Bab 62
Abu yang Tertinggal Setelah Api
Ada emas yang ditempa hingga menjadi perhiasan.
Ada emas yang dilebur menjadi mahkota.
Ada pula emas yang dikubur begitu dalam bersama segala kesalahan yang pernah menyertainya.
Banyak orang mengira nilai emas ditentukan oleh kilau yang berhasil dipertahankannya. Padahal seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa emas justru menunjukkan nilainya ketika bersedia masuk kembali ke dalam api.
Sebab api tidak hanya membakar.
Ia juga menghapus kotoran yang selama ini melekat.
Dan ketika bara itu akhirnya padam, yang tertinggal bukan lagi kemewahan yang pernah dipamerkan, melainkan abu yang mengingatkan bahwa setiap kilau selalu menuntut harga yang harus dibayar.
---
Hujan turun semakin deras di depan Aurora Grand Hall.
Lampu-lampu kendaraan memantul samar di atas aspal hitam yang basah, sementara suara orang-orang yang berteriak panik bercampur dengan bunyi klakson dan langkah kaki yang berhamburan di sekitar lokasi tabrakan.
Namun semua suara itu terasa jauh bagi Jin Hao.
Kepalanya masih berdenging keras akibat benturan. Darah mengalir tipis dari pelipisnya, bercampur dengan air hujan yang membasahi rambut dan wajahnya. Napasnya memburu tidak beraturan saat ia berjalan sempoyongan menghampiri tubuh lelaki yang terbaring bersimbah darah beberapa meter di depannya.
Dan ketika akhirnya ia melihat wajah itu dengan jelas, seluruh kekuatan yang menopang tubuhnya seakan lenyap begitu saja.
Tan Bun.
Tubuh pria tua itu terbaring lemah di atas jalan yang dingin. Darah menyebar perlahan di bawah tubuhnya, bercampur dengan air hujan yang mengalir melewati sela-sela aspal.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa takut benar-benar menguasai dirinya.
“Pa…”
Suaranya pecah begitu saja.
Ia jatuh berlutut di samping tubuh ayahnya sebelum buru-buru mengangkat tubuh lelaki itu ke dalam pelukannya. Tangannya gemetar hebat. Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Pa… Pa… lihat aku… jangan tutup mata…”
Tan Bun terbatuk pelan. Darah segar kembali keluar dari sudut bibirnya. Napasnya terdengar berat dan tidak stabil, seolah setiap tarikan udara kini melukai dadanya sendiri.
Di sekitar mereka, Kian Seng, Mei Lan, Jia Ning, dan Wenny akhirnya sampai dengan wajah pucat penuh syok. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka orang yang mendorong Jin Hao keluar dari jalur mobil tadi adalah Tan Bun.
Pria yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari api yang menghancurkan begitu banyak hidup.
Namun pada detik terakhirnya, ia tetap memilih menyelamatkan anaknya.
Sepasang mata Tan Bun terbuka perlahan. Pandangannya sudah kabur, tetapi ia masih berusaha menatap wajah Jin Hao yang menangis di hadapannya.
“Hao…”
Jin Hao menggeleng keras sambil memegang tangan ayahnya yang dingin dan penuh darah.
“Jangan bicara… jangan bicara dulu… ambulans akan datang… kita pergi ke rumah sakit sekarang…”
Namun Tan Bun justru tersenyum lemah.
Tangan tuanya yang gemetar perlahan terangkat, menyentuh wajah anaknya untuk terakhir kali.
“Jangan menangis…”
Kalimat itu keluar lirih sekali, nyaris tenggelam di tengah suara hujan.
Namun justru itu yang membuat dada Jin Hao terasa seperti dihancurkan dari dalam.