Kiai Barjo memiliki seorang anak yang penakut setengah mati, bernama Mahmud Jiper. Sejak dini, aku sering bermain dengannya. Suatu waktu kala matahari mulai letih menerangi bumi, aku dan Mahmud sedang asyik mengejar layangan putus.
Layangan itu terus bergerak gontai tak menentu arah. Penuh kepasrahan. Wajah kami tengadah. Mata kami menatap tajam. Kaki terus bergerak tak peduli menginjak apa. Tahi kotok. Wadah dari anyaman penuh nasi yang sedang dikeringkan untuk menjadi aking. Mampir ke genangan air comberan sebelum batas suci Surau. Blusukan ke kebun singkong.
Perlahan namun pasti. Layangan gontai itu sedikit lagi akan mendarat.
Dengan penuh kegirangan dan keriangan khas bocah, aku segera meloncat ke pemakaman. Namun, baru saja menginjak petak pertama. Sebuah suara terdengar lirih. “Mat, jangan ke sana.” jelas sekali itu berasal dari Mahmud.
Aku menoleh ke belakang, Mahmud sedang ngos-ngosan sembari menekuk badan di tepi parit yang menjadi batas antara kebun singkong dan pemakaman. “Mengapa? Layangan akan turun sebentar lagi. Kenurnya pun panjang. Ayo,” seruku sembari menunjuk layangan yang sedang melambai-lambai. Mahmud hanya menggelengkan kepala.
“Pemakaman itu tempat hantu, bukan manusia. Nanti kita bisa kesurupan,” celotehnya memperingatkanku, “Ayo pergi.”
Anak ini, selalu mengatakan hal yang sama. Entah, ketika aku sedang berlama-lama merasakan kesegaran air di bilik pemandian umum. Atau, ketika aku menikmati momen buang hajat di jamban tepi sungai.
Bahkan, ia memohon padaku untuk tidak melewati bak sampah yang sedang penuh muatannya. Hantu sedang makan di tempat itu, ujarnya dengan wajah penuh kengerian yang sangat mudah aku bayangkan. Aku sempat berpikir, ia seorang indigo yang mata batinnya terbuka.
Namun, aku mengenyahkan pikiran itu untuk sampai pada sebuah kesimpulan. Rumit juga menjadi anak seorang kiai. Banyak pantangannya. Untung saja aku anak dari seorang pecandu alkohol sekaligus pembunuh. Hantu itu sudah biasa menggentayangi. Dan, aku biasa saja.
“Kelakuan saha ieu?” sebuah teriak penuh emosi mengejutkan kami berdua. Terdengar dari sebuah bale yang dihuni oleh Mang Cecep, penjaga makam sekaligus pemilik kebun singkong. Sepertinya beberapa batang singkongnya kami patahkan secara tidak sengaja.
Aku segera melesat ke belakang pohon nangka yang tanahnya lebih rendah. Gundukan demi gundukan tanah kuburan itu aku injak. Tak peduli itu milik kiai, pemabuk atau korban tabrak lari. Peduli setan penghuninya akan merasukiku. Malah, jika aku betulan kesurupan, itu akan menjadi hal yang teramat menyenangkan.
Aku dapat membuat Mang Cecep ketakutan dan pensiun dari kegiatannya yang membosankan. Namun sialannya, anak kiai yang bersamaku memilih untuk berdiam kaku. Tak bergerak barang selangkah untuk mencari tempat bersembunyi.
Dengan penuh kepanikan, aku melemparkan isyarat untuk menghampiriku segera. Ia masih saja tak bergeming. Hanya gelengan kepala yang diberikan. Bocah tolol.
Tak habis akal, dengan setengah berbisik aku berkata, “Cepat ke sini. Jika tidak nanti Mang Cecep bakal melapor ke ayahmu,” mendengar itu ia segera terbirit-birit menuju arahku. Dengan cekatan, ia segera mendekapku dari belakang. Ia nampak penuh ketakutan. Aku hitung, gundukan tanah yang ia injak lebih banyak dari aku. Ternyata, Mahmud lebih takut ke ayahnya dari pada arwah penghuni makam ini.
Muncul seseorang bertelanjang dada dengan sarung melingkar di tubuh bagian bawahnya sambil menggenggam sebilah golok, sorot matanya tajam dan terang. Itulah Mang Cecep. Kami berdua serempak berjongkok. Mahmud masih mendekapku. Lebih erat. Kali ini tubuhnya bergetar.
