Jalan Hidup

Fahmi Idris
Chapter #1

BAB 1

Aku kasihan pada ayah yang pucat tak berdaya di ranjang yang sama sekali tak empuk ini. Ayah kini diharuskan cuci darah secara rutin. Seminggu tiga kali. Namun sejujurnya, aku lebih kasihan pada diriku sendiri. Uangnya dari mana? Begitulah yang muncul pertama kali di benakku, ketika Pak RT mengabarkan perihal kondisi ayah. Saat itu, Pak RT menghampiri aku yang sedang menyender penuh kemalasan di bangku plastik tempat kerjaku, di warnet. Sebagai seorang operator. Pekerjaan yang sudah ditekuni sejak selesai sekolah dasar, akibat paksaan dari ayah. 

Ibu seharusnya di sini, duduk di sampingku, menemani ayah yang terbaring tak berdaya. Sebetulnya, Pak RT lebih dulu mengabari ibu yang ada di rumah. Namun, ketika mendengar kondisi ayah yang memprihatinkan, ibu segera berbenah. Memasukkan beberapa potong pakaian ke ransel buluk berwarna merah jambu, yang diberikan entah oleh siapa. Mulanya, Pak RT mengira ibu berbenah untuk menemani ayah. Ternyata ibu memutuskan kabur, melarikan diri dari kenyataan. Dititipkannya sepucuk surat untukku. “Ini ada surat dari ibumu,” ujar Pak RT pendek. 

Segera aku buka isinya, “Rawatlah ayahmu. Ibu sudah berbakti padanya dalam waktu yang lama. Kali ini, giliran dirimu, Lumat Papatong.” Oh Tuhan, Lumat yang malang.

Sebetulnya, aku memiliki seorang adik. Namanya Azka. Nahasnya, ia harus pergi sebelum genap berusia satu tahun. Kejadian itu membuat ibu berubah drastis. Dari sosok yang gemar bergibah dan terbahak-bahak. Menjadi sosok pendiam dan rutin menangis. Terlebih lagi, yang menjadi aktor di balik kematian pelipur laranya itu adalah suaminya sendiri. Ayahku. Yang kini terbaring lemas tepat di depan mata. Ia tak sengaja membunuh adikku. Persetan. Sengaja atau tidak, itu sama saja. Adikku tetap saja mati, secara tragis. Dengan isian kepala yang berceceran ke mana-mana. Belum lagi, sejak ayah yang tak kunjung mendapatkan pekerjaan setelah dipecat dari pabrik. Ibu selalu mendapat perlakuan kasar. Mengingat semua itu, membuatku ingin mencekik ayah saat ini juga. 

Namun, surat dari ibu yang serupa wasiat itu menghentikan laju emosiku. Aku menalar bahwa ibu akan pergi bunuh diri, menyusul Azka. Barangkali menggantungkan diri di sebuah pohon mengkudu, menjatuhkan diri di jembatan atau mengumpankan daging dan belulangnya kepada buaya rawa yang lapar. Bagiku, hal itu sangat mungkin terjadi. Mengingat kondisi kejiwaan ibu yang sudah teramat terganggu.

Sesenggukan di malam hari, suatu hal yang biasa dilakukan ibu setelah kematian Azka. Rumah kami merupakan warisan dari ayahnya ayah. Konon, rumah yang kami tempati akan menjadi prahara di masa depan. Karena, rumah ini seharusnya dijual. Dan duit hasil penjualannya, dibagi secara adil sesuai proporsi hukum waris. 

Namun, ayah selalu mengusir siapapun adiknya yang datang berkunjung. Bahkan, ketika adiknya datang hanya untuk memberikan sebongkah kado sebagai hadiah atas kelahiran Azka. Sempat aku berpikir. Siapa juga yang mau membeli rumah yang kerangkanya sudah keropos sebab dimakan rayap. Genting yang juga perlahan retak dan somplak, akibat ulah kucing kawin yang tak tahu tempat. Hal yang paling butut, tembok rumah ini akan bergetar ketika ditampol. 

