Bab 43
Jejak Tangan
Ada pengrajin yang percaya bahwa emas paling indah lahir dari tangan paling terampil.
Ada yang percaya dari batu paling mahal, alat terbaik, atau teknik yang paling rumit.
Namun seorang pengrajin tua yang pernah kutemui dahulu hanya tertawa saat mendengarnya.
Lalu ia berkata,
“Kalau ingin tahu seperti apa seseorang... jangan lihat wajahnya.”
“Lihat karya yang dibuatnya.”
“Karena tangan jauh lebih sulit berbohong.”
---
Pukul sembilan tepat, pintu ruang pamer Aurora Spring Gala akhirnya dibuka.
Ruangan luas itu segera dipenuhi langkah kaki dan suara percakapan yang ditahan setengah berbisik. Dinding putih tinggi dan lampu sorot hangat memantulkan cahaya lembut pada deretan etalase kaca yang tersusun rapi sesuai kode masing-masing. Di setiap meja terpajang prototype yang selama berminggu-minggu—atau bahkan bertahun-tahun—lebih dulu hidup di kepala penciptanya sebelum akhirnya menjadi nyata.
Para peserta berdiri tidak jauh dari karya mereka.
Sebagian berpura-pura tenang sambil tersenyum kepada siapa pun yang lewat. Sebagian lain sibuk merapikan kerah jas atau membuka catatan kecil untuk kesekian kalinya meski tak lagi ada yang bisa diubah.
Tak lama kemudian, rombongan penilai mulai memasuki ruangan.
Direktur kreatif Aurora, tim produksi, investor, partner lama perusahaan, beberapa jurnalis, hingga para pengamat yang namanya saja cukup membuat sebagian peserta menahan napas.
Mereka berjalan perlahan dari satu etalase ke etalase lain.
Berhenti.
Mengamati.
Mencatat.
Lalu berpindah lagi.
Tapi entah kenapa, dalam ruangan seperti itu, suara ujung pena menyentuh kertas terasa lebih menegangkan daripada kritik.
Di salah satu sisi ruangan, kerumunan mulai terbentuk lebih cepat dibanding tempat lain.
Awalnya hanya dua atau tiga orang yang berhenti.
Lalu bertambah menjadi enam.
Sepuluh.
Lima belas.
Beberapa jurnalis yang semula berjalan bersama rombongan penilai mulai mengubah arah langkah mereka. Kamera perlahan terangkat. Bahkan orang-orang yang tadinya hanya melintas ikut menoleh, lalu tanpa sadar ikut mendekat.
Papan kecil di bawah etalase itu bertuliskan:
A-01 — Celestia Jewellery
Dan mungkin sejak awal area itu memang dirancang agar sulit diabaikan.
Lampu sorot dibuat sedikit lebih terang dibanding etalase lain. Kaca hitam elegan membingkai keseluruhan display, sementara logo kecil Celestia terpasang rapi di salah satu sudut seperti tanda tangan yang tak perlu diperkenalkan lagi.
Di tengahnya—
seekor phoenix emas membentangkan sayapnya dengan anggun.
Tubuhnya ramping memanjang, seolah sedang membelah udara. Sayapnya tersusun dari lapisan demi lapisan bulu emas tipis yang dibuat begitu halus hingga setiap sudut memantulkan cahaya dengan cara berbeda.
Safir biru.
Ruby kecil.
Topaz keemasan.
Serta beberapa berlian mungil tersisip di sela-sela helaian emas, menciptakan kilau yang nyaris membuat orang lupa berkedip.
Dari kejauhan, orang hanya akan melihat sebuah kalung besar.
Mewah.
Megah.
Dan nyaris terlalu sempurna untuk disentuh.
Seorang wanita dari divisi pemasaran Aurora tanpa sadar melangkah lebih dekat.
“Astaga...”
Di sampingnya, seorang jurnalis ikut menunduk memperhatikan kartu deskripsi kecil di samping etalase. Alisnya perlahan terangkat.
“Tunggu...”
Beberapa orang lain ikut membaca.
Lalu perlahan saling menoleh.
Karena pada bagian bawah kartu itu tertulis:
Transformable Piece: Necklace / Headpiece
Sunyi sesaat.
Beberapa detik kemudian orang-orang mulai kembali mendekat. Seorang pria memiringkan tubuhnya, mencoba melihat dari sisi lain. Yang lain berjongkok sedikit. Beberapa jurnalis mulai mengangkat kamera lebih tinggi.
Karena mendadak mereka sadar—
yang sedang mereka lihat bukan sekadar kalung.
Di belakang etalase, Liem Jin Hao berdiri tenang dengan kedua tangan berada di saku celananya. Wajahnya hampir tanpa ekspresi, seolah kerumunan yang mulai terbentuk di depannya bukan sesuatu yang mengejutkan.
Dan mungkin memang bukan.
Karena karya seperti ini memang diciptakan untuk menarik mata.
Membuat orang berhenti berjalan.
Membuat orang melihat.
Membuat orang bertanya—
"Bagaimana cara mereka membuat ini?"
Bahkan seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan—
kepalanya otomatis menoleh.
Wartawan mengangkat kamera.
Pegawai Aurora saling berbisik.
"Luar biasa..."
"Rumit sekali..."