Jalan Emas

Akana.T
Chapter #66

Lampu yang Tetap Menyala

Bab 66

Lampu yang Tetap Menyala


Ada rumah yang tetap hangat bukan karena tidak pernah dilanda kesedihan.

Melainkan karena seseorang terus menyalakan lampunya, bahkan setelah badai datang berkali-kali dan menghancurkan hampir seluruh isi di dalamnya.


Seorang pengrajin tua pernah berkata bahwa emas yang retak masih bisa dilebur dan dibentuk ulang menjadi sesuatu yang indah.

Namun hati manusia tidak selalu seperti itu.

Ada luka yang tetap tinggal.

Ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Dan mungkin karena itulah kebahagiaan kecil sering terasa jauh lebih berharga setelah seseorang melewati begitu banyak penderitaan.


Karena pada akhirnya, manusia tidak benar-benar membutuhkan kehidupan yang sempurna.

Mereka hanya membutuhkan rumah yang masih menyisakan cahaya untuk kembali pulang.



---


Malam di kawasan pecinan itu terasa tenang.


Lampu-lampu toko mulai padam satu per satu, menyisakan cahaya keemasan dari papan nama baru yang tergantung di depan ruko tua keluarga mereka.


Golden Road.

Tulisan itu memantulkan cahaya lembut ke jalanan yang mulai sepi.


Di dalam rumah, suasana makan malam hangat beberapa jam sebelumnya akhirnya perlahan mereda. Guo Liang dan Wenny sudah pulang sejak tadi, sementara Mei Lan dan Jin Hao kembali ke kamar masing-masing setelah membantu membereskan meja makan.


Namun Ah Lian masih belum bisa tidur.


Perempuan itu duduk cukup lama di tepi tempat tidurnya sambil tersenyum kecil sendiri. Dadanya terasa terlalu penuh malam ini. Sudah lama sekali rumah itu tidak dipenuhi suara tawa seperti tadi.


Terlalu lama.

Sampai-sampai kebahagiaan sederhana itu terasa hampir asing baginya.


“Apa sekarang kau bahagia?”

Sebuah suara lembut menyapanya tiba-tiba.

Ah Lian mengangkat wajahnya. Matanya memandang tak percaya.

Nyonya Chen berdiri beberapa langkah di hadapannya, tersenyum hangat seperti yang selalu diingatnya.

Air mata langsung menggenang di pelupuk mata Ah Lian, sementara senyum tipis terulas di bibirnya.

Ia menganggukkan kepala.


“Iya... aku bahagia. Sangat bahagia.”


Air mata haru memenuhi mata Nyonya Chen.

“Sekarang kau sudah tidak sendiri lagi.”

Ia berhenti sejenak.

“Rumah itu kembali hidup.”


Ah Lian kembali mengangguk. Dadanya terasa sesak oleh rasa syukur yang tak mampu diucapkan seluruhnya.


“Ma... aku mencintaimu.”


Hening beberapa saat.

Nyonya Chen tersenyum lembut.

“Mama tahu.”


Senyum itu perlahan memudar, diikuti sosoknya yang semakin samar, seolah larut bersama keheningan malam.

Ah Lian tetap duduk di tempatnya tanpa berusaha menahan kepergian itu.

Sudah bertahun-tahun ia hidup seperti ini. Setiap kali rasa kehilangan menjadi terlalu berat untuk dipikul seorang diri, ia selalu membayangkan ibunya datang menemaninya berbincang sejenak. Tidak pernah lama. Hanya cukup untuk mengingatkannya bahwa masih ada kasih sayang yang tetap tinggal di dalam hatinya, meski orang yang memberikannya telah lama pergi.

Ah Lian menarik napas panjang, lalu perlahan mengenakan cardigan tipisnya sebelum berjalan keluar kamar. Malam terasa begitu tenang. Ia berniat naik ke rooftop ruko untuk melihat langit yang cerah.

Dulu, saat masih muda, ia sering duduk di sana bersama Tan Hwa setiap kali toko telah tutup.

Namun langkahnya terhenti sesaat sebelum memasuki area rooftop.


Dari balik pintu yang sedikit terbuka, ia melihat dua sosok sudah lebih dulu berada di sana.


Kian Seng dan Jia Ning.


Mereka duduk berdampingan di lantai rooftop sambil diterpa angin malam yang sejuk. Lampu kota memantul samar di wajah keduanya.


Ah Lian tidak berniat menguping.


Tetapi suara Jia Ning yang terdengar pelan membuatnya berhenti melangkah.


“Tuan Kian Seng... aku sungguh terkejut mendengar pengakuanmu di meja makan tadi.”


Kian Seng menoleh heran. “Pengakuan yang mana?”


Jia Ning memandangnya tidak percaya. “Bahwa kita akan berpacaran.”


Kening Kian Seng sedikit berkerut, seolah benar-benar tidak mengerti mengapa hal itu terdengar mengejutkan.


“Bukankah itu memang proses yang benar?”


Jia Ning langsung menggeleng pelan. Bibirnya berdecak kecil, entah karena gemas, tidak percaya, atau justru terlalu menyukai kepolosan lelaki di hadapannya.


Perempuan itu kemudian mencondongkan tubuhnya lebih dekat.

Lihat selengkapnya