Bab 42
Tidak Ada Jalan Mundur
Ada seorang pengrajin emas tua pernah berkata padaku—
tahap paling menegangkan bukanlah saat logam dibakar.
Bukan saat dipukul.
Dan bukan pula saat dibentuk.
Melainkan saat semuanya selesai.
Saat logam yang sudah ditempa berhari-hari akhirnya diletakkan di atas meja...
lalu seseorang mulai menilainya.
Karena setelah itu, tangan pengrajin tak lagi bisa ikut campur.
Tak ada pukulan tambahan.
Tak ada kesempatan memperbaiki bentuk.
Yang tersisa hanya satu pertanyaan:
apakah semua kerja keras itu cukup?
Dan pagi itu—
lima hari setelah semuanya dimulai—
Aurora terasa seperti meja itu.
Tempat hasil kerja, harapan, dan masa depan seseorang...
diletakkan diam-diam di depan banyak pasang mata.
Menunggu dinilai.
---
Bab 42
Pagi di gedung Aurora jauh lebih sibuk dari biasanya.
Pintu lift terbuka dan tertutup tanpa henti.
Suara hak sepatu memenuhi lorong.
Telepon berdering bersahut-sahutan.
Printer bekerja sejak subuh.
Beberapa pegawai berjalan sambil membawa map setebal lengan.
Yang lain berlari kecil sambil menggenggam contoh kain, sketsa, dan daftar revisi.
Bahkan mesin kopi di pantry seolah tak diberi kesempatan beristirahat.
Hari ini bukan hari biasa.
Hari ini adalah hari presentasi.
Hari di mana keputusan akan dibuat.
Dan hari di mana lima hari terakhir akan diuji.
Di lantai enam—
ruang rapat utama Aurora masih tertutup rapat.
Seorang karyawati meletakkan papan nama sesuai dengan tempat masing-masing di atas meja.
Nama-nama penting yang berperan penting menentukan visi Aurora Fashion.
Divisi pemasaran.
Direktur kreatif.
Tim produksi.
Investor.
Dan beberapa partner lama Aurora.
Termasuk satu nama yang selama bertahun-tahun selalu ada dalam daftar:
Celestia Jewellery.
Dan beberapa pengamat eksternal yang bahkan membuat sebagian staf Aurora menahan napas.
Ada Zhou Ren Jie—mantan editor mode Asia yang kritikannya pernah menjatuhkan lebih banyak desainer daripada badai ekonomi.
Ada Xu Wen Tao—seorang legenda perhiasan Taiwan yang namanya lebih sering terdengar di bengkel-bengkel tua daripada di televisi.
Dan satu nama lain.
Nama yang bahkan tidak tercantum dalam undangan resmi.
Nama yang hanya beredar sebagai rumor sejak tiga hari terakhir.
Lie Tian Yu.
Di luar ruangan, Wenny berdiri sambil memegang dua gelas kopi. Keringat dingin membasahi sisi dahinya. Sepasang matanya sibuk menoleh ke kanan. Lalu ke kiri. Lalu menoleh lagi.