Bab 49
Jejak yang Tertinggal
Ada orang yang percaya bahwa waktu mampu menghapus penyesalan.
Ada pula yang percaya bahwa manusia akan terbiasa hidup bersama luka jika diberi waktu yang cukup lama.
Namun seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa penyesalan memiliki sifat yang sangat aneh.
Karena ada penyesalan yang tidak datang saat seseorang kehilangan sesuatu.
Melainkan datang ketika seseorang akhirnya menyadari... bahwa selama ini ia kehilangan orang yang salah.
---
Pagi itu harum mawar putih tertiup angin lirih di antara deretan makam yang masih basah oleh embun. Langit mendung tipis menggantung rendah, sementara angin bergerak pelan melewati rerumputan liar di sela batu nisan dan menggoyangkan daun-daun kecil yang menempel pada pagar besi tua.
Di antara lorong makam yang sunyi itu, Tan Bun melangkah perlahan sambil menggenggam buket mawar putih di tangannya.
Langkahnya terasa berat.
Matanya sembab. Pandangannya kosong. Sejak semalam ia hampir tidak tidur sama sekali. Rasa bersalah dan penyesalan datang menderanya silih berganti melebihi sergapan hawa dingin malam yang membeku.
Dan kini langkahnya berhenti di depan sebuah batu nisan sederhana.
Tak besar.
Tak mewah.
Tak berbeda dengan makam-makam lain di sekelilingnya.
Namun untuk beberapa saat, Tan Bun hanya berdiri diam menatap foto kecil di atas batu nisan itu.
Tan Hwa.
Masih dengan senyum yang sama.
Dan entah mengapa, justru senyum itu terasa jauh lebih menyakitkan sekarang.
Bibir Tan Bun bergerak perlahan.
Namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan.
Sampai beberapa detik kemudian, suara kecil itu akhirnya keluar.
"Ko..."
Pelan.
Sangat pelan.
Dan ketika panggilan itu keluar dari bibirnya, air matanya langsung menggenang.
Lima belas tahun.
Mungkin lebih.
Dan selama itulah.. ia menganggap dan menyebut kakaknya sebagai seorang ‘kriminal’.
Perlahan diletakkannya bunga di depan batu nisan, namun saat tubuhnya sedikit membungkuk, sesuatu di dalam dirinya mendadak terasa runtuh.
Lututnya jatuh menghantam tanah.
Tangannya mencengkeram sisi batu nisan erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya terpejam.
Dan tanpa diminta, ingatan-ingatan yang sejak semalam terus menghantuinya mulai bermunculan silih berganti.
Sebuah meja kerja tua.
Lampu toko.
Suara kipas angin yang berputar pelan.
Dan seseorang yang sedang memegang gelang emas sambil mengernyitkan dahi.
Tan Hwa.
"Bun..."
"Ini dari mana?"
Suara itu terasa begitu jelas.
Begitu dekat.
Dan seketika ingatan lain menyusul.
Dirinya yang lebih muda berdiri sambil menatap kakaknya dengan wajah merah padam.
"Maksudmu apa?"
"Aku cuma bertanya."
"Bertanya?"
"Atau kau pikir aku mencurinya?"
"Dari dulu selalu begini!"
"Kalau aku melakukan sesuatu kau selalu menganggap aku bodoh!"
"Kau pikir aku tidak bisa apa-apa?!"
Ingatan itu pecah.
Menghilang.
Lalu berganti.
Kini yang muncul adalah kamar besar di rumahnya sendiri semalam...
Koper tua terbuka di atas ranjang.
Perhiasan berserakan.
Dan Lin Yue berdiri beberapa langkah di depannya dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Kalau emas itu sudah disita polisi..."
Suara Tan Bun terdengar serak.
Asing.
Seolah bukan suaranya sendiri.
"Lalu benda-benda ini apa?"
"Apa ini?!"