Bab 53
Tangan yang Mengingat Api
Ada emas yang dibentuk oleh mesin.
Ada emas yang dibentuk oleh cetakan.
Dan ada emas yang hanya mau tunduk kepada tangan yang telah lama mengenal api.
Seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa api memang mampu mengubah logam.
Namun hanya tangan yang pernah hidup bersama api...
yang tahu kapan logam harus disentuh...
dan kapan ia harus dibiarkan berbicara sendiri.
---
Pagi belum benar-benar ramai saat mobil hitam milik Celestia berhenti di ujung kawasan Sentra Pengrajin Gresik.
Liem Jin Hao turun perlahan.
Sepasang matanya langsung memandang deretan bangunan tua di hadapannya.
Gang-gang sempit.
Rumah-rumah lama berdinding kusam.
Papan toko emas kecil yang catnya mulai memudar dimakan usia.
Beberapa workshop bahkan nyaris tidak terlihat seperti tempat kerja. Dari luar hanya tampak seperti rumah penduduk biasa dengan pintu kayu terbuka dan suara denting logam samar keluar dari dalamnya.
Udara pagi dipenuhi aroma kopi hitam, asap solder, dan logam panas.
Sangat berbeda dari Kalimas Lama.
Di Celestia, suara furnace besar dan ventilasi industri memenuhi ruang seperti jantung mesin raksasa yang tidak pernah tidur.
Namun di sini— api terdengar kecil.
Manusia.
Nyaris intim.
Dentang palu terdengar dari berbagai arah dengan ritme berbeda-beda, seperti kawasan ini memiliki denyut hidupnya sendiri.
Tatapan Jin Hao bergerak perlahan menyusuri jalan sempit itu.
Beberapa pria tua duduk di depan workshop sambil mengikir cincin.
Seorang anak muda membawa baki kecil berisi batu zircon dan komponen setting.
Di kejauhan, seorang ibu menjemur pakaian hanya beberapa meter dari meja casting kecil yang masih mengepulkan asap panas.
Tidak ada batas jelas antara rumah dan tempat kerja di kawasan itu.
Karena di sini—
emas bukan sekadar bisnis.
Melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Suara rem hidrolik terdengar dari belakang.
Jin Hao menoleh.
Sebuah truk kecil berhenti tidak jauh darinya.
Logo Celestia tampak samar di sisi kontainer logamnya.
Beberapa peti material refining mulai diturunkan perlahan oleh staf pengiriman.
Batangan emas refining.
Material produksi.
Dan beberapa batch khusus yang dikirim langsung dari fasilitas Kalimas Lama.
Untuk sesaat Jin Hao hanya memandang proses itu dalam diam.
Aneh.
Emas yang lahir dari furnace industri Celestia kini berdiri di tengah kampung pengrajin tua yang bahkan sebagian workshopnya masih menggunakan alat generasi lama.
Dua dunia berbeda—
dipaksa bertemu di jalan sempit yang sama.
“Liem Jin Hao?”
Suara perempuan itu membuatnya menoleh.
Jia Ning berdiri tidak jauh darinya.
Hari ini perempuan itu mengenakan kemeja putih sederhana dengan apron kerja abu gelap yang bagian depannya dipenuhi noda halus bekas polishing dan serbuk logam.
Rambutnya diikat cepat seadanya.
Tidak seperti staf Aurora.
Tidak seperti dunia showroom Surabaya.
Di sini ia terlihat jauh lebih menyatu dengan kawasan itu.
Jia Ning berjalan mendekat lalu sedikit tersenyum sopan.
“Aku pikir kau akan datang lebih siang.”
Tatapan Jin Hao kembali sekilas pada peti-peti refining Celestia yang sedang dipindahkan.
“Aku ingin melihat tempatnya dulu.” jawab Jin hao pendek.
Namun Jia Ning menangkap sesuatu dari cara pria itu memandang kawasan sekitar.
Rasa ingin tahu.
Atau mungkin—
sedikit keterkejutan.
Karena bahkan orang seperti Jin Hao tampaknya tidak membayangkan bahwa seluruh aksesori peragaan fashion terbesar nanti terlahir dari tempat seperti ini.
Jia Ning mengikuti arah pandangnya.
“Tidak seperti yang kau bayangkan?”
Jin Hao terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan,
“Lebih kecil.”
Kepalanya mengangguk dan matanya tak berhenti menyapu sekelilingnya.
Dentang palu kembali terdengar dari ujung gang.
Api kecil menyala di salah satu workshop terbuka.
Kawasan itu terlihat lebih sederhana, lebih berantakan, dan lebih...
Suara dering bel sepeda memotong keheranannya. Jin Hao sedikit memutar tubuhnya.. dan seorang anak melaju dengan sepedanya di depannya..