Bab 65
Rumah yang Kembali Menyalakan Lampu
Ada rumah yang hancur bukan karena api besar.
Melainkan karena terlalu lama membiarkan bara kecil hidup diam-diam di dalamnya.
Bara yang disembunyikan.
Ditutupi.
Dianggap tidak akan pernah membesar.
Namun seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa manusia sering lupa pada satu hal tentang api.
Bahwa api tidak hanya menghancurkan.
Kadang-kadang, setelah semuanya habis terbakar dan yang tersisa hanya abu serta puing-puing—
api juga meninggalkan ruang bagi sesuatu yang baru untuk dibangun kembali.
Dan mungkin itulah alasan mengapa manusia tetap bertahan hidup.
Karena bahkan setelah kehilangan begitu banyak hal, hati mereka masih diam-diam berharap suatu hari akan menemukan jalan untuk pulang.
---
Setahun setelah putusan pengadilan dibacakan, langit kota akhirnya kembali cerah.
Matahari pagi bersinar hangat di atas bangunan rumah tahanan yang berdiri sunyi di pinggir kota, sementara angin semilir bergerak pelan membawa aroma pohon dan tanah yang masih sedikit basah setelah hujan malam sebelumnya.
Pintu besi besar itu terbuka perlahan.
Seorang pria melangkah keluar.
Liem Jin Hao berhenti beberapa langkah di depan gerbang sebelum perlahan mendongakkan wajahnya menatap langit luas di atas kepalanya.
Cahaya matahari pagi jatuh tepat mengenai wajahnya.
Wajah itu terlihat lebih dewasa sekarang.
Lebih tenang.
Namun juga menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan—bekas luka yang tidak lagi terlihat jelas di permukaan, tetapi masih tertinggal jauh di dalam dirinya.
Tubuhnya sedikit lebih kurus dibanding setahun lalu, sementara rambutnya kini dipotong lebih pendek dan rapi. Garis samar di pelipisnya masih ada, meski nyaris memudar.
Angin pagi menerpa wajahnya pelan.
Untuk beberapa detik, Jin Hao hanya berdiri diam di sana.
Seolah masih belum benar-benar percaya bahwa ia akhirnya bisa kembali melihat langit tanpa jeruji besi di atas kepalanya.
Setahun.
Hanya satu tahun.
Kian Seng berhasil memenuhi perkataannya hari itu... bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengurangi hukuman Jin Hao... dan hari ini ia membuktikannya.
Hukuman penjara Jin Hao berkurang dari tiga tahun menjadi setahun. Dan tak hanya itu.. meski di dalam penjara.. Ah Lian, Kian Seng dan Mei Lan sering datang menjenguknya. Mungkin karena itulah.. meski dalam penjara, Jin Hao merasa bahwa hidupnya justru lebih berwarna.
Jin Hao menarik nafas panjang.. menghirup udara segar.
Setelah semua kekacauan yang telah menyeret keluarga mereka ke dalam kehancuran. Ia merasakan hangatnya sinar matahari ... atau hembusan angin semilir yang menerpa wajahnya.
Sesuatu yang fundamental ia pelajari selama berada di balik dinding penjara itu.
Bahwa keluarga terkadang bukan tentang siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Melainkan tentang siapa yang tetap berdiri di sampingmu setelah semuanya runtuh.
“Hao...”
Suara itu membuat Jin Hao perlahan menoleh.
Langkahnya langsung terhenti.
Beberapa meter dari sana, dua sosok berdiri memandang ke arahnya.
Kian Seng.
Dan Mei Lan.
Mereka berjalan menghampirinya dengan langkah pelan di bawah cahaya matahari pagi.
Untuk sesaat, Jin Hao hanya mampu menatap mereka tanpa suara.
Karena jauh di dalam dirinya, ia benar-benar tidak menyangka akan ada seseorang yang datang menjemputnya hari ini.
Mei Lan tersenyum lebih dulu.
Matanya sudah berkaca-kaca bahkan sebelum ia benar-benar berdiri di depan Jin Hao.
“Hao...” panggilnya lirih.
Suara perempuan itu tetap sama seperti dulu.
Lembut.
Hangat.
Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dada Jin Hao terasa semakin sesak.
“Mei Lan jie...” jawabnya pelan.
Mei Lan mengangguk kecil sambil berusaha menahan air mata yang mulai memenuhi matanya.
“Hao... selamat pulang.”
Kalimat sederhana itu membuat sesuatu di dalam dada Jin Hao seperti runtuh perlahan.
Karena selama setahun terakhir, ia hampir lupa seperti apa rasanya mendengar seseorang mengatakan bahwa dirinya masih memiliki tempat untuk pulang.
Jin Hao menundukkan kepala sebentar sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Lalu perlahan, tatapannya beralih kepada sosok lelaki yang berdiri tegap di samping Mei Lan.