Jalan Emas

Akana.T
Chapter #41

Saat Logam Masih Panas

Bab 41

Saat Logam Masih Panas


Ada seorang pengrajin tua pernah berkata padaku—

emas yang paling sulit dibentuk bukanlah emas yang terlalu keras.

Melainkan emas yang waktunya terlalu sedikit.

Karena saat logam itu masih panas, seseorang harus segera memutuskan:

dipukul di mana,

dibentuk menjadi apa,

dan seberapa jauh ia berani mengubahnya.

Sebab ketika panasnya hilang—

kesempatan itu belum tentu datang dua kali.

Dan mungkin hidup manusia juga seperti itu.

Karena ada saat-saat ketika takdir tidak mengetuk pintu perlahan.

Ia datang...

lalu bertanya:

“Kau siap atau tidak?”




---




Ada orang-orang yang diberi waktu panjang untuk mempersiapkan diri.

Bulan.

Tahun.

Kadang seumur hidup.


Namun ada orang-orang lain—

yang baru diberi tahu bahwa hidupnya akan berubah...


lima hari sebelum semuanya dimulai.



---


Pagi di Aurora terasa lebih bising dari biasanya.

Telepon berdering.

Printer bekerja tanpa henti.

Suara hak sepatu terdengar bersahut-sahutan di lorong.


Sementara di salah satu ruang kerja lantai enam—

Mei Lan menatap perempuan di hadapannya dengan wajah kosong.


Sangat kosong.


“...lima hari?”


Jia Ning mengangguk sambil membolak-balik beberapa dokumen.


“Lima.”

“Dan untuk kali ini.. master Lie Tian Yu sepertinya juga akan datang.”


Mei Lan berkedip. Tubuhnya membeku seketika.

Pengrajin mana yang tidak mengenal nama Lie Tian Yu?

Legenda hidup yang dikenal karena teknik sambungan mikro tanpa bekas.

Karya-karyanya pernah tampil di Hong Kong Jewellery Exhibition, Singapore International Jewellery Fair, hingga Tokyo Jewellery Showcase.

Wenny memeluk kedua lengannya erat-erat. Bahkan bulu tengkuknya merasa merinding setiap kali mendengar nama itu disebut.


“Jadi sepertinya sekarang ekskalasinya meningkat. Bukan hanya pemilihan vendor aksesoris biasa.. melainkan kompetisi.” sahut Wenny menyimpulkan.


“Benar.. karena master Lie Tian Yu menjadi salah satu sponsor utama kita kali ini.”


Mei Lan hanya berdiri mematung mendengarnya. Terkesima.. tak berkedip.


“Mengapa begitu tiba-tiba?” kening Wenny mulai berkerut.


Pandangannya tertuju pada majalah yang tergeletak di atas meja Jia Ning.

Ia melihat cover itu dengan seksama.

Lalu membaca keras.


"Jino Liem."

"Lulusan termuda Rhode Island School of Design kembali ke Indonesia."

"Resmi bergabung dengan Celestia Jewellery."


Ruangan langsung sunyi.

Mata Mei Lan menyipit melihatnya, sebuah pemikiran terlintas di benaknya seketika.


“Kau mau aku bersaing dengan Jino Liem?” tanyanya memucat.


Wenny yang berdiri di belakang tersedak minumannya karena mendengarnya.


“Kau bercanda, kan?” tanyanya sambil mengelap bibirnya yang basah.


“Apa aku pernah bercanda masalah pekerjaan?”

Wenny menggeleng lemah..

“Tapi lima hari itu agak... dan Liem Jin Hao..”


“Akan Aku kerjakan.” potong Mei Lan.

Suaranya tidak keras.. namun nadanya jelas dan tegas.

Jia Ning meletakkan map di atas meja.

Buk.

“Aku akan mengajukannya minggu depan. Persiapkan dirimu.”


Mei Lan menunduk.

Di atas map tertulis:


AURORA SILENT SPRING GALA 2004

Accessory Styling Proposal


Lihat selengkapnya