Bab 45
Harga Sebuah Nama
Ada orang yang percaya keputusan ditentukan oleh angka.
Ada yang percaya oleh kualitas.
Ada pula yang percaya keputusan lahir dari pengalaman.
Namun seorang pengrajin tua pernah berkata kepadaku bahwa keputusan paling sulit bukan memilih mana yang terbaik.
Yang paling sulit adalah memilih sesuatu yang harus tetap hidup setelah dipilih.
Karena sebuah keputusan tidak pernah berhenti saat palu diketuk.
Kadang semuanya baru dimulai... setelah pintu ditutup.
---
Klik.
Pintu ruang rapat dewan direksi Aurora tertutup perlahan.
Suara kecil itu sederhana.
Namun bagi puluhan peserta yang masih menunggu di luar, suara itu terasa seperti batas tipis antara harapan dan kenyataan.
Mei Lan berdiri... kelelahan tak lagi menutupi kegelisahan di wajahnya. Ia merasa sesekali jemari Kian Seng menggenggamnya erat, seolah menyakinkannya untuk tidak terlalu cemas.
“Minumlah dulu... tenangkan dirimu.” ujarnya lembut, penuh perhatian seperti biasanya.
Dari kejauhan sepasang mata menatap mereka berdua... Liem Tan Bun.
Kian Seng yang merasa diamati sedari tadi, sengaja berdiri semakin merapat ke tubuh Mei Lan seakan hendak menghalangi pandangan Tan Bun ke arah adiknya.
Sedangkan suasana dalam ruang rapat tidak kalah menegangkan.
Di balik pintu kayu gelap itu tidak ada kamera.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada lampu sorot.
Hanya meja panjang, tumpukan dokumen, cangkir kopi yang mulai kehilangan uapnya, dan orang-orang yang dalam beberapa jam ke depan akan menentukan masa depan seseorang.
Di ujung meja duduk Presiden Direktur Aurora.
Di sisi kanannya Xu Wen Tao dan Zhou Ren Jie.
Di sisi kiri duduk jajaran eksekutif kreatif dan divisi internal Aurora.
Jia Ning berada di antaranya.
Berbeda dari saat berada di area acara, ekspresinya kini jauh lebih tenang.
Dingin.
Profesional.
Sebagai Senior Creative Director Aurora Fashion International, tugasnya bukan sekadar menilai desain yang indah.
Ia menilai sesuatu yang jauh lebih rumit.
Apakah sebuah karya mampu menjadi wajah Aurora.
Tidak jauh dari sana duduk Lim Kok Wei dari pihak Celestia Jewellery yang juga merupakan sponsor Aurora selama bertahun-tahun.
Suasana ruangan masih tenang.
Sampai Presiden Direktur Aurora membuka map pertama.
“Kita mulai.”
Lembar penilaian mulai dibagikan.
Teknik.
Orisinalitas.
Kelayakan produksi.
Kreativitas.
Potensi pengembangan.
Satu demi satu kategori mulai dibahas.
Dan semakin lama, ruangan perlahan menjadi semakin sunyi.
Karena angka-angka mulai membentuk sesuatu.
Sesuatu yang tidak diperkirakan sebagian orang.
Xu Wen Tao menatap hasil di depannya cukup lama.
Lalu meletakkannya perlahan.
“Total sementara.”
Tatapannya menyapu ruangan.
“B-04 unggul tipis.”
Sunyi.
Sangat sunyi.
Zhou Ren Jie mengambil lembar penilaian sekali lagi.
Tatapannya menyapu angka-angka di sana.
Selisihnya kecil.
Sangat kecil.
Namun tetap unggul.
Beberapa peserta rapat saling bertukar pandang. Ada yang mengangguk kecil. Ada pula yang menandai sesuatu di lembar penilaiannya. Tak ada yang berbicara, namun arah keputusan perlahan mulai terlihat.
Di sisi lain meja, Lim Kok Wei tidak bergerak.
Ekspresinya nyaris tidak berubah.
Tetapi jemarinya perlahan saling mengait. Sesuatu di ruang pameran tadi membuat keyakinannya semakin bertambah. Apapun hasilnya, Celestia tetap akan keluar sebagai pemenangnya.
Saat etalase B-04 mulai menuai kekaguman, ia mendengar Tan Bun bergumam,
“Mengapa mereka ada di sini?” tanyanya pelan.
“Siapa?”
Kok Wei sempat mengernyit. Tan Bun mengenal pemilik etalase? Itu aneh. Selama bertahun-tahun ia mengenal pria itu—pesta, perjudian, relasi bisnis—apa saja. Tapi dunia seniman jelas bukan lingkarannya
“Pemilik etalase B-04...”
Tan Bun menyipitkan matanya.. alisnya mengernyit.
Sesaat ia ragu.
Ia terus menatap ke arah etalase itu.