Bab 44
Sambungan yang Menghilang
Ada orang yang belajar membuat emas terlihat lebih indah. Ada yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari cara membuatnya lebih rumit, lebih mahal, atau lebih berbeda dari karya orang lain. Namun seorang pengrajin tua pernah berkata kepadaku bahwa hal paling sulit bukan menciptakan sesuatu yang luar biasa.
Yang paling sulit adalah membuat sesuatu yang luar biasa tetap bisa hidup di dunia nyata.
Karena karya yang hanya bisa lahir sekali kadang lebih dekat pada keajaiban daripada kenyataan.
---
Ruang presentasi Aurora pagi itu terasa jauh lebih tenang dibanding ruang pamer sebelumnya. Jika di ruang pamer orang cukup berhenti, menoleh, lalu mengagumi apa yang mereka lihat, di tempat ini setiap kekaguman harus mulai menjelaskan dirinya sendiri. Sebuah karya tidak lagi dinilai hanya dari keindahan atau kemampuannya menarik perhatian, melainkan dari alasan mengapa ia dibuat, bagaimana proses pembuatannya, dan apakah ia benar-benar bisa hidup di luar etalase.
Satu per satu peserta maju memperkenalkan karya mereka. Sebagian menjelaskan filosofi di balik desainnya, sebagian sibuk menguraikan teknik dan material, sementara yang lain berbicara terlalu cepat karena gugup.
Ketika moderator memanggil nama berikutnya, beberapa orang langsung mengangkat kepala.
“Peserta A-01. Celestia Jewellery.”
Suasana ruangan berubah sedikit.
Di barisan belakang, beberapa jurnalis yang sejak tadi sibuk menulis mulai menutup catatan mereka dan mengarahkan perhatian ke depan. Sejak pagi nama Celestia memang menjadi salah satu yang paling sering diperbincangkan.
Liem Jin Hao berdiri dari tempat duduknya dengan wajah tenang seperti biasa. Ia berjalan menuju meja presentasi sambil membawa sebuah kotak hitam tipis di tangannya. Tidak jauh dari sana, Lim Kok Wei menyilangkan tangan dengan senyum tipis di wajahnya, sementara Tan Bun memandang lurus ke depan dengan sorot mata yang hampir tak berkedip.
Keduanya memiliki keyakinan yang sama.
Hari ini Jin Hao tidak datang untuk ikut bersaing.
Ia datang untuk menang.
Kotak hitam itu dibuka perlahan, dan kilau emas segera memantulkan cahaya lampu ruangan.
Phoenix itu kembali muncul.
Tubuh panjangnya tersusun dari perpaduan emas putih dan emas kuning yang saling bertaut membentuk siluet burung api yang ramping. Lapisan bulu-bulu emas tipis tersusun bertingkat dengan begitu halus hingga tiap sudut memantulkan cahaya secara berbeda. Safir kecil, berlian mungil, serta ruby merah pada bagian mata memperkuat kesan megah yang sejak pagi sudah membuat banyak orang berhenti berjalan.
Namun melihatnya dari jarak dekat memberikan kesan yang berbeda.
Rumit.
Presisi.
Dan nyaris terlalu sempurna.
Beberapa orang tanpa sadar mencondongkan tubuh lebih dekat.
“Luar biasa...”
“Ini seperti karya Eropa.”
“Tekniknya gila.”
Jin Hao mengangkat karya itu perlahan sebelum pandangannya menyapu ruangan.
“Phoenix selalu dikaitkan dengan kelahiran kembali,” katanya tenang. “Karena itu saya tidak ingin membuat sesuatu yang diam. Saya ingin membuat perubahan menjadi bagian dari desainnya.”
Tangannya bergerak ke bagian tengah kalung, lalu jemarinya menekan titik kecil yang nyaris tak terlihat.
Terdengar bunyi klik yang sangat pelan.
Begitu pelan hingga hampir tak terdengar.
Namun beberapa detik kemudian, orang-orang mulai menyadari sesuatu.
Sayap phoenix itu berubah.
Bukan terbuka seperti mesin.
Bukan bergerak secara mencolok.
Sudutnya hanya bergeser sedikit. Sangat sedikit.
Tetapi lapisan bulu-bulu tipis di bagian sayap ikut berubah posisi, dan pantulan cahaya pada permukaan emas mendadak bergerak dengan cara yang berbeda.