Jalan Emas

Akana.T
Chapter #47

Di Balik Dinding

Bab 47

Di Balik Dinding


Ada rumah-rumah yang dibangun untuk melindungi orang dari hujan.


Ada yang dibangun untuk melindungi dari panas.


Dan ada rumah-rumah lain yang diam-diam dibangun untuk melindungi pemiliknya dari rasa takut terlihat kalah.


Namun seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa kemewahan memiliki satu kebiasaan buruk.


Karena semakin tebal dinding yang dibangun seseorang, kadang semakin keras gema kekalahan terdengar di dalamnya.



---


Malam sudah turun ketika Tan Bun melangkah memasuki rumahnya seorang diri.


Rumah besar itu berdiri di dalam kompleks elite dengan gerbang tinggi dan jalanan lebar yang dijaga petugas keamanan selama dua puluh empat jam. Lampu taman menyala hangat di sepanjang halaman depan, memantulkan cahaya pada dinding marmer dan pilar-pilar besar bergaya Eropa. Di sisi kanan rumah, garasi panjang dipenuhi mobil mewah yang berjajar rapi; SUV hitam, sedan premium, hingga mobil sport yang bahkan jarang dipakai.


Segalanya terlihat mahal.


Segalanya terlihat sempurna.


Dan malam ini semuanya terasa sangat kontras dibanding rumah mendiang kakaknya, Tan Hwa.


Rumah kecil dengan tembok yang mulai kusam. Atap yang pernah bocor saat hujan. Ruang makan sempit yang kursinya bahkan tidak pernah lengkap.


Namun anehnya, justru bayangan rumah itulah yang muncul begitu saja di kepalanya.


Dan itu membuat suasana hatinya semakin buruk.


Begitu mendengar suara pintu depan terbuka, langkah tergesa langsung terdengar dari dalam rumah. Lin Yue muncul sambil setengah berlari dengan wajah penuh harapan.


“Mengapa dari tadi tidak bisa dihubungi?”


"Bagaimana? Apa Jin Hao berhasil memenangkan tendernya?"


Sepasang matanya tampak berbinar.


Tan Bun tidak menjawab. Ia hanya menunduk pelan, melepas sepatu kulitnya satu per satu, lalu berdiri beberapa detik seolah terlalu lelah bahkan untuk berbicara.


Lin Yue mendekat dan memukul lengannya pelan.


"Ayolah ceritakan... apa saja yang terjadi di sana? Apa aku perlu memanggil wartawan lagi untuk mengabarkan kepada orang di luar sana bahwa—"


"Kita kalah."


Kalimat itu keluar pendek.


Lelah.


Dan tajam.


Pegangan Lin Yue pada lengannya perlahan mengendur.


"A.. apa?"


Tan Bun berjalan masuk tanpa menoleh. Sambil melangkah melewati ruang keluarga, tangannya menarik dasi di leher lalu melonggarkannya dengan gerakan kasar.


"Kataku..."


Ia berhenti sesaat sebelum melepas jasnya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa.


"...kita kalah."


Setelah itu ia menghempaskan tubuhnya ke sofa besar bergaya imperial yang mendominasi ruangan. Tubuhnya tenggelam di antara bantalan mahal yang biasanya terasa nyaman.


Malam ini tidak.


Lin Yue masih berdiri di tempatnya.


"Kalah? Tak mungkin..."


Ia tertawa kecil. Tertawa seseorang yang bahkan belum percaya pada apa yang baru saja didengarnya.


"Semalam saat anak itu menunjukkannya padaku... aku yakin ia akan keluar sebagai pemenang. Kalung bertahtakan phoenix itu adalah teknik tertinggi yang bisa diraih seseorang di negeri ini..."


Tan Bun memejamkan mata beberapa detik.


"Justru karena itu... kita kalah."


Lin Yue mengernyit.


Tan Bun membuka mata perlahan lalu menoleh.


"Mereka berkata bahwa ide Jin Hao terlalu sulit untuk dikembangkan karena fasilitasnya masih tidak ada. Dan... mengapa anakmu tidak berpikir sampai ke sana?"


Nada bicara Lin Yue mulai terdengar gagap.


"L.. lalu.. siapa pemenangnya?"


Tan Bun diam beberapa saat. Rahangnya mengeras.


Entah kenapa, bahkan sampai sekarang nama itu masih terasa sulit keluar.

Karena jauh di dalam dirinya ada sesuatu yang terasa lebih menyebalkan daripada sekadar kalah.

Lima belas tahun telah berlalu.

Lihat selengkapnya