“Diamlah kau jangan gemetaran begitu. Nanti kita ketahuan,” sergahku setengah berbisik. Tak bisa dienyahkan, aku pun merasa takut jika Mang Cecep mengetahui tempat persembunyian kami. Walaupun ia bertubuh kurus dan sudah berkepala lima. Tetapi, ia memiliki fisik yang kuat dan tenaga yang besar.
Terbukti, setiap 17 Agustus, ia akan menjadi rebutan dalam perlombaan tarik tambang. Membayangkan tangan legam dengan urat menonjol itu menonjokku saja sudah ngilu. Terlebih, saat ini ia menggenggam sebilah golok yang pasti selalu diasahnya.
Pada saat Mang Cecep mulai berjalan di sela gumpalan tanah yang tak beraturan, aku mulai merapalkan doa dalam hati. Agar aku dapat segera kerasukan. Entah, kerasukan arwah kiai, pemabuk, korban tabrak lari atau seorang yang meninggal bunuh diri yang saat ini beberapa petak rumah abadinya kami pinjam dulu.
Langkah Mang Cecep perlahan namun pasti. Ia sudah dekat dengan pohon nangka ini. Di tengah perasaan dag-dig-dug, aku merasakan ada sesuatu mengelitiki pangkal pantatku. Aku pikir Mahmud sedang mengisengiku dengan ranting pohon nangka. Namun, aku ingat bahwa tangannya sedang mendekapku.
Akhirnya aku menolehkan kepala dengan hati-hati.
Membelalak kedua mataku. Sialan, ternyata yang mengelitiki bokongku itu kemaluan Mahmud yang sudah disunat sejak kecil. Si kecil itu mengacung tanpa malu. Aku ingin menegur si pemiliknya. Namun, ketika melihat raut mukanya yang sangat pucat, aku jadi merasa iba.
Hanya menyisakan jarak dua nisan. Gelap mulai jatuh. Jangkrik mulai berdenging. Keringat dingin mengucur di balik kaus bola Persib yang aku kenakan. Cengkeraman Mahmud semakin kuat. Si kecil itu semakin asik mendesak bokongku. Gemertak Mahmud jelas terdengar bersama semerbak bau mulutnya. Kejadian menjijikan yang tak akan pernah aku lupakan akan terjadi sebentar lagi.
Saat itu, Mang Cecep yang matanya terlihat bersinar, berdiri di depan pohon nangka. Aku dan Mahmud memejamkan mata dan menahan napas seketika. Aku mengira sebentar lagi nasibku akan berakhir. Sesaat sebelum mengintip apa yang ada di balik pohon berbatang besar itu, tiba-tiba seruan azan berkumandang. Begitu menggelegar. Bersahut-sahutan. Azan itu betul-betul kidung dari Surga yang menyelamatkan hidup kami pada sore itu.
Mendengar seruan itu, Mang Cecep segera pergi meninggalkan pohon nangka beserta dua bocah tengik yang tenggelam dengan rasa takut yang ada di baliknya. Mang Cecep tak pernah ketinggalan untuk berjamaah sembahyang petang di surau Al Waliyy bersama Kiai Barjo, yang anaknya nyaris diciduknya.
Ketika tubuh kurus itu semakin menjauh. Aku refleks segera melakukan sujud syukur penuh ketulusan. Sebagai ungkapan terima kasih pada Tuhan. Sialnya, aku lupa kalau ada seseorang yang masih mendekapku erat-erat.
Petaka iblis itu tiba. Ketika ku bergerak untuk bersujud. Si kecil milik Mahmud yang masih terhalang celana bola mengorek belahan pantatku sembari menyemburkan sesuatu yang membuat pemiliknya mendesah penuh perayaan. Demi Tuhan, itu merupakan hal yang teramat sangat menjijikan.
Aku lebih berharap jika Mang Cecep memergoki kami berdua. Aku lebih sudi, tangan legam yang uratnya menonjol itu membuat biru wajahku atau menanggalkan satu gigiku. Bahkan, aku lebih bangga jika golok tajam itu menghunus leherku.
