Jalan Emas

Akana.T
Chapter #59

Debu yang Menempel

Bab 59

Debu yang Menempel


Ada saat ketika hidup seseorang mulai berubah bukan karena ia terbukti bersalah—

melainkan karena untuk pertama kalinya orang lain mulai memandangnya dengan curiga.


Dan seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa kecurigaan bekerja seperti debu logam halus.

Hampir tidak terlihat.

Namun sekali menempel di tangan seseorang—

ia akan ikut terbawa ke mana-mana.


Bahkan setelah orang itu berkali-kali mencuci dirinya sendiri.



---


Ballroom Aurora Grand Hall masih dipenuhi cahaya keemasan.


Namun suasananya sudah tidak lagi sama.


Musik telah dimatikan. Percakapan berubah menjadi bisik-bisik pelan yang terasa jauh lebih tajam daripada keramaian beberapa menit sebelumnya. Kamera media terus menyala dari berbagai sudut ruangan, sementara para tamu mulai menjaga jarak tanpa sadar dari area Sentra Pengrajin Gresik.


Seolah-olah masalah bisa menular hanya karena berdiri terlalu dekat.


Pemimpin tim investigasi melangkah maju dengan ekspresi profesional yang dingin.


“Kami akan melakukan pemeriksaan awal terhadap seluruh material jewellery yang dipamerkan oleh vendor Sentra Pengrajin Gresik.”


Suara itu tenang.

Tidak tinggi.


Namun justru karena itulah seluruh ballroom menjadi semakin sunyi.


“Mohon tidak ada barang yang dipindahkan sampai proses verifikasi selesai.”


Dua petugas lain langsung bergerak menuju display jewellery.

Sarung tangan putih dikenakan.

Salah satu dari mereka mulai memotret setiap koleksi dari berbagai sudut, sementara petugas lain mengeluarkan alat portable analyzer dari koper hitam kecil yang dibawanya.


Cahaya biru tipis beberapa kali menyala di permukaan emas.


Klik.


Bip.


Klik.


Suara alat pemeriksa itu terdengar kecil, namun anehnya terasa jauh lebih mengganggu daripada keramaian ballroom beberapa menit sebelumnya.


Mei Lan berdiri diam di dekat runway.

Tatapannya tidak pernah lepas dari jewellery milik mereka yang sedang diperiksa satu per satu.

Tadi orang-orang memandang karya-karya itu seperti sesuatu yang indah.

Sekarang mereka melihatnya seperti kemungkinan barang bukti.


Di belakangnya, beberapa pengrajin Gresik tampak mulai pucat.

Pak Dar menggenggam ujung lengan bajunya sendiri erat-erat sambil menatap jewellery yang sedang difoto petugas.


“Kita punya semua dokumen...” gumamnya pelan.


Namun suaranya terdengar lebih seperti seseorang yang sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Seorang petugas akhirnya menoleh ke arah Mei Lan dan Kian Seng yang terus berdiri di sampingnya dan menggenggam tangannya.


“Kami perlu melihat sertifikat material, invoice supplier, dan dokumen asal logam untuk seluruh koleksi yang ditampilkan malam ini.”


Tanpa banyak bicara, Kian Seng maju menyerahkan map dokumen yang sejak tadi dibawanya.

Lembaran demi lembar mulai diperiksa.

Nomor batch dicocokkan.

Kode refinery diverifikasi.

Data distribusi supplier dibandingkan dengan registrasi digital pada tablet investigasi.


Ballroom terasa menahan napas.

Waktu berlalu perlahan.

Lima menit.

Sepuluh menit.


Dan sedikit demi sedikit—

ekspresi para petugas mulai berubah.

Lihat selengkapnya