Pertanyaan siapa yang akan membeli itu terjawab. Ketika aku mengingat satu hikayat mengenai sebuah rumah kosong. Akibat, seluruh penghuninya mati tertemper kereta saat hendak liburan ke sebuah pantai. Rumah itu sepi tak ada yang mau membeli, karena konon katanya. Di malam hari, rumah itu ramai oleh puaka yang berpesta. 

Menurut kisah yang beredar, petugas ronda sering memergoki pocong, tuyul dan kunti hilir mudik di dalamnya. Bahkan, para warga tak memiliki nyali untuk sekedar melewati jalan di depannya. Kengerian berakhir ketika Kiai Barjo membeli rumah tersebut dengan harga murah untuk dijadikan surau Al Waliyy. Selain, menjadi tempat sembahyang berjamaah. Kiai Barjo pun meluangkan waktunya untuk mengajar kitab suci dan kitab kuning pada para warga, “Aku ingin masyarakat di sini tahu cara salat yang benar,” ungkap Kiai Barjo pada Pak RT ketika mengurus administrasi pembelian rumah angker itu. 

Sejak saat itu, nuansa gelap berganti menjadi nuansa terang benderang. Barangkali, nasib rumahku pun akan demikian.

Tak ada pintu di antara dua kamar yang saling berhadapan ini. Sebagai gantinya, terdapat sehelai kain serupa gorden kasar berwarna merah darah yang menggantung di muka. Ibu tak pernah menutup kain itu sepenuhnya. Selalu meninggalkan celah di kedua ujungnya. 

Pada suatu malam yang sunyi, tepat di sepertiga malam terakhir. Aku terkejut oleh pekik tangis ibu. Biasanya, tangisan itu pertanda ayah sudah pulang dari tempat maksiat, sempoyongan sambil memboyong segunung amarah yang dijatuhkan ke sekujur tubuh ibu. Aku yang penasaran apa yang sedang ayah perbuat pada ibu, segera mengintip di celah yang ada. 

Ternyata tak ada bau naga menyeruak. Tak ada pula ayah. Hanya ada ibu yang penuh derai air mata, sembari menggendong guling kecil yang dibedongnya. Apa yang dilakukan ibu persis seperti sedang menidurkan adikku yang sedang merengek membelah kesunyian malam. Namun, saat itu tidak ada rengek dari adikku. Justru yang merengek adalah ibuku. Ia sudah kehilangan kewarasannya, pikirku. 

Karena aku tak ingin ikut kehilangan kewarasan seperti ibu. Sejak malam itu, aku tidak pernah menginjakkan kaki lagi di rumah. Aku memilih hidup di warnet. Sepanjang hari. Selama berbulan-bulan. Hingga kemudian, Pak RT mengabarkan kondisi ayah seperti yang sudah dikisahkan di awal, beserta sebuah surat pelimpahan tanggung jawab dari ibu yang sudah kehilangan kesabaran dengan tingkah ayah. 

Ku lihat dalam-dalam wajah ayahku yang tertidur dalam ketenangan bak seorang mujahid. Bibir tebal menghitam senada dengan kulitnya. Kulit itu terlihat kasar dan kering serupa sisik. Cenderamata yang dibawanya setelah lebih dari 10 tahun bekerja di pabrik sepatu. Pasti pemiliknya dihantui rasa gatal sepanjang waktu. Inilah rupa ayahku. Rupa kekasih ibuku. Serta, rupa pembunuh adikku. Biadab!

Aku pun bertanya pada dokter yang merawatnya, “Kapan ayah dapat sadar?” Dokter itu menjawab, “Ayahmu akan sadar beberapa jam yang akan datang.” 

“Tergantung dari kekuatan tubuh ayahmu,” tambah dokter tersebut.

Aku mengucap terima kasih pada Pak RT dengan penuh keterpaksaan. Mengingat hubungan aku dan Pak RT tak begitu bagus. Namun sejujurnya, di luar kebiasaan buruknya yakni menarik pungli. Pak RT itu baik, karena sudah membantu mengurusi segala macam surat. Agar keterangan bahwa ayah hidup melarat dapat terbit. Surat keterangan itu membuat ayah dapat dirawat secara gratis. Ya, walaupun cuman sebulan. Aku mengucap terima kasih padanya, meski penuh keterpaksaan. 

