Jalan Emas

Akana.T
Chapter #40

Takdir yang Mulai Bergerak


Bab 40

Takdir yang Mulai Bergerak


Pagi di Bandara Juanda selalu sibuk. Suara roda koper bergesekan di lantai, pengumuman penerbangan bersahut-sahutan dari pengeras suara, dan orang-orang berlalu-lalang dengan langkah tergesa. Sebagian datang menjemput, sebagian lagi mengantar perpisahan.


Di tengah keramaian itu, Tan Bun berdiri beberapa langkah di depan pagar pembatas sambil sesekali melirik jam tangannya. Setelah itu ia menoleh ke pintu kedatangan, lalu kembali melihat jam, dan beberapa detik kemudian mengulang hal yang sama.


Di sampingnya, Lin Yue menghela napas panjang.


“Kalau dilihat terus, pesawatnya juga tidak akan mendarat lebih cepat.”


Tan Bun mendengus pelan.


“Aku cuma memastikan.”


Padahal jelas bukan itu.


Sejak subuh tadi lelaki itu sudah bangun lebih dulu. Kemejanya berganti dua kali, rambutnya disisir berkali-kali, bahkan sepatu kulitnya dipoles sampai mengilap. Hari ini memang berbeda.


Hari ini putranya pulang.


Tak lama kemudian, pintu kedatangan akhirnya terbuka. Orang-orang mulai keluar satu per satu sambil membawa koper, mendorong troli, atau sibuk mencari wajah keluarga mereka di antara keramaian.


Lalu Tan Bun mendadak diam.


Matanya membesar.


Tangannya perlahan terangkat menunjuk ke depan.


“Lin Yue…”


“Lin Yue… itu…”


Seorang pemuda tinggi berjalan keluar sambil menarik koper hitam besar. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan kacamata tipis di wajahnya. Tubuhnya tegap, sementara senyum kecil di bibirnya hampir tidak berubah sejak dulu.


“Pa.”


Tan Bun membeku sesaat.


Lalu seketika wajahnya berubah.


“Hao!”


Pelukan itu datang bahkan lebih cepat daripada langkahnya sendiri. Jin Hao sampai nyaris kehilangan keseimbangan ketika tubuhnya tertarik ke depan.


“Pa— pelan…”


“Sudah besar…”


Suara Tan Bun mendadak serak.


“Sudah besar sekali…”


Di samping mereka, Lin Yue diam-diam mengusap sudut matanya.

Jin hao memeluknya.

Harum wangi parfum ternama memenuhi indera penciumannya.

“Ma.. kenapa semakin tambah usia justru terlihat semakin muda dan cantik? Berapa banyak obat pengawet yang sudah mama konsumsi?” tanyanya bergurau menggoda Lin Yue

Lin Yue memukul lembut pundak putranya. Putra semata wayang yang paling berharga untuknya.


Mobil mereka perlahan meninggalkan kawasan bandara. Jalanan Surabaya mulai dipenuhi kendaraan pagi, sementara matahari naik pelan di balik deretan bangunan dan cahaya hangat masuk melalui kaca mobil.


Tan Bun yang duduk di kursi depan sesekali masih menoleh ke belakang, seolah belum benar-benar percaya dengan apa yang terjadi.


Lima belas tahun lalu ia tidak pernah membayangkan hari seperti ini.


Putranya pergi sekolah ke luar negeri. Lalu pulang membawa gelar. Membawa masa depan.


“Benarkah?” tanyanya lagi.


“Kau benar lulusan termuda?”


Jin Hao mengembuskan napas pelan.


“Papa sudah tanya tiga kali.”


Tan Bun tertawa kecil.


“Aku cuma memastikan.”


Lin Yue yang duduk di samping langsung menoleh.


“Bukan cuma termuda.”


Senyumnya perlahan melebar.


“Jin Hao lulus sebagai salah satu lulusan termuda Program Jewelry and Metalsmithing di Rhode Island School of Design (RISD).”


Tan Bun langsung menoleh.


Lin Yue melanjutkan dengan nada penuh kebanggaan.


“Tak hanya itu.. nilai akhirnya juga yang terbaik di angkatannya.”


Mobil mendadak sunyi beberapa detik.


Tan Bun berkedip.


“Terbaik?”


Jin Hao mengusap tengkuknya.


“Ma…”


Namun Tan Bun sudah lebih dulu tertawa.


Ada rasa bangga yang sulit disembunyikan dari wajahnya.


Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa bahwa putranya akan memiliki masa depan yang jauh lebih baik daripada dirinya.

Dulu, setiap kali mendengar kabar tentang prestasi Kian Seng, selalu ada bagian kecil dalam dirinya yang diam-diam merasa kalah. Ia iri kepada kakaknya, meski tak pernah mengakuinya. Namun hari ini, ketika mendengar putranya sendiri lulus sebagai salah satu lulusan termuda dengan nilai terbaik, untuk pertama kalinya ia mengerti mengapa dulu Tan Hwa selalu tersenyum setiap kali membicarakan Kian Seng.

‘Jadi beginikah rasanya menjadi seorang ayah yang bangga...’ bisiknya dalam hati.


Suasana di dalam mobil kembali tenang. Tan Bun sesekali masih tersenyum sendiri sambil menggeleng kecil, sedangkan Jin Hao melempar pandangan keluar jendela.

Jalan raya bergerak perlahan melewati deretan ruko, lampu lalu lintas, dan truk-truk besar yang melintas.


Sampai akhirnya suara Lin Yue kembali terdengar.


“Oh ya.”


Jin Hao menoleh.


“Hm?”


“Besok kau ada waktu?”


“Besok?”


Lin Yue mengangguk santai.


“Ada acara kecil.”


Jin Hao menatap ibunya beberapa detik.


“Acara apa?”


“Tidak apa-apa.”


“Hanya makan siang.”


Namun Jin Hao justru diam terlalu lama.


Lihat selengkapnya