Jalan Emas

Akana.T
Chapter #48

Yang Terkubur


Bab 48

Yang Terkubur


Ada orang yang percaya masa lalu akan selesai seiring waktu.

Ada yang percaya luka lama akan hilang jika cukup lama diabaikan.

Ada pula yang percaya bahwa rahasia, selama dikubur cukup dalam, pada akhirnya akan ikut mati.


Namun seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa masa lalu memiliki kebiasaan yang aneh.

Karena beberapa hal memang terlihat terkubur.

Sampai suatu hari... seseorang tanpa sengaja menggali tepat di tempat yang salah.



---


Langkah Tan Bun akhirnya membawanya berdiri di depan gedung kepolisian kota.

Gedung Polrestabes itu tampak jauh lebih besar dibanding yang diingatnya.

Cat dinding baru.

Area pelayanan lebih luas.

Papan petunjuk elektronik berdiri di beberapa sudut, sementara orang-orang keluar masuk dengan langkah tergesa.


Segalanya terlihat jauh lebih modern.


Namun entah mengapa, begitu melangkah masuk, dadanya tetap terasa sesak.

Karena lima belas tahun lalu—

kakaknya pernah masuk ke tempat seperti ini.

Dan sejak hari itu...Tan Hwa tak pernah keluar dari sana dan mereka tak pernah bertemu lagi.


Tan Bun menatap sekeliling beberapa saat sebelum berjalan menuju meja pelayanan.

Tak lama kemudian seorang petugas mengarahkannya ke ruang tunggu di bagian dalam.


Beberapa menit berlalu.

Lalu ia dipersilakan masuk ke sebuah ruangan kerja sederhana.

Tidak besar.

Hanya meja kerja, lemari arsip, pendingin ruangan tua, dan foto-foto penghargaan yang tergantung rapi di dinding.


Tan Bun duduk sambil menunggu.

Tak lama kemudian pintu terbuka.


Seorang pria paruh baya masuk sambil membawa map tipis di tangannya.

Rambutnya mulai menipis.

Tubuhnya sedikit lebih berisi dibanding dulu.


Namun sorot matanya masih sama.

Tajam.


Pria itu berhenti melangkah.

Mengernyit beberapa detik.


“Koh Tan Bun?”


Tan Bun perlahan berdiri.


Untuk sesaat keduanya hanya saling menatap.


Lalu mata pria itu membesar.

Senyumnya perlahan muncul.


“...sudah lama.”


Tan Bun mengangguk kecil.


“Pak Rudi.”


Mereka bersalaman erat.


Tangan pria itu bahkan menepuk lengan Tan Bun beberapa kali, seolah menyambut teman lama yang tiba-tiba muncul setelah bertahun-tahun menghilang.


AKP Rudi Hartono tertawa kecil sambil duduk.


“Wah... lima belas tahun ya?”


“Kau hampir tidak berubah.”


Tan Bun tersenyum tipis.


“Pak Rudi juga.”


“Ah, bohong.”


Rudi tertawa.


“Saya berubah banyak. Perut mulai maju, rambut mulai mundur.”


Tan Bun terkekeh kecil.


Untuk sesaat suasana terasa lebih ringan.


Rudi menyandarkan tubuhnya.


“Kudengar sekarang kau sukses.”


Tan Bun mengangkat alis kecil.


“Saya lihat foto Jin Hao di majalah.”


Rudi menggerakkan tangannya antusias.


“Wah... anakmu itu luar biasa. Lulusan Amerika, berbakat, wajah bagus...”


Ia menunjuk Tan Bun sambil tertawa.


“Paket komplit. Persis bapak ibunya.”


Tan Bun tersenyum.


Namun senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.


“Masih kalah dengan Pak Rudi.”


Ia ikut tertawa kecil.


“Saya dengar sekarang sudah naik jabatan.”


“Wah... prestasinya luar biasa.”


Rudi melambaikan tangan.


“Ah biasa saja.”


Lalu beberapa detik kemudian ia menatap Tan Bun.


Senyumnya masih ada.


Namun kali ini lebih kecil.


“Jadi...”


“Ada perlu apa sampai datang ke sini, Koh?”


Ruangan perlahan kembali tenang.


Tan Bun menurunkan pandangannya.

Kedua tangannya bertaut pelan di atas meja.

Untuk sesaat ia terlihat berpikir.

Lalu ekspresinya berubah.


Lebih serius.


“Begini...”


Ia berhenti sebentar.


Lihat selengkapnya