Bab 50
Api Tidak Menghapus Jejak
Ada emas yang diwariskan sebagai harapan.
Ada emas yang diwariskan sebagai kekayaan.
Dan ada emas yang tanpa disadari mewariskan dosa dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa warisan yang paling berat bukanlah emas itu sendiri.
Melainkan jejak yang ditinggalkannya.
---
Pagi itu aroma bawang putih yang ditumis perlahan memenuhi dapur kecil rumah Ah Lian.
Di depan kompor, perempuan paruh baya itu mengaduk sayuran dengan gerakan yang sudah begitu akrab selama puluhan tahun. Sesekali senyum tipis terlukis di sudut bibirnya, sesuatu yang bahkan ia sendiri baru menyadarinya sejak bangun pagi tadi.
Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan hati seringan ini.
Semalam, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, meja makan kecil di rumah itu dipenuhi tawa.
Kian Seng yang biasanya hanya berbicara seperlunya, beberapa kali melontarkan candaan hingga membuat Mei Lan tertawa. Mereka bertiga makan bersama sambil membicarakan keberhasilan Mei Lan memenangkan tender Sentra Pengrajin Gresik. Tak ada hidangan mewah. Hanya beberapa masakan sederhana yang dimasak Ah Lian dengan bahan-bahan yang ada di rumah.
Namun bagi Ah Lian, makan malam itu terasa lebih berharga daripada pesta sebesar apa pun.
Untuk pertama kalinya sejak Tan Hwa pergi...
Rumah itu kembali terasa seperti rumah.
Semalam, sebelum tidur, Ah Lian bahkan sempat memandangi kedua anaknya yang sedang membereskan meja makan sambil bercakap-cakap. Pemandangan sederhana yang dulu begitu biasa, tetapi kini terasa seperti anugerah yang hampir mustahil kembali dimilikinya.
Mungkin...
setelah sekian lama...
masa depan akhirnya mulai menemukan jalan pulang ke rumah mereka.
Senyum kecil itu masih tersisa ketika ia kembali mengaduk masakan di atas kompor.
Tepat saat itulah...
Ting tong...
Suara bel rumah memecah keheningan pagi.
Ah Lian segera meletakkan spatulanya di atas meja, mencuci tangan, lalu mengeringkannya dengan handuk kecil yang tergantung di samping wastafel sebelum berjalan menuju pintu depan dengan sedikit rasa heran di wajahnya.
Masih terlalu pagi untuk menerima tamu.
Kian Seng dan Mei Lan sudah berangkat bekerja sejak beberapa jam lalu, sementara dirinya sendiri hampir tidak pernah menerima kunjungan siapa pun. Sejak Tan Hwa ditangkap karena kasus emas curian lima belas tahun silam, sebagian besar saudara dan kenalan perlahan menjauh dari keluarganya. Rumah itu menjadi terlalu sunyi untuk waktu yang sangat lama.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu rumah begitu pandangannya menangkap sosok lelaki yang berdiri di balik pagar, napasnya seketika tertahan.
Udara terasa tercekat di kerongkongannya.
Dadanya mendadak sesak oleh perasaan yang bahkan tidak mampu ia beri nama.
Lelaki itu adalah orang yang selama bertahun-tahun tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah ini.
Orang yang pernah menjadi adik kandung suaminya.
Dan juga...
orang yang memilih mempercayai tuduhan terhadap Tan Hwa, lalu membiarkan keluarganya menghadapi semuanya seorang diri.
Tan Bun.
Wajah pria itu tampak jauh berbeda dibanding yang terakhir kali ia lihat. Rambutnya dipenuhi uban dan terkesan awut-awutan.
Matanya sembab.
Sorot matanya yang dahulu selalu tegas kini justru dipenuhi kelelahan yang sulit disembunyikan.
Pandangan Ah Lian turun.
Dilihatnya di kedua tangan Tan Bun tergenggam sebuket bunga krisan putih.
Gemuruh sesak memenuhi rongga dada Ah Lian.