Jalan Emas

Akana.T
Chapter #58

Api Menjelang Subuh

Bab 58

Api Menjelang Subuh


Ada api yang membakar perlahan.

Tanpa suara.

Tanpa asap besar.

Tanpa membuat siapa pun sadar bahwa sesuatu sedang berubah.


Namun seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa api paling berbahaya justru bukan api yang langsung menghancurkan.

Melainkan api kecil yang diam-diam merambat di bawah lantai kayu rumah seseorang.

Karena saat orang akhirnya mencium bau hangus—

biasanya semuanya sudah terlambat.



---


Aurora Grand Hall dipenuhi cahaya keemasan ketika peragaan utama akhirnya dimulai.


Deretan chandelier kristal menggantung tinggi di langit-langit ballroom, memantulkan kilau lembut ke lantai marmer hitam yang mengilap seperti permukaan air tenang. Musik orkestra modern mengalun pelan dari speaker tersembunyi, bercampur suara langkah kaki, dentingan gelas champagne, dan bisik-bisik para tamu undangan yang memenuhi ruangan.

Investor.

Jurnalis fashion.

Partner bisnis.

Sosialita.

Serta nama-nama besar dunia luxury jewellery Asia.

Di sepanjang sisi ballroom, berbagai exhibition booth berdiri megah di bawah pencahayaan artistik.


Booth milik Celestia Jewellery menjadi salah satu pusat perhatian terbesar malam itu.


Panel hitam mengilap membingkai seluruh display mereka dengan nuansa modern dan mewah. Lampu sorot putih diarahkan khusus untuk membuat setiap permata memantulkan cahaya sekuat mungkin.


Di balik kaca antipeluru, berbagai koleksi high jewellery dipamerkan di atas pedestal beludru hitam:

kalung berlian bertingkat dengan centerpiece emerald besar,

gelang emas putih bertabur safir,

serta rangkaian anting panjang yang berkilau nyaris menyilaukan mata.


Semuanya dibuat untuk satu tujuan:

menarik perhatian sejak detik pertama.

Dan memang berhasil.

Bahkan sebelum acara dimulai, area Celestia sudah dipenuhi orang-orang yang sibuk mengagumi detail koleksi mereka sambil sesekali mengangkat kamera.


“Tipikal Celestia…”


“Mewah sekali…”


“Lihat pantulan batunya…”


Bisik-bisik kagum terus terdengar dari berbagai arah.


Tidak jauh dari sana, Lim Kok Wei berdiri sambil berbincang santai dengan beberapa partner bisnis luar negeri. Tuxedo hitam yang dikenakannya tampak sempurna di bawah cahaya ballroom, sementara senyum kecil di wajahnya terlihat tenang seperti seseorang yang sudah terlalu lama terbiasa menjadi pusat perhatian.


Di sisi lain ruangan—

area milik Sentra Pengrajin Gresik tampak jauh lebih sederhana.

Tidak ada panel besar.

Tidak ada layar digital.

Tidak ada pencahayaan mencolok.


Hanya display kayu gelap dengan lampu hangat yang dibuat lembut agar detail pengerjaan tangan menjadi pusat perhatian utama.


Dan malam itu—

untuk pertama kalinya karya dari dua dunia yang sangat berbeda berdiri dalam ruangan yang sama.


Di satu sisi:

kemewahan modern yang besar, terang, dan dibuat untuk memukau.

Di sisi lain:

karya-karya tenang yang tidak meminta dilihat… namun perlahan membuat orang sulit berpaling.


Lampu ballroom perlahan meredup.

Percakapan mengecil.

Lalu layar utama menampilkan tulisan:

Aurora Spring Gala — Silent Spring.

A collaborative collection by Lie Tian Yu and Sentra Pengrajin Gresik.

Beberapa bisik kecil langsung terdengar di berbagai sudut ballroom.

“Lie Tian Yu?”

Lihat selengkapnya