Bab 61
Api yang Berbalik Membakar
Ada api yang awalnya dinyalakan untuk membakar orang lain.
Dikendalikan perlahan.
Dijaga agar tetap kecil.
Tetap berguna.
Namun seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa api tidak pernah benar-benar memiliki tuan.
Karena saat manusia terlalu lama bermain dengannya—
suatu hari api itu akan berbalik mencari jalan pulang menuju tangan yang menyalakannya pertama kali.
Namun terkadang...
Ada kalanya ia justru menerangi seseorang yang akhirnya berani berdiri melindungi orang yang dicintainya.
---
Aurora Grand Hall perlahan mulai kehilangan kemewahan semu yang sejak sore memenuhi gedung itu.
Beberapa tamu undangan sudah meninggalkan ballroom sambil terus membicarakan investigasi Celestia yang baru saja terjadi. Wartawan masih memenuhi area depan gedung, memburu komentar siapa pun yang bersedia bicara. Lampu kamera sesekali masih menyala di tengah kerumunan, memantulkan kilau putih pada lantai marmer basah oleh gerimis malam.
Di sisi samping gedung, dekat area drop-off VIP yang mulai lebih lengang, Mei Lan berjalan pelan bersama Kian Seng , Jin Hao, Jia Ning dan Wenny.
Udara malam terasa dingin setelah hujan tipis turun beberapa menit sebelumnya. Suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar dari kejauhan, bercampur dengan bunyi langkah para staf hotel yang mulai membereskan perlengkapan acara.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketegangan di wajah Kian Seng sedikit mengendur.
Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menepuk bahu Jin Hao cukup keras.
“Aku benar-benar tidak menyangka kau mengatur semuanya seperti ini.”
Jin Hao tersenyum kecil.
"Aku benar-benar salah menilaimu dulu."
Kian Seng tersenyum kecil.
Ia masih ingat saat pertama kali bertemu Jin Hao. Pemuda itu tampak angkuh dan bertindak semaunya. Namun selama sebulan terakhir, ia melihat sendiri bagaimana Jin Hao bekerja, mengajari para pengrajin, dan mempertaruhkan dirinya demi menyelamatkan Sentra Pengrajin Gresik.
Suara tawa kecil Wenny menghentikan lamunannya.. disusul dengan ocehannya seperti biasa,
“Menukar batch dari kantong kanan ke kantong kiri tanpa seorang pun sadar...” gumamnya. “Kau ini pengrajin atau pesulap?”
“Pesulap.” sahut Jin Hao pendek.
Semua tertawa mendengarnya. Udara dingin bekas hujan mendadak terasa hangat.
“Bahkan aku sampai percaya Sentra Pengrajin benar-benar akan habis malam ini.” lanjut Jia Ning
“Bukan cuma kau yang berpikir demikian.. “ tutur Wenny, “Aku juga.”
Kian Seng tersenyum. Hatinya kini terasa ringan.
Angin malam menerpa lembut pipinya.
Perasaan yang sungguh menenangkan.
Matanya menatap bangga ke arah adik perempuannya.
Tapi tak seperti yang lainnya.. tatapan Mei Lan terlihat menyimpan kegelisahan dalam dadanya.
“Lan...”
Tak ada jawaban.
“Lan...” panggil Kian Seng untuk yang kedua kalinya
Mei Lan buru mengangkat wajahnya begitu tersadar.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Kian Seng lagi.
“T.. tidak ada.” jawabnya singkat.
Kemudian pandangannya berpaling menatap Jin Hao. Cahaya lampu gedung memantul samar di matanya yang masih menyisakan lelah setelah seluruh kekacauan malam itu.
“Tapi..” katanya pelan, “Apa kau akan baik-baik saja?”
Jin Hao diam. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Meski begitu semua tahu artinya..
“Hao... apapun yang terjadi... aku akan berdiri di sampingmu.” ujar Kian Seng tanpa menunggu.
“Aku juga...akan melakukannya.” dukung Jia Ning.
Disambut anggukan kepala Wenny..