Ya Tuhan, aku merasa seperti budak yang hina dina. Oleh ayahnya, aku diludahi. Oleh anaknya, aku dimuncrati. Jika diludahi merupakan berkat. Apakah dimuncrati adalah sebuah rahmat? Barangkali, isyarat aku akan dianugerahi sebuah keramat?
Ah sialan, aku menyesal telah menulis kisah memalukan itu.
Satu yang jelas, Mahmud anak Kiai Barjo itu masih menyukai wanita. Terbukti, di usianya yang baru beranjak dewasa ia sudah menikah dengan betina milik kiai daerah seberang. Desas-desus yang beredar, Mahmud dipaksa menikah karena ketahuan onani oleh ayahnya.
Soal dirinya yang kecanduan onani itu, sebetulnya akibat ulahku dan Budi Suap, anak Pak RT. Ah, nanti akan ku ceritakan. Pokoknya, apa yang terjadi padaku di pemakaman itu sebuah kecelakaan. Titik!
=====
Lama-kelamaan. Tak ada lagi yang istimewa dari pekerjaanku yang baru ini. Malah, aku cenderung merasa bosan. Karena, aku sudah berhasil membuat beberapa teks berdasarkan target yang dituju. Dan, terbukti jitu. Jika ia seorang pebisnis, maka teks bernuansa melipatgandakan keuangan yang aku pilih. Jika ia seorang yang sedang terikat pinjaman, maka teks bercorak melepaskan diri dari terlilit hutang yang cocok. Sedangkan, bagi seorang pengangguran, teks ketiga bertema kaya secara instan yang dipilih. Aku hanya tinggal salin dan tempel teks yang ada di aplikasi Notepad sesuai profil targetnya.
Ya, walaupun sesekali terdapat orang yang mampu mengendus upaya penjebakkan yang aku lakukan. Lalu, orang itu akan mendampratku demikian kerasnya. Sebelum, ia kemudian mengancamku untuk dilaporkan ke pihak berwenang. Aku tak takut. Karena, akun yang aku gunakan ini akun palsu.
Namun yang jelas, teks racikanku boleh dibilang ampuh. Bahkan, sekali waktu, aku sampai diajak panggilan video oleh beberapa petinggi bisnis haram itu.
Mulanya, aku sungkan karena tak bisa berbahasa Inggris. Namun, mereka menyediakan seorang penterjemah di ruang pertemuan virtual itu. Mereka menuturkan sangat bangga pada kinerja yang aku torehkan bagi perusahaan. Aku dianggap sebagai aset mereka. Hidung kecilku yang semula pesek, seketika mengembang dan mancung.
Tanpa diketahui oleh Firman, mereka menaikkan jabatanku.
Dari seorang admin menjadi seseorang yang mencari publik figur untuk diajak kolaborasi. Kolaborasi apa? Tentu saja agar si publik figur itu sungkan mempromosikan situs kami. Tanpa pikir panjang, aku menyetujuinya.
Karena, sebagai bagian kolaborasi, aku akan mendapatkan gaji pokok yang jumlahnya sangat besar. Ketika menjadi admin, aku tak memiliki gaji pokok. Aku hanya mendapatkan sejumlah uang, sesuai jumlah orang yang daftar melalui pranala yang aku miliki. Anggap saja aku saat itu adalah sales judol atau affiliator judol.
Memang ada bonus, tapi teramat kecil jika dibandingkan bonus yang diberikan ketika berhasil menggaet satu publik figur yang memiliki basis pengikut besar di sosial medianya.
Sesaat, setelah pertemuan itu selesai. Barulah aku memikirkan bagaimana caranya membuat publik figur tertarik dengan tawaran yang aku berikan. Terlebih, tawarannya itu mempromosikan situs judi. Aku tarik napas dalam-dalam. Terngianglah wajah boros Firman, lengkap dengan janggutnya, moncong dan letupan dahsyat ketika ia mengatakan, “Ingat, seorang miliuner pasti masih memiliki keinginan untuk tambah kaya. Terlebih, itu bisa didapatkan secara instan.”
Aku pun baru ingat, salah satu petinggi tadi mengatakan bahwa mereka berani membayar 2-3 kali lipat dari tarif promosi normal yang dipatok si publik figur. Terbesit lagi di pikiranku, petuah Firman tentang kerakusan. Bahwa, sekaya apapun seorang publik figur pasti tetap akan tergiur dengan duit yang banyak.