Jalan Emas

Akana.T
Chapter #54

Logam yang Tidak Pulang

Bab 54

Logam yang Tidak Pulang


Ada emas yang kehilangan bentuknya saat dilebur terlalu sering.

Bukan karena kadarnya hilang.

Melainkan karena terlalu banyak tangan pernah mencoba menghapus asalnya.


Waktu kecil, aku pernah berpikir semua emas pada akhirnya hanya akan menjadi emas.

Cukup dilebur.

Dimurnikan.

Dibentuk ulang.


Namun semakin lama aku tumbuh…

aku mulai menyadari bahwa beberapa logam tetap membawa sesuatu yang tertinggal di dalamnya.

Jejak panas.

Jejak ketakutan.

Jejak tangan terakhir yang pernah menggenggamnya.


Dan kadang—

meski warnanya sudah berubah sempurna…

logam tertentu tetap terasa seperti benda yang tidak pernah benar-benar pulang.



---


Pagi di workshop belakang Golden Road masih dipenuhi suara kerja yang tenang.

Api solder kecil mendesis pelan.

Gesekan amplas terdengar ritmis dari meja depan.

Sesekali suara palu kecil berdenting tipis dari workshop sebelah menembus dinding kayu tua.


Mei Lan masih berdiri dekat meja kerjanya.

Prototype bunga logam tipis itu masih berada di tangan Jin Hao.

Sementara atmosfer ruangan belum benar-benar pulih setelah kritik pria itu beberapa menit lalu.


“Kalau cooling rate-nya meleset sedikit saja, bentuknya akan berubah waktu finishing.”


Kalimat itu masih tertinggal jelas di kepala Mei Lan.

Ia tidak suka cara Jin Hao mengatakannya.

Terlalu yakin.

Terlalu tenang.


Seolah pria itu sudah membaca kelemahan desainnya hanya dalam sekali lihat.


Namun bagian paling mengganggunya—

adalah karena ia tahu Jin Hao mungkin benar.


Suara langkah cepat terdengar dari arah depan workshop.

Lalu beberapa detik kemudian Kian Seng muncul sambil membawa kotak logam kecil dan map produksi yang dijepit seadanya di bawah lengan.


“Batch Celestia sudah sampai.”


Ia berhenti sesaat begitu melihat suasana ruangan.

Tatapannya berpindah dari Mei Lan… ke Jin Hao… lalu ke prototype di tangan pria itu.

Alisnya sedikit terangkat.


“…aku datang di waktu buruk?”


Tak ada yang menjawab.

Jia Ning menghela napas kecil.


“Kau sudah telat.”


“Ah.”


Kian Seng memutuskan pura-pura tidak peduli lalu berjalan mendekat ke meja kerja Mei Lan.

Kotak logam kecil itu diletakkannya pelan di atas meja.

Bunyi benturannya pendek.


Namun entah kenapa— Mei Lan langsung mengangkat kepala.

Jarinya berhenti bergerak.

Matanya jatuh tepat ke kotak batch berlogo Celestia Refining Division itu.


Untuk beberapa detik… ia hanya diam.

Kian Seng membuka pengunci logamnya.


Di dalamnya tersusun beberapa batang sample refining kecil dengan label batch rapi.

Permukaannya bersih.

Terlalu bersih.

Pantulan warnanya rata dan dingin seperti permukaan air tenang yang tidak memiliki kedalaman.

Lihat selengkapnya