Dengan mengesampingkan amanat dari ibu, jujur aku sangat membenci ayah. Namun, entah bagaimana ketika memikirkan Azka dan ibu yang telah tiada. Tiba-tiba timbul sejuta rasa kasian meliputi sebongkah hati kecilku. Membuat diriku bertekad untuk mengusahakan segala cara, agar ayah yang aku benci ini memiliki umur yang panjang. Seandainya ayah harus mati. Biarlah, aku yang lebih dahulu dijemput malaikat kematian. 

Aku pun mempertimbangkan untuk menjual rumah satu-satunya pada Kiai Barjo. Tak peduli prahara yang akan menerpa kemudian. Semua ini semata-mata demi biaya cuci darah ayahku. Selepas masa subsidi selesai.

Namun, diriku urung melakukan itu. 

Karena, seorang teman warnet dengan wajah yang boros memberiku sebuah nasihat dan solusi yang teramat solutif. Walaupun penuh risiko. Pertama kali aku melihatnya menghampiri meja operator, aku menyambutnya dengan sebutan mas. Ia terkekeh dan memperkenalkan dirinya sebagai Firman Barbatus teman seangkatanku di awal masuk SD. Tetapi, saat itu dirinya memutuskan putus sekolah karena malu harus tinggal kelas. 

Sekelebat, dengan penuh ragu aku mengingatnya sebagai sosok murid yang bebal. Namun, aku tak berani mengutarakannya. Takut menyinggung perasaannya. Aku memilih untuk mengangguk dan melempar senyum kikuk. Hal yang paling aku ingat dari perawakannya adalah bibir manyun yang mendekati mimik orang cabul. Serta, janggut yang saat itu masih berupa tunas, kini telah tumbuh memanjang hingga nampak dirinya bak seorang pertapa.

Firman adalah seorang yang terkenal di warnet ini sebagai sang dermawan.

Pernah sekali waktu, di gerbang mulutnya yang manyun itu telah berkumpul ludah yang berbuih serupa soda. Ketika seseorang menyapanya dari balik bilik warnet. Firman akan menyahuti orang tersebut. Dengan bonus ludah menyemprot secara frontal ke wajah orang yang memanggil. Keributan akan terjadi secara singkat. 

Sebelum sebagai ungkapan maaf. Firman akan mentraktir orang tersebut secangkir kopi panas dan sebatang kretek. Bahkan, beberapa orang yang dompetnya pas-pasan menjadikan itu sebuah ritus demi keuntungan pribadi. Persis seperti pesugihan. Menanti disemprot ludah, demi secangkir kopi panas dan sebatang kretek. Aku tak termasuk orang semacam itu. Cuih, menjijikan.

Justru, kebaikan hati Firman yang senantiasa mentraktir mereka itulah yang membuatku bingung. Dari mana orang bebal ini mendapatkan uang. Tak pernah ia mengutang apapun seperti yang lainnya, barang sekali. Ia pun selalu tiba di warnet dengan motor kopling, yang badan motornya serupa motor yang ditunggangi Pedrosa. Sudah pasti ia menganggur, karena tak memiliki ijazah sekolah dasar. Mungkin, satu-satunya ijazah yang dia punya hanyalah ijazah TK. Itu juga aku sangsi.

Ia pun sudah ditinggal mati kedua orang tuanya. Kini, hanya mengontrak sepetak rumah bersama neneknya yang sudah jompo, sekaligus melarat. Aku sempat curiga ia tukang jambret. Namun, kemudian aku meragukannya. Karena, mustahil sekali seorang tukang jambret itu bebal dan tak cekatan. Bisa-bisa jika dia nekad menjadi tukang jambret, giginya seketika akan tanggal akibat dari dikeroyok massa.

Boleh jadi ia selalu menang sabung ayam, yang selalu diadakan pada tiap ujung bulan di belakang pasar. Namun, hal itu pun tak terbukti. Karena, satu waktu aku hadir di arena, sekedar untuk menghibur diri. Dan, aku tak melihat satu orang pun yang memiliki moncong semancung miliknya. 

Lihat selengkapnya