Jalan Emas

Akana.T
Chapter #56

Api yang Tidak Tidur

Bab 56

Api yang Tidak Tidur


Ada api yang membakar untuk menghancurkan.

Ada pula api yang membakar untuk memurnikan.

Namun seorang refiner tua pernah berkata bahwa logam tidak pernah benar-benar peduli pada tujuan manusia.

Api hanya akan melakukan satu hal:

mengangkat semua yang tersembunyi ke permukaan.


Karena di bawah panas yang cukup tinggi—

kotoran akan mulai naik.

Retakan mulai terlihat.

Dan sesuatu yang selama ini terkubur rapat perlahan tidak lagi mampu bersembunyi.



---


Malam telah melewati pukul sebelas ketika furnace utama di fasilitas refining Celestia masih menyala terang di kawasan Kalimas Lama.


Di luar bangunan, suara kontainer yang dipindahkan crane pelabuhan terdengar samar bercampur bunyi klakson kapal dari arah dermaga tua. Jalur industri itu tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan saat sebagian besar kota mulai gelap dan sunyi, kawasan gudang tua dekat pelabuhan tersebut tetap dipenuhi suara logam, mesin, dan kendaraan berat yang keluar masuk membawa material.


Panas memenuhi ruangan refining.

Lampu industri memantulkan cahaya kekuningan di lantai baja yang sedikit bergetar akibat mesin furnace berkapasitas besar yang terus bekerja tanpa henti.

Jin Hao berdiri di depan panel monitoring sambil mengenakan protective coat abu gelap dan sarung tangan tahan panas. Pantulan cahaya merah-oranye dari tungku peleburan bergerak samar di wajahnya saat matanya mengawasi angka temperatur yang terus berubah di monitor.


Di balik kaca tahan panas, emas yang sedang dilebur perlahan berubah menjadi cairan menyala dengan warna merah keemasan yang hampir menyilaukan.


Seorang operator berjalan mendekat membawa tablet laporan batch.


“Batch tujuh belas sudah selesai dipisahkan, Hao ke.”


Jin Hao menerima tablet itu tanpa banyak bicara. Matanya bergerak cepat membaca angka-angka purity result sebelum mengangguk pendek.


“Naikkan holding temperature dua belas derajat. Jangan terlalu cepat turunkan flux ratio.”


“Baik.”


Operator itu segera pergi kembali.


Ruangan kembali dipenuhi suara furnace.

Suara api.

Suara logam.

Dan entah kenapa malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama bekerja di tempat ini, semua suara tersebut terasa berbeda di telinga Jin Hao.

Lebih berat.

Lebih sesak.


Seolah ada sesuatu yang terus mengetuk bagian belakang pikirannya tanpa henti.

Ia menatap cairan emas di balik kaca furnace beberapa detik lebih lama dari biasanya.


Lalu tanpa sadar—

suara Mei Lan kembali muncul di kepalanya.


“Seharusnya kau juga tahu.”


Jin Hao mengembuskan napas pelan sambil memijat pelipisnya.

Ia masih mengingat jelas wajah Mei Lan hari itu.

Nada penuh kecurigaan dalam suaranya.

Atau bahkan..

Tatapan matanya yang seolah sedang mencoba memperingatkannya tentang sesuatu yang bahkan tidak ia pahami.


Awalnya Jin Hao mengira Mei Lan hanya terlalu emosional setelah semua yang terjadi di Sentra Pengrajin Gresik.

Namun semakin dipikirkannya—

semakin kalimat itu terasa mengganggu.


“Seharusnya kau juga tahu.”


Tahu tentang apa?

Jin Hao menatap kembali laporan refining di tangannya.


Nama batch.

Nomor validasi.

Approval refining.


Semua terlihat normal seperti biasa.

Sangat normal.


Dan justru karena itulah sebuah perasaan aneh mulai tumbuh perlahan di dalam dadanya.

Karena dunia refining memang selalu seperti ini.

Orang menerima material.

Memeriksa kadar.

Memurnikan logam.

Mengeluarkan sertifikasi.

Lalu semuanya selesai.


Tidak banyak orang bertanya terlalu jauh mengenai dari mana semuanya berasal.

Selama angka cocok.

Selama dokumen lengkap.

Selama kadar kemurnian sesuai standar.


Furnace akan terus menyala.

Produksi akan terus berjalan.

Jin Hao memejamkan matanya sejenak.

Entah kenapa malam itu udara terasa lebih panas dari biasanya.

Atau mungkin bukan ruangan ini yang berubah.

Melainkan pikirannya sendiri.


Tepat saat itulah ponselnya bergetar di atas meja stainless dekat panel monitor.

Nama yang muncul di layar membuat alisnya langsung berkerut.


Papa.


Jin Hao segera mengangkat panggilan itu.


“Pa?”


Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Yang terdengar hanya suara musik pelan dan riuh percakapan samar dari kejauhan.


Lalu suara Tan Bun akhirnya terdengar dari seberang.


“Heh… Hao…”


Suara itu berat.

Pelo tipis.

Dan langsung membuat Jin Hao berdiri tegak.


“Papa minum?”


Tan Bun tertawa kecil. Terdengar kosong.


“Sedikit…”


Jin Hao langsung menoleh ke arah jam dinding.

Hampir tengah malam.

Tan Bun bukan orang yang sering mabuk. Ia hanya mabuk jika ada masalah dalam hatinya.

Karena itu sesuatu di dalam diri Jin Hao langsung terasa tidak nyaman.


“Papa ada di mana?”

Lihat selengkapnya