Bab 64
Abu yang Masih Tersisa
Ada abu yang tidak hilang meski hujan turun berhari-hari.
Ia menempel diam-diam pada dinding rumah yang pernah terbakar.
Pada pakaian.
Pada tangan seseorang.
Dan kadang-kadang, pada hati manusia yang terlalu lama hidup di dekat api.
Seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa setelah sebuah logam melewati panas yang terlalu besar, bentuknya mungkin masih bisa diperbaiki.
Namun bekas apinya tidak akan pernah benar-benar hilang.
---
Langit pagi itu tertutup awan kelabu.
Gerimis tipis turun tanpa suara di area pemakaman keluarga Liem, membasahi deretan batu nisan dan tanah merah yang masih basah akibat hujan semalam. Udara terasa dingin dan lembap, sementara aroma dupa bercampur dengan bau tanah yang baru digali memenuhi udara pagi.
Tidak banyak orang yang datang.
Beberapa kerabat jauh berdiri diam di bawah payung hitam dengan wajah kaku dan canggung. Tidak ada suara tangisan keras. Tidak ada keributan. Hanya suara lirih doa-doa pendek dan langkah pelan di atas tanah basah.
Di depan liang yang berdampingan, dua peti kayu berwarna gelap terbaring diam.
Tan Bun.
Lin Yue.
Suami dan istri yang selama bertahun-tahun hidup bersama di atas rahasia yang sama.
Kini bahkan liang makam mereka pun berdampingan.
Jin Hao berdiri paling depan dengan pakaian hitam sederhana. Wajahnya pucat dan jauh lebih kurus dibanding beberapa hari lalu. Luka di pelipisnya masih tertutup perban tipis, sementara lingkar gelap di bawah matanya membuatnya tampak seperti seseorang yang tidak benar-benar tidur sejak malam kecelakaan itu terjadi.
Ia tidak banyak bicara sejak pagi.
Tidak sejak di rumah sakit.
Tidak sejak polisi selesai meminta keterangannya.
Dan tidak sejak ia diminta menandatangani surat kematian kedua orang tuanya dalam waktu yang hampir bersamaan.
Asap dupa perlahan naik di depan wajahnya, berputar tipis sebelum menghilang ke udara dingin pagi itu.
Di belakangnya, Ah Lian berdiri diam sambil menggenggam payung dengan tangan sedikit gemetar. Tatapannya terus tertuju pada peti Tan Bun tanpa benar-benar berkedip.
Lelaki itu pernah menjadi adik ipar yang ia anggap keluarga sendiri.
Dan Lin Yue...
Perempuan yang dulu pernah duduk bersamanya di dapur sambil tertawa kecil ketika mereka sama-sama masih muda.
Begitu banyak tahun telah berlalu sejak semuanya berubah menjadi sesuatu yang gelap dan menyakitkan.
Namun berdiri di depan dua peti itu sekarang, Ah Lian justru merasa terlalu lelah untuk membenci siapa pun lagi.
Di sisi lain, Mei Lan berdiri beberapa langkah dari Jin Hao bersama Kian Seng, Jia Ning, dan Wenny.
Tak seorang pun benar-benar tahu harus mengatakan apa pagi itu.
Karena tidak ada kata-kata yang terasa cukup pantas untuk seseorang yang kehilangan kedua orang tuanya sekaligus dalam satu malam.
Terlebih ketika seluruh kota sedang membicarakan keluarga itu.
Tentang Celestia.
Tentang emas ilegal.
Tentang Kok Wei.
Tentang kebakaran rumah keluarga Liem.
Dan tentang Jin Hao sendiri.
Sesekali beberapa pelayat diam-diam melirik ke arahnya sebelum kembali berbisik pelan satu sama lain.
Tentang masa depan yang hancur bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Tentang seseorang yang dulu diperkirakan akan memiliki karier cemerlang, tetapi kini justru berdiri di depan liang makam kedua orang tuanya sambil menunggu putusan pengadilan.
Namun Jin Hao tidak memedulikan apa pun lagi.
Tatapannya hanya tertuju pada dua peti di depannya.
Kosong.
Sunyi.
Seolah sebagian dari dirinya masih tertinggal di malam hujan itu bersama darah di atas jalan depan Aurora Grand Hall.
Seorang biksu tua mulai melantunkan doa pelan.
Suara lonceng kecil terdengar lirih di antara hembusan angin pagi dan gerimis yang terus turun tipis di atas area pemakaman.
Lalu perlahan, prosesi dimulai.
Tali-tali penahan diturunkan sedikit demi sedikit.