Jalan Emas

Akana.T
Chapter #51

Tangan yang Dibutuhkan Aurora

Bab 51

Tangan yang Dibutuhkan Aurora



Ada emas yang bernilai karena kemurniannya.

Ada emas yang bernilai karena bentuknya.

Dan ada emas lain yang justru menjadi tak ternilai karena tangan yang membentuknya.


Namun seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa karya terbesar tidak pernah lahir hanya dari logam yang baik.

Melainkan dari tangan yang mampu memahami sifat logam itu sendiri.

Karena setiap emas memiliki wataknya masing-masing.

Ada yang patuh ketika dipanaskan.

Ada yang baru menunjukkan keindahannya setelah ditempa berkali-kali.


Dan ada pula yang begitu rumit, hingga hanya segelintir tangan yang mampu membentuknya tanpa menghilangkan jiwanya.

Ketika sebuah karya akhirnya membutuhkan tangan seperti itu...

sering kali, bukan lagi keterampilan yang menjadi persoalan.

Melainkan kepada siapa tangan itu sebenarnya bekerja.



---



Pagi di Sentra Pengrajin Gresik sudah dipenuhi suara logam bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.


Denting palu kecil bersahut-sahutan dari berbagai sudut workshop. Api tungku menyala sejak subuh. Bau logam panas bercampur cairan polishing dan asap arang memenuhi udara sempit di antara meja-meja kerja yang dipenuhi alat pengrajin.


Namun pagi itu suasana workshop utama terasa jauh lebih tegang dibanding biasanya.


Beberapa pengrajin bekerja tanpa banyak bicara. Sebagian lain sesekali melirik jam dinding tua yang terus bergerak.

Waktu mereka semakin sedikit.


Di salah satu meja panjang dekat jendela, Mei Lan sedang memeriksa sebuah gelang emas menggunakan kaca pembesar kecil. Jemarinya bergerak hati-hati mengikuti lengkungan permukaan logam itu, sementara lingkar hitam samar di bawah matanya menunjukkan bahwa ia sudah terlalu lama kurang tidur.

Di sampingnya, baki-baki perhiasan masih menumpuk menunggu finishing.


Belum selesai.

Masih terlalu banyak yang belum selesai.


“Batch ketujuh gagal lagi.”


Salah satu pengrajin senior meletakkan gelang setengah jadi di atas meja.


“Sambungannya muncul.”


Kian Seng yang sedang memeriksa data produksi langsung mengangkat kepala.


“Yang mana?”


Pengrajin itu menunjuk bagian dalam lengkungan gelang.

Mei Lan buru-buru mengambil piece tersebut lalu memiringkannya perlahan di bawah cahaya lampu kerja.


Dan benar.


Ada garis tipis yang nyaris tidak terlihat.

Sangat tipis.

Namun tetap ada.


Bagi orang biasa, itu mungkin bukan masalah.

Tetapi bagi pengrajin seperti mereka—

sambungan yang terlihat berarti karya itu gagal.


Suasana workshop kembali hening.

Karena beberapa minggu terakhir masalah seperti itu mulai muncul semakin sering.

Kadang sambungan terlihat.

Kadang bentuk lengkungannya berubah setelah pendinginan.

Kadang struktur logam terlalu keras sehingga detail kecil kehilangan kesan organiknya.


Dan semua orang di ruangan itu mulai menyadari satu hal yang sama—

karya Mei Lan terlalu sensitif untuk diproduksi dalam jumlah besar dengan metode biasa.


Kian Seng mengambil piece itu lalu mengamatinya beberapa detik.


“Cooling rate-nya berubah lagi,” gumamnya pelan.


“Bukan cuma itu,” sahut pengrajin lain sambil menggeleng. “Karakter logamnya juga tidak stabil.”


Mei Lan perlahan mengangkat wajah.


“Tidak stabil bagaimana?”


“Sulit dijelaskan...”


Pengrajin itu tampak ragu mencari kata yang tepat.


“Kadang terlalu lunak.”


“Kadang terlalu keras.”


“Padahal komposisinya sama.”


Hening kembali turun.


Karena semua orang di ruangan itu tahu sesuatu yang sama—

logam tidak berubah tanpa alasan.


Di meja lain, seorang kru produksi buru-buru masuk membawa map timeline.


“Mbak Mei Lan...”


Napasnya sedikit terengah.


“Workshop Surabaya baru menghubungi lagi.”


“Mereka bilang kalau dua puluh tiga set terakhir tidak masuk minggu ini, jadwal fitting Aurora bisa berantakan.”


Lihat selengkapnya