Jalan Emas

Akana.T
Chapter #46

Tangan Tidak Mewarisi Dosa

Bab 46

Tangan Tidak Mewarisi Dosa


Ada orang yang percaya kemenangan ditentukan ketika nama pemenang diumumkan.

Ada yang percaya ketika tepuk tangan terdengar.

Ada pula yang percaya semuanya selesai saat pintu ruang rapat ditutup.


Namun seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa beberapa kemenangan datang dengan cara yang aneh.

Karena kadang-kadang, saat seseorang hampir kehilangan semuanya—

hidup justru diam-diam mengirimkan seseorang yang tak pernah diminta.



---


Pintu ruang rapat Aurora akhirnya terbuka.


Satu per satu orang mulai keluar. Beberapa staf berjalan sambil membawa map, sementara seorang sekretaris berbicara pelan dengan anggota dewan di dekat pintu. Di kejauhan terdengar suara langkah kaki dan percakapan yang ditahan setengah berbisik, tetapi Mei Lan nyaris tidak memperhatikan semuanya.


Sejak tadi matanya hanya mencari satu orang.


Jia Ning.


Dan ketika akhirnya wanita itu muncul dari balik pintu, langkahnya tampak jauh lebih lambat dibanding saat masuk. Bahunya sedikit turun, sementara wajahnya terlihat lelah. Bukan lelah karena pekerjaan, melainkan seperti seseorang yang baru saja keluar dari tempat yang menguras tenaga jauh lebih banyak daripada seharusnya.


Wenny langsung berdiri.


"Ning Cie!"


Kian Seng ikut menoleh.


"Bagaimana?"


Jia Ning tidak segera menjawab. Ia berhenti di depan mereka, menghela napas panjang, lalu menundukkan kepala.


"...maaf."


Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.


Mei Lan menunduk lebih dulu. Di sampingnya Kian Seng tersenyum kecil, meski matanya masih menyimpan kekecewaan yang tak berhasil sepenuhnya disembunyikan.


"Bukan salahmu."


Wenny ikut mengangguk pelan.


"Kita sudah berusaha."


Mei Lan menatap lantai beberapa detik sebelum akhirnya memaksakan senyum tipis.


"Iya... setidaknya kita berhasil sampai sejauh ini."


Namun Jia Ning mendadak mengangkat kepala dan mengernyit kecil.


"...berhasil?"


Tatapannya berpindah dari Wenny, Kian Seng, lalu berhenti pada Mei Lan.


"Siapa bilang gagal?"


Ketiganya mengangkat kepala hampir bersamaan.


Wenny berkedip.


"Hah?"


Kian Seng ikut menoleh.

Sementara Mei Lan hanya menatap kosong.

Jia Ning mengusap pelipis perlahan sambil tertawa kecil. Itu bukan tawa lega, melainkan tawa lelah seseorang yang bahkan tampaknya belum benar-benar mencerna apa yang baru saja terjadi.


"Awalnya aku juga mengira semuanya sudah selesai."


Tatapannya perlahan kosong.

Dan tanpa sadar pikirannya kembali pada beberapa menit sebelumnya.



---


Pintu ruang rapat terbuka perlahan ketika seorang pria masuk sambil membawa amplop cokelat tipis di tangannya. Jas abu-abu gelap yang dikenakannya tampak sederhana, nyaris tidak mencolok dibanding orang-orang lain di ruangan itu.


Namun begitu Xu Wen Tao mengangkat kepala, ekspresinya langsung berubah.


"...Master Lie?"


Zhou Ren Jie ikut menoleh. Bahkan Presiden Direktur Aurora mengangkat alis kecil karena pria itu seharusnya sudah pergi jauh sebelum rapat dimulai.


Namun Lie Tian Yu tidak banyak bicara.

Ia berjalan menuju meja panjang, lalu meletakkan amplop itu di hadapan mereka.


"Saya belum menyerahkan penilaian."


Awalnya tidak ada yang merasa aneh. Selama bertahun-tahun Lie Tian Yu memang hampir tidak pernah mengikuti seluruh rangkaian acara sampai selesai. Kadang ia datang sebentar, mengamati, lalu pergi tanpa mengatakan apa pun.


Namun hari ini ia tak hanya kembali. Ia bahkan ikut memberikan suaranya?


Xu Wen Tao membuka amplop itu.

Ia membaca halaman pertama.

Diam.

Halaman kedua.

Masih diam.

Lalu perlahan ia mengangkat kepala.


"...Master Lie."


Zhou Ren Jie ikut menoleh.

Xu Wen Tao membalikkan lembar penilaian itu agar semua orang dapat melihatnya.

Lihat selengkapnya