Jalan Emas

Akana.T
Chapter #55

Orang yang Terlambat Pulang

Bab 55

Orang yang Terlambat Pulang


Ada orang-orang yang tidak jatuh ke dalam kegelapan karena mereka jahat.

Melainkan karena terlalu lama berdiri di dekatnya sampai mata mereka perlahan terbiasa.

Awalnya hanya diam.

Lalu membiarkan.

Lalu mulai percaya bahwa mungkin semua memang berjalan seperti itu.

Bahwa dunia memang kotor.

Bahwa semua orang melakukannya.

Bahwa selama tidak ada darah di tangan sendiri, maka semuanya masih bisa ditoleransi.


Namun dosa memiliki cara aneh untuk tetap tinggal.

Ia tidak hilang hanya karena seseorang menundukkan kepala dan berpura-pura tidak melihat.

Dan kadang—

saat seseorang akhirnya ingin melakukan hal yang benar…

yang tersisa bukan lagi keberanian.

Melainkan ketakutan bahwa semuanya sudah terlambat.



---


Tan Bun sudah berdiri cukup lama di depan kantor polisi hingga matahari pagi mulai naik perlahan di balik deretan bangunan kota lama.


Beberapa kendaraan keluar masuk halaman gedung.


Seorang petugas sempat meliriknya heran saat pria paruh baya itu tetap berdiri di tempat yang sama tanpa bergerak sedikit pun.


Namun Tan Bun sendiri tidak benar-benar menyadari berapa lama waktu telah berlalu.

Kakinya terasa berat.

Dadanya dipenuhi sesuatu yang menggantung sejak semalam.


Ia sudah berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri untuk masuk.

Mengakhiri semuanya.

Mengatakan apa yang seharusnya sudah ia katakan sejak bertahun-tahun lalu.


Namun setiap kali mencoba melangkah—

bayangan Lin Yue dan Jin Hao silih berganti muncul di kepalanya.


“Kau mau menghancurkan masa depan anak kita?” suara Lin Yue kembali menggema.


Tan Bun memejamkan matanya.. air matanya tertahan. Kepalanya menggeleng pelan...


‘Tidak.. tidak..’ batinnya berulang-ulang.

“Aku hanya ingin kakakku mendapatkan keadilan..” bisik Tan Bun berulang seraya meremas rambutnya.


“Tan Hwa sudah mati 15 tahun yang lalu.. apa keadilan akan menghidupkan kakakmu kembali?”

Pertanyaan Lin Yue bagai ujung bilah yang beruntun satu per satu menembus ulu hatinya..

“Tapi anak kita.. Jin Hao masih hidup.. masih sangat muda... apa kau tega merampas masa depannya?”


Kaki Tan Bun kembali mundur,

Dan ketakutan itu kembali menahannya.

Kantor polisi itu sebenarnya hanya tinggal beberapa langkah di depannya.

Dekat.

Terlalu dekat.

Namun semakin dekat tempat itu terasa—

semakin besar pula rasa takut yang menarik tubuhnya mundur.


Lalu aroma asap dupa kembali hadir dalam ingatannya.

Masih terbayang dengan jelas, bagaimana Ah Lian menyerahkan dua batang dupa yang menyala ke arahnya.

“Dulu Kau menolak untuk menemui kakakmu di detik-detik terakhir semasa hidupnya.”

Ia berhenti sejenak. Mengusap air mata yang mengalir deras di wajahnya.

Suaranya terdengar tersekat.

“Setidaknya... sekarang sapalah kakakmu...”

Kalimat itu kembali terhenti.

“Aku rasa.. ia pasti sangat merindukanmu..”


Air mata Tan Bun kembali menetes.

Seketika ratusan panah seolah menghujam ulu hatinya.

Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menekan wajahnya dengan kedua tangan.

Ia tidak tahu lagi mana yang lebih menyakitkan:

hidup dengan dosa selama lima belas tahun…

Lihat selengkapnya