Bab 52
Api yang Tidak Berbohong
Ada orang yang percaya bahwa emas selalu menunjukkan bentuk terbaiknya saat dipoles.
Namun seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa emas justru paling jujur saat berada di dalam api.
Karena di bawah panas yang cukup tinggi, logam tidak lagi mampu menyembunyikan sifat aslinya.
Ia akan menunjukkan apakah dirinya rapuh.
Apakah dirinya tercampur sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Atau apakah sejak awal… ada sesuatu yang salah pada cara ia dilahirkan.
---
Malam mulai turun di kawasan Kalimas Lama.
Gudang-gudang tua berdiri memanjang di sisi jalur pelabuhan dengan dinding logam kusam yang memantulkan cahaya jingga dari lampu industri. Di kejauhan suara kontainer, rantai derek, dan klakson kapal terdengar samar bercampur denting logam dari area workshop refining.
Fasilitas refining Celestia berdiri di salah satu area gudang lama dekat dermaga, tersembunyi di balik bangunan industri yang dari luar tampak biasa saja.
Namun di dalamnya—
api menyala hampir dua puluh empat jam.
Udara malam dipenuhi aroma logam panas dan asap furnace. Pipa-pipa ventilasi besar berdengung rendah di langit-langit sementara cahaya kemerahan dari tungku memantul di permukaan lantai beton.
Sebagian besar staf produksi sudah pulang.
Workshop mulai jauh lebih sunyi dibanding siang tadi.
Namun di salah satu area refining belakang, seorang pria masih berdiri di depan furnace yang menyala terang.
Cairan emas bergejolak pelan di dalam crucible tahan panas, memantulkan cahaya api ke wajah Liem Jin Hao yang sejak tadi tak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Tangannya memutar kenop temperatur perlahan.
Matanya mengamati perubahan warna logam cair itu dengan fokus yang nyaris berlebihan.
Beberapa detik kemudian ia mengambil batang karbon kecil lalu menyentuh permukaan lelehan emas.
Gerakan kecil.
Presisi.
Dan nyaris tanpa ragu.
Dari arah belakang langkah kaki perlahan mendekat.
“Masih belum pulang?”
Suara berat itu membuat Jin Hao menoleh sekilas.
Lim Kok Wei berjalan mendekat sambil membuka jas tipisnya. Wajah pria itu tampak sedikit lelah setelah seharian penuh menghadiri pertemuan dan urusan bisnis.
Namun matanya masih setajam biasanya.
Jin Hao kembali memandang furnace.
“Batch ini belum stabil.”
Kok Wei berdiri di sampingnya sambil ikut memperhatikan logam cair di dalam tungku.
“Asal materialnya?”
“Sebagian baru masuk minggu lalu.”
Jawaban itu pendek.
Namun cukup membuat Kok Wei memahami mengapa Jin Hao masih berada di workshop sampai malam.
Hening beberapa detik memenuhi area refining.
Hanya suara api dan dengungan exhaust yang terdengar di sekitar mereka.
Lalu Kok Wei berkata santai,
“Tadi siang Aurora menelepon.”
Tangan Jin Hao berhenti sesaat.
Matanya belum berpindah dari furnace.
Namun kerutan tipis mulai muncul di dahinya.
Kok Wei melanjutkan,
“Mereka bilang sedang butuh bantuan untuk proyek Aurora Fashion.”
Kini Jin Hao benar-benar menoleh.
“Aurora?”
Kok Wei mengangguk kecil.
“Mereka ingin kau masuk membantu bagian refining dan stabilitas material.”