranya jauh lebih pelan. Lebih berat.


“Aku rasa... aku menemukannya.”



---

Dan beberapa jam kemudian,


Kian Seng berdiri diam di balik deretan gaun yang menggantung rapi di dalam Wardrobe Archive & Sample Storage Room.


Ruangan itu sangat luas.


Rak-rak tinggi memenuhi sisi dinding. Plastik transparan membungkus gaun-gaun koleksi Silent Spring yang berjajar berdasarkan urutan runway. Di sudut ruangan berdiri beberapa manekin dengan pakaian setengah jadi.


Aroma kain baru, uap setrika, dan parfum samar bercampur tipis di udara.


Suasana di dalam ruangan sangat sunyi. Sesekali hanya terdengar suara pendingin ruangan dan gesekan plastik yang bergerak pelan tertiup hembusan AC.


Namun pikirannya tidak pernah ikut diam.


Sejak tadi, pikirannya terus berputar dan tanpa henti mengulang percakapan siang tadi.


Lihat selengkapnya