Bab 39
Rumah yang Menunggu
Jika kau bertanya kepadaku, emas apa yang paling berharga di dunia ini...
Aku akan menjawab:
bukan emas yang baru ditemukan.
Melainkan emas yang sempat hilang lalu kembali.
Karena sesuatu yang hampir hilang mengajarkan manusia satu hal—
bahwa manusia sering baru menyadari nilai sebuah kehadiran...
setelah takut kehilangannya untuk selamanya.
---
Sore itu langit di luar jendela mulai berubah jingga.
Mei Lan kembali berdiri di depan pintu pagar yang sama. Tiga hari lalu ia juga berdiri di tempat itu, dengan keraguan yang hampir sama. Bedanya, saat itu ia hanya mampu memandang rumah ini dari kejauhan. Hari ini, ia benar-benar berada di depannya.
Melihat gadis itu kembali terdiam, Kian Seng seolah memahami isi hatinya. Tanpa banyak bicara, ia menggenggam jemari Mei Lan dengan lembut.
Mei Lan menoleh.
Kian Seng tersenyum ke arahnya.
Senyuman itu tidak mengatakan apa pun, tetapi entah mengapa terasa seperti seseorang sedang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan pintu itu akhirnya terbuka.
Untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun, Mei Lan melangkah masuk ke dalamnya.
Perasaan yang muncul terasa aneh.
Rumah ini tampak begitu akrab, tetapi sekaligus asing.
Cat dinding berubah. Lampu plafon berubah. Meja dan kursi berubah. Banyak hal tampak berbeda dari yang diingatnya.
Lima belas tahun rupanya memang cukup lama untuk mengubah sebuah rumah.
Namun langkah Mei Lan mendadak terhenti ketika matanya jatuh pada sebuah foto di ruang tengah.
Di sana, foto Nyonya Chen kini berdampingan dengan foto papanya.
“Mei Lan... sapa Gi-ma dulu.” ujar Kian Seng.
Dadanya langsung terasa sesak. Lima belas tahun.. dan setelah pulang, ia hanya bisa melihat fotonya.
Sebelum ia pergi, neneknya masih baik-baik saja. Wajahnya memang sering terlihat sedih, tetapi perempuan itu masih berdiri di samping mamanya, masih mengurus rumah, dan selalu ada untuknya...
Namun sekarang... hanya tinggal foto.
“Perempuan keluarga Chen tidak menangis...” suara Gi-ma kembali terngiang di telinganya.
Mei Lan bergegas mengusap air mata yang tak kuasa jatuh membasahi pipinya.
Benar.. kalimat itulah yang diucapkan Nyonya Chen saat memasang anting anggrek di telinganya.
Saat itu... dibalik guratan ketegasan wajahnya, Mei Lan sempat melihat ujung bibir Gi-ma nya tersenyum. Meski ia tak pernah berusaha menunjukkannya.
“Ada kata ‘lan’-nya, ...Anggrek untuk Mei Lan.” ujarnya saat itu.
Air mata Mei Lan kembali menetes. Penyesalan menghimpit tajam udara dalam dadanya.
Di dalam bingkai itu, Nyonya Chen tampak lebih muda dan tidak ada lagi kesedihan yang tertinggal dalam sorot matanya.
Tetapi tetap saja, foto tidak pernah bisa membalas sapaan. Tidak pernah bisa memarahi, mengelus kepala, ataupun tersenyum kembali ketika seseorang pulang terlambat.
Di tengah hembusan angin senja yang masuk dari jendela, untuk sesaat Mei Lan merasa seolah Gi-ma tersenyum memandang ke arahnya, seolah berkata,
"Mei Lan a... akhirnya kau pulang ke rumah."
Air mata Mei Lan mengalir semakin deras.
Ia menundukkan wajah dan tak sanggup menatap foto itu terlalu lama. Tak ingin Gi-ma melihatnya menangis.
Setelah semua yang Nyonya Chen lakukan untuknya—merawatnya, menjaganya, dan menggantikan peran orang tua ketika dunianya hancur,.. tapi Mei Lan bahkan tidak ada di sisinya saat perempuan itu pergi.
Seringkali kepedihan terbesar itu datang bukan hanya karena ditinggalkan, melainkan menyadari bahwa tak ada lagi yang bisa dilakukan.
Dan terkadang, kata “terlambat” bukan sekadar penyesalan melainkan hukuman yang harus dijalani seseorang seumur hidup.
Di sampingnya, Kian Seng hanya menepuk pundaknya pelan tanpa mengatakan apa pun. Ia membiarkan Mei Lan menangis, membiarkannya mengucapkan selamat tinggal yang tertunda terlalu lama.
Setelah beberapa saat, Kian Seng mengulurkan selembar